Rabu, 19 Maret 2008

Strategi Menghindar Burnout di Tempat Kerja

Istilah burnout secara psikologis pada awalnya digunakan oleh Freudenberger meminjam istilah yang pada awalnya digunakan pada tahun 1960 an untuk merujuk pada efek-efek penyalahgunaan obat-obat terlarang yang kronis. Deskripsi awal Freudenberger mengenai seseorang yang menderita karena sindrom burnout sebenarnya diawali pada dirinya sendiri. Freudenberger menggambarkan bahwa:


" ….dan anda menempatkan sebagian besar diri Anda di dalam pekerjaan. Anda secara gradual terbentuk di dalam lingkungan sekitar


Anda dan di dalam diri anda sendiri ada perasaan bahwa mereka membutuhkan anda. Anda merasakan sense of commitment yang utuh"


Burnout adalah suatu bentuk kelelahan yang disebabkan seseorang bekerja terlalu intens, berdedikasi dan berkomitmen, bekerja terlalu banyak dan terlalu lama serta memandang kebutuhan dan keinginan mereka sebagai hal kedua. Hal tersebut menyebabkan mereka merasakan adanya tekanan-tekanan untuk memberi lebih banyak. Tekanan ini bisa berasal dari dalam diri mereka sendiri, dari klien yang amat membutuhkan, dan dari kepungan para administrator (penilik/pengawas dan sebagainya). Adanya tekanan-tekanan ini, maka timbul rasa bersalah, yang pada gilirannya mendorong mereka untuk menambah energi dengan lebih besar. Ketika realitas yang ada tidak mendukung idealisme mereka, maka mereka tetap berupaya mencapai idealisme tersebut sampai akhirnya sumber diri mereka terkuras, sehingga mereka mengalami kelelahan atau frustrasi yang disebabkan terhalangnya pencapaian harapan, demikian penjelasan Freudenberger dalam sebuah buku yang ditulis oleh Farber, Stress and Burnout in the Human Services Profession.


Burnout pada pekerja pelayanan jasa kemanusiaan lebih sering dikaitkan dengan perasaan lelah secara fisik dan psikis. Bagi yang lain, gelisah dan tidak mampu tidur dengan baik adalah simpton yang umum dari kelelahan syaraf. Simpton yang berhubungan mencakup perasaan tegang dan tidak mampu untuk santai. Ciri umum burnout yang kedua adalah kecemasan yang mengambang. Individu yang menderita burnout tampaknya terayun-ayun di antara kecemasan dan depresi. Burnout terjadi akibat berubahnya kondisi psikologis pemberi layanan seperti perkerja pada pelayanan services sebagai akibat reaksi terhadap situasi kerja yang tidak menguntungkan. Wujud dari perubahan tersebut berupa kelelahan seorang pekerja yang merupakan kelelahan fisik (physical exhaustion), kelelahan emosional (emotional exhaustion), dan kelelahan mental (mental exhaustion) karena bekerja dalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional. Dalam arti lain, burnout secara esensial adalah hasil dari interaksi yang tidak menguntungkan antara pemberi pelayanan jasa dengan penerima layanan yang membutuhkan.


Apa yang dapat Anda lakukan untuk menghindar terjadi Burnout?


1. Pengendalian emosi. Banyak tugas dan permasalahan di tempat kerja memacu terbentuknya butiran emosi kecil yang secara terus menumpuk sehingga terbentuknya sebuah bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak. Berbagai permasalah termasuk konflik ditempat kerja membuat individu lebih agresif atau bersikap kekanak-kanakan (infancy) hal ini di akibatkan sulitnya berpikir secara jernih yang di akibatkan oleh penumpukan muatan emosi negatif.


2. Berpikir positif Salah satu tindakan dengan penerimaan diri dan orang lain akan membentuk kesadaran terhadap dunia kerja yang digelutinya. Berpikir positif akan membentuk stabilitas dan ketahan diri terhadap hal-hal yang dapat merusak citra dan kematangan emosi.


3. Identifikasi emosi. Artinya mengetahui hal-hal sebagai pemicu terbentuknya emosi negatif. Selanjutnya adalah dengan mengekspresikan secara tepat dan wajar yang dapat diterima secara sosial. Amarah pada dasarnya tidak bertujuan positif, melainkan dapat merusak muatan positif dari dalam individu. Ekspresi kemarahan tepat sasaran dan dalam waktu yang tepat pula akan membuat diri menjadi lebih tegar dalam menghadapi permasalahan secara terpisah. Banyak orang tidak dapat memisahkan satu permasalahan sebelumnya yang memacu pergejolakan emosinya dengan masalah yang timbul sesudahnya, akibatnya masalah kecil dapat menjadi masalah besar ketika masalah lainnya muncul.


4. Minat dan Gairah. Minat menandakan sikap realistis terhadap harapan dan aspirasi. Pekerja haruslah mempunyai minat dari dalam diri individu terhadap pekerjaan yang ditekuninya. Harapan berhubungan erat dengan minat, motivasi untuk menyelesaikan tugas dengan sebaiknya. Gairah merupakan energi yang harus dimiliki pekerja untuk menumbuhkan semangat dalam mengerjakan tugasnya. Lakukanlah semua pekerjaan dengan merasa tanpa beban.


5. Cinta. Pekerja workaholic sangat mencintai pekerjaannya. Cintailah pekerjaan Anda, dengan demikian beban dan dampak depresi dari pekerjaan yang menumpuk tidak akan mempengaruhi psikis diri Anda. Tidak perlu menjadi seorang workaholic, mencintai pekerjaan juga menumbuhkan rasa percaya diri bahkan motivasi Anda untuk melakukan tugas dengan baik.


Lakukan!


1. Lakukan segala sesuatu di kantor Anda di luar jam kerja, misalnya dengan membersihkan meja kerja. Kerapian dan kebersihan meja akan membuat Anda lebih semangat untuk bekerja.


2. Ambil cuti, pergilah berlibur bersama keluarga, dengan demikian akan mengurangi stres dan ketegangan selama kerja.


3. Ciptakan relasi yang akrab dengan semua rekan kerja Anda. Tidak perlu dengan orang tertentu saja, dengan demikian akan menciptakan suasana akrab dengan orang-orang disekeliling Anda dan pekerjaan itu sendiri.


4. Ikutlah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan tempat Anda bekerja, misalnya party time atau kegiatan olahraga


5. Berusalah menciptakan selalu suasana gembira dari dalam diri, apa pun yang Anda lakukan menjadi tetap ersemangat.


6. Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang Anda sukai, misalnya membaca, menulis dan sebagainya. [PD]

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon