Jumat, 25 April 2008

Wisata Imlek Komoro, Sambut Tahun Baru Imlek 2560

Pulau Komoro adalah pulau kecil yang terletak disebelah utara kota Palembang, Sumatra Selatan. Dipulau ini berdiri kokoh tempat sembahyang Tionghoa atau biasa disebut klenteng. Selain itu fasilitas Ibadah yang lain juga terlihat disekitar bangunan utama. Pada hari-hari biasa Pulau Komoro lebih dikenal sebagai salah satu tempat wisata, pemandangan cukup indah karena pepohonan cukup rindang dan sekeliling pulau dibatasi oleh pertemuan antara laut dan anak sungai Musi.



Pada setiap menjelang tahun baru Imlek maka pulau ini berbenah sedemikian rupa untuk menyambut kaum Tionghoa yang akan melakukan ritual sembahyang Imlek. Ritual ini bahkan sudah menjadi atraksi wisata yang ditawarkan secara khusus oleh Pemda Palembang. Upaya Penda dan panitia juga serius dengan mempersiapkan jembatan darurat menuju pulau Komoro. Jembatan ini terdiri dari beberapa kapal tongkang yang dijajar sehingga pulau tersambung dengan daratan Palembang. Kalau menyeberang dengan menggunakan perahu kecil biasanya menempuh waktu 5-10 menit.
Adalah pengalaman yang tak terlupakan pada tanggal 3 Maret 2007 saya dan beberapa rekan kerja menyaksikan perayaan Imlek dipulau ini. Ribuan masyarakat Tioangoa datang berduyun, antri untuk bisa bersembayang, membakar dupa, dan berdoa. Ritual lain juga terlihat melakukan pembakaran kertas-kertas yang berwarna kuning dan merah yang ditengahnya ada tulisan huruf Tiongkoknya. Ditungku pembakaran yang sudah disiapkan secara khusus para warga ibadah antri dengan tertib.

Terus terang, suasana yang saya lihat seperti yang sering saya lihat pada film-film andy Lau, Chou Yun Fa, karena begitu banyaknya warga Tioanghoa yang beribadah dan ritual yang dilakukan juga jarang saya lihat. Aroma dupa yang dibakar oleh ratusan orang tersebut seakan menjadikan pulau Komoro rasa dupa. Saya saat itu tertarik untuk menyaksikan drama klasik yang dimainkan langsung oleh artis dari negeri Tiongkok langsung. Seperti kesenian Ketoprak Jawa tapi bahasanya jelas Mandarin, tata panggungnya juga cukup bagus dan klasik.


Tahun Baru Imlek memang merupakan sebuah perayaan besar bagi masyarakat Tionghoa, Terlihat hiasan lentera merah bergantungan disemua sudut, bunyi petasan juga menjadi atraksi khusus yang menarik. Peragaan barongsai juga terlihar didua sudut pulau Komoro. Menurut penjelasan salah satu pengunjung, masyarakat Tionghoa umumnya akan menempel gambar Dewa Penjaga Pintu pada hari-hari perayaan Imlek dirumah masing-masing.


Tahun Baru Imlek merupakan salah satu hari raya Tionghoa tradisional. Menurut penanggalan Tioanghoa maka perayaan Imlek jatuh pada hari pertama dalam bulan pertama, tepatnya jatuh pada hari terjadinya bulan baru kedua setelah hari terjadinya hari terpendek musim dingin (Latin: solstitium, bahasa Inggris: solstice). Perkecualian apabila ada bulan kabisat kesebelas atau kedua belas menuju tahun baru, maka tahun baru Imlek akan jatuh pada bulan ketiga setelah hari terpendek, (akan terjadi tahun 2033). Hari raya ini juga dikenal juga dengan sebutan Ch?njié (Festival Musim Semi), Nónglì X?nnián (Tahun Baru), atau Guònián.


Di Indonesia, selama 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek. Kebebasan merayakan tahun baru Imlek hadir pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional.


Selamat merayakan Imlek untuk saudara-saudara Tionghoa, (Sha 5 W).

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon