Rabu, 02 Juli 2008

Tengker Naik Motor di Timor Tengah Selatan (TTS)

Hari kedua dari rangkain kegiatan perjalanan dinasku di NTT, tepatnya pada hari Jum’at Tanggal 27 Juni 2008, aku isi dengan aktifitas seharian penuh menjelajah Kota Kupang menuju Kota Soe, Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS). Tujuan utamaku adalah untuk mengunjungi salah satu kelurahan, dan berdiskusi dengan para pelaku masyarakat maupun Konsultan patner kerjaku. Alhamdulilah setelah ”tetek bengek” perihal pelaksanaan tugas sudah kelar aku jalankan maka saya dan rombongan bergegas untuk kembali ke Kota Kupang. Mengingat jalur Kupang-TTS agak berkelok-kelok dan kalau malam masih gelap gulita maka pulang sebelum malam tiba adalah pilihan bagus menurutku.


Di iringi oleh mentari terbenam diufuk barat, sebelum meluncur ke Kota Kupang, kendaraan yang kami tumpangi mampir dulu ke Pertamina (sebutan orang Soe untuk stasiun pompa bensin). Ditengah kepenatan karena antrean panjang,.....aku terperanjat ketika melihat seorang anak muda menjalankan motor bututnya hanya dengan mengayuhkan (menjejagkan) kaki kebelakang. Rasa letih dan cape’ku mendadak musnah, kesegaranpun hampiriku. Aku bagaikan mendapat hembusan angin sepoi dari surga, ketika pemuda tadi semakin mendekat ke kendaraan yang saya tumpangi.


 roland-soe-29-juli-2008.jpg Saya segera menyabet kamera di pinggang dan turun untuk menghampiri pemuda tersebut. wow..owo..w ternyata apa yang saya lihat luar biasa, si pemuda (Roland) memodifikasi tangki bensin motornya, dengan menumpuk dan menggandengkan dua buah tangki sehingga bisa memuat bensin yang lebih banyak, 30-an liter. Saat saya tanya kenapa tangki bensinya jadi demikian, dengan lugas Roland menjawab: ” katong harus ini lakukan, karena aturan dari pemerintah bikin katong tak bisa makan lagi, katong hanya jualan minyak eceran selama ini. Kalau kaya ini kita tidak langgar itu peraturan, keluarga tetap makan karena bisa terus jualan minyak.”


Jawaban yang disampaikan bagi saya penuh makna, dan pesan moralnya: sebuah perlawanan terhadap kebijakan pemerintah, apapun akan dilakukan demi keberlangsungan hidup diri dan keluarga. Untuk keluar dari dua hal itu dapat teratasi dengan kecerdikan dan kearifan ala Roland.  Mencari solusi atas beberapa persoalan tidak harus dilakukan dengan membabi buta, namun inovasi dan kreatifitas akan menjadi jawaban yang dekat dengan kemenangan.  Andaikan saja tangki yang 1000 liter bisa naik dimotor tentu kebijakan yang mengaturnya akan berbunyi lain, namun kalau tangki yang naik hanya 30 liter maka petugas pompa bensinpun tak menemukan sandaran yuridis untuk menolaknya.


Setelah masuk antrian dan mengisi tangki motornya penuh, Roland tak kunjung menyalakan mesin motornya, aku bertanya-tanya dalam hati. Beberapa saat kemudian dia kembali mengayuh tengker motornya dengan kaki dan menuju seberang jalan dari POmpa bensin. Beberapa saat kemudian aku hanya bisa tersenyum sendiri, melihat diseberang jalan ada beberapa drum kecil (200 liter) telah menunggu Roland. "o...oh ternyata dia lagi mengisi tengkernya disana", gumamku.


Apapun motif dan latar sosial kejadian ini saya cuex bebex, saya hanya bisa ucapkan Selamat atas kecerdasan "sosial-ekonomi" sang Roland. Perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang mempunyai implikasi langsung pada sosial ekonomi masyarakat melahirkan sebuah "kreatifitas". Dalam konteks ini menurutku ada dua hal penting yang bisa didiskusikan: 1. apakah roland melakukan sebuah pelanggaran hukum positif(peraturan terkait)?. 2. apakah peraturan yang berkaitan yang lebih dulu melanggar area keadilan sosial-ekonomi Roland?  OK, kita jadikan bahan belajar dari anak bangsa ini, semoga kita bisa temukan kecerdasan lokal yang lainnya diwaktu dan tempat yang berbeda.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon