Jumat, 08 Agustus 2008

Sakit Stroke Sembuh, Karena Kegiatan Fogging

sakit stroke sembuh Sakit stroke sembuh adalah tema yang akan dibahas pada tulisan kali ini. Paree, sebuah nama yang dahulu biasa diucapkan oleh para menir Belanda untuk menyebut daerah ini. Selain merupakan satu-satunya kelurahan diantara sekian jumlah desa yang ada di kabupaten Kediri, wilayah ini juga merupakan situs utama dari penelitian Clinford Geertz yang dilakukan puluhan tahun yang silam. Menurut guru Sosiologi penulis semasa SMA, bapak Clinford Geertz dalam penelitian tersebut mampu memotret realitas sosial dari masyarakat Jawa, salah satunya tentang adanya struktur sosial umat Islam yang dipilah menjadi tiga kelompok yaitu: santri, priyayi dan abangan.


Thesa ini cukup brilian dalam perkembangan sosiologi yaitu keberhasilanya dengan akurat memotret realitas sosial masyarakat Jawa. Teori ini cukup lama menjadi kajian ilmiah oleh kalangan kampus di Amerika dan di Indonesia. Ditahun 2006, kelurahan Pare yang berpenduduk 21 ribuan jiwa ini kembali menorehkan sejarah dengan “menemukan” formula obat untuk penyakit yang sekarang banyak digandrungi penghuni planet bumi tercinta.


Stroke –orang biasa menyebut-- merupakan gejala penyakit yang kompleks dan telah memakan banyak korban dalam satu dasawarsa terakhir, selain beresiko tinggi akan kematian gejala penyakit stroke juga dikenal sangat mahal obatnya. serangkaian aktifitas masyarakat terkait Sakit stroke sembuh akan kita dalami dalam sajian ini.


Dalam kegiatan P2KP yang merupakan implementasi dari dana BLM, tanpa sengaja 3 orang relawan telah menemukan “obat” penyakit ini, spektakuler, sangat mujarab bahkan telah terbukti Sakit stroke sembuh. Mau tahu? Simak true story berikut!...


Salah satu kegiatan untuk implementasi BLM dikelurahan Pare adalah dilakukan pengasapan nyamuk demam berdarah (DB) pada kampung yang menjadi kantong-kantong keluarga miskin. Kegiatan ini disambut antusias oleh warga, karena tiap rumah KK miskin hanya dikenakan biaya swadaya 3.000, lebih murah dari pelayanan puskesmas 7.500/rumah. Ditambah lagi jenis obat dan campurannya lebih yahud dan dapat dibuktikan dari penyemprotan di RT-RT sebelumnya sampai mematikan kecoa dan cicak. Operasi pengasapan kepanitiaan juga bekerja sama dengan pengurus RT untuk mengkondisikan kesiapan lokasi dan menggerakkan swadaya warga.


Pagi itu panitia Fogging DB mendapatkan order di lingkungan Sandingsari RT 2 RW 5, RT ini cukup padat karena terdiri dari 139 KK (116 rumah).


Setelah ketua RT bapak Suyono memberikan pengumuman kepada warga untuk bersiap-siap bila ada pengasapan, keluar rumah untuk sementara, menutup apa yang perlu ditutup, membuka pintu dan jendela, mengungsikan bayi atau orang sakit, dll. Cuaca pagi itu agak mendung namun ketiga petugas punya tekad untuk tetap melakukan pengasapan. Daya mesin fogging yang cukup besar serta asap yang dikeluarkan cukup muleq (pekat, bergulung) maka panitia bersepakat untuk efisien dan efektif dalam bekerja, tidak mematikan mesin, bergerak terus tanpa henti agar obat dan BBM dapat fungsional.


Seolah tak mau kalah dengan Jihadnya Amrozi dan Imam Samudra (haha..), maka ketiga petugas juga mengusung semangat “Jihad” untuk membunuh nyamuk DB yang ada dikampungnya. Rumah demi rumah dilahap, kampung Sandingsari pun berubah seperti "dikondomi" oleh asap putih laksana kabut dipegunungan (asapnya tetap Pro Poor lho!, hi.. hii..). Dalam setiap aksi penyemprotan panitia menugaskan tiga orang petugas, Muji sebagai pemandu dan membuka jalan, Akin bertugas untuk membawa mesin Fogging dan Tauf membawa jurigen BBM. Ketiganya berpindah dari rumah satu ke rumah lainnya, dengan pakaian ala sosok ninja Jepang, hasilnya ratusan ribu nyamuk yang ada di 100-an rumah akhirnya jatuh tersungkur.


Menjelang tengah hari, giliran mengasapi sebuah rumah mungil dan sederhana yang dihuni oleh mbah Jan (bukan nama sebenarnya) beserta istri tercinta bu Lin. Saat itu rumah mbah Jan masih nampak tertutup, karena mesin terus menderu dan tuntutan untuk efektif dan efisien, ditambah lagi pak RT sudah memberi pengumuman agar semua warga keluar dari rumah, maka tanpa pikir panjang Muji yang ditugasi sebagai pembuka jalan berinisiatif untuk membuka pintu rumah tersebut. Layaknya adegan dalam film Rambo yang menyergap persembuyian Vietkong, sedetik kemudian Akin masuk dengan sigap sambil menembakkan senapan asapnya.


Langkah “pasukan asap” terhenti karena langkahnya menemui sesuatu, Masya Allah x33, dengan gamblang (transparan dan akuntabel) terlihat mbah Jan (52 tahun) sedang beradegan 17 tahun keatas alias bersetubuh dengan istrinya bu Lin (42 tahun). Secepat sambaran petir mbah Jan meloncat dari arena peraduannya, ditengah kepanikannya untuk mencari kain penutup, sampai-sampai salah ambil karena yang ditariknya adalah korden jendela kamarnya, karena kecantol dan susah ditarik akhirnya mbah Jan berlari tanpa selembar kainpun.


Di sisi lain, di tengah termangunya ketiga petugas, Akin --sebagai mantan guru agama di Tsanawiyah, biasanya agak moralis-- merasa terpangil dan berinisiatif untuk menutup peristiwa ini dengan kepulan asap dari mesin Foggingnya, “kalau diasapi maka adegan tersebut tidak terlalu terlihat vulgar,” pikirnya. Melihat asap yang diarahkan pada kedua insan ini, bu Lin yang lebih dua tahun terakhir mengalami kelumpuhan karena terserang stroke, tanpa menunggu perintah pak RT, bu Lin langsung menyambar kain sarung disampingnya dan meloncat berlari kearah sumur dibelakang rumah, sambil berteriak: “wauw wow wau piye iki, piye iki?” (bagaimana ini?).


Muji, Akin dan Tauf pun bingung, melongo dan saling pandang, mereka pun akhirnya keluar rumah, dan meminta maaf pada mbah Jan, “sepuntene ingkang katah mbah, sa’estu kulo mboten sumerap” (mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena benar-benar tidak tahu) : teriak Akin.


“ora opo-opo, terusno wae” (teruskan saja, tidak apa-apa) :jawab mbah Jan dengan malu-malu. Beberapa tetangga yang menyaksikan peristiwa ini pun tertawa kecil sambil berucap: “eh..walah mbah Jan, cik sempat-sempate” (wah, mbah Jan kok masih sempat-sempatnya). Yang unik adalah apa yang dialami oleh bu Lin, karena sudah dua tahun lebih badanya lumpuh karena terserang penyakit stroke ternyata dalam hitungan detik Sakit stroke sembuh, kakinya cukup kuat menahan berat tubuhnya bahkan untuk berlari kebelakang rumah.


Sebulan yang lalu penulis sempat bertemu dengannya, beliau sudah nampak sumringah, sehat dan nampak telah benar-benar Sakit stroke sembuh. Saat ditanya seputar peristiwa Fogging DB, “hi.. hii.. ” :jawabnya sambil tersipu malu.


Menurut ibu kira-kira apa yang bisa membuat ibu bisa sembuh? “kulo piyambak mboten sumerap mas, taunan berobat dateng griyo sakit, pijet refleksi, minum jampi, ngih mboten saras, sak mantune niku dalem keringeten katah sanget, inggih Alhamdulillah saget saras” (saya sendiri tidak tahu mas, sudah bertahun-tahun saya berobat ke rumah sakit, pijat refleksi, dan minum jamu, tidak juga sembuh, tapi setelah kejadian itu saya langsung berkeringat banyak sekali dan Alhamdulilah Sakit stroke sembuh), jelas bu Lin.


Setelah kejadian tersebut dalam pertemuan dengan beberapa relawan dikelurahan ketiga petugas Fogging bercerita pada sesamanya, hampir semuanya tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Akin. “ijek untung jenengan ora dilaporno mbah Jan nang Komnas HAM”, (masih untuk tidak dilaporkan mbah Jan ke Komnas HAM), Imbuh bu Elly –relawan-- pada Akin. Diskusi mereka berujung pada pertanyaan tak berjawaban yaitu: selain hidayah dari Allah, hal rasional apa yang kira-kira mampu membawa Sakit stroke sembuh bu Lin???


Kejadian tersebut patut kita syukuri bersama karena out-come dari pembelajaran masyarakat melalui siklus BLM telah terbukti membawa perubahan berarti dan nyata dirasakan oleh masyarakat miskin (menurut PedUm). Pertanyaan besar bagi kita, apakah logis dan ilmiah apabila ada yang mengalami Sakit stroke sembuh dengan bersetubuh, diasapi Fogging DB, dihentikan mendadak, dan diakhiri dengan berlari sambil berteriak?. Memang perlu penelitian lanjutan, tapi setidaknya P2KP telah memberikan kontribusi dibidang kesehatan, minimal sebagai ikhtiar untuk mencari pengobatan alternatif (he.. he).


Menurut hemat penulis, hanya para ilmuwan fisika, kimia, sosial, dll yang masih ditemani kesetiaan untuk mengamalkan nilai-nilai universal yang bisa menjawab hal ini Sakit stroke sembuh. Wallahu ’allam bi showabi.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon