Minggu, 17 Agustus 2008

SORONG, Kemajemukan Di Timur Indonesia

Masih teringat olehku ketika aku menerima tugas untuk menjadi pemandu pelatihan dikota Sorong, tepatnya pada pertengahan Mei 2007, tanpa ba...bi...bu: ”siap pak, saya siap berangkat” jawabanku atas tawaran penugasan dari pimpinan. Hal ini semata terdorong keinginan untuk segera menapakkan kaki di tanah air bagian Timur tersebut. Salah satu mimpiku saat masih duduk di kelas 2 SD adalah mengunjungi semua propinsi di bumi nusantara ini.


Subuh, 20 Mei 2007 tepatnya pukul 05.15 WIB, pesawat yang aku tumpangi take off menuju Sorong, setelah mengelinjang-ngelinjang selama 2 jam diudara akhirnya mendarat untuk sekedar transit dikota Makasar.  Dua jam kemudian perjalanan dilanjutkan menuju kota Sorong.  Alhamdulillah sekitar 13.30 WIT pesawat akhirnya mendarat di Bandara Kota Sorong, akhirnya kedua kaki menapak dibagian bumi Cendrawasih, meskipun sudah menjadi propinsi tersendiri: Irian Jaya Barat.


Hari yang menyenangkan dengan sambutan hangat teman-teman KMW yang ditugaskan di Sorong, mayoritas teman-teman ternyata pendatang juga dari Jawa. Rombongan bersama-sama menuju kantor KMW, yang belum lama ditempati karena mobilisasi personil juga masih beberapa hari sebelumnya. Sambil menikmati udara siang Kota Sorong kami melakukan rapat teknis persiapan pelaksanaan pelatihan yang direncanakan dilakukan selama 12 hari, yaitu 21 Mei sampai dengan 1 Juni 2007.


Malam harinya, beberapa teman KMW mengajak makan malam, tanpa dikomando akhirnya mobil menuju ke pantai, kilauan ombak nan putih menyambut kami, suara deburan ombak disertai angin pantai menemani untuk menuju warung langanan teman-teman. Wow..wow dahsyat menunya, aku langsung pesan rajungan.....udah lama gak makan nich.. (mahal sih..hehehe). Makan malam yang top abis....semua bertempur menaklukan gundukan nasi dan ikan laut.


Sesudahnya menikmati menu kulliner Sorong saya diajak teman-teman untuk keliling kota, kami melewati kawasan pertokoan, pemerintahan, dan pemukiman. Konon biaya membangun infrastruktur agak mahal namun terlihat dibeberapa titik gedung-gedung bertingkat 3,4,bahkan 5. Malam itu saya hanya bisa komentar ” ternyata sorong rame juga ya!. semula aku menduka hanya akan melihat hutan belantara ternyata disini gak kalah rame dibandingkan kota Kediri, atau Kota Pekalongan”.


Laut terdalam, demikian arti kata sorong dalam bahasa Biak. Orang Biak adalah yang pertama kali menemukan daerah Sorong sebelum Belanda tiba di Papua. Di masa selanjutnya, sebuah perusahaan minyak Belanda memulai eksploitasi minyak di Klamone dan membangun permukiman di Sorong. Sejak itu, Sorong yang letaknya berada di Kepala Burung Pulau Papua menjadi pusat kegiatan dan pintu gerbang masuk dan keluar Papua.


USIA Kota Sorong masih relatif muda, ditetapkan sebagai kota pada 28 Februari 2000. Sorong menjadi bagian dari Propinsi Irian Jaya Barat . Julukan Kota Minyak yang melekat sejak tahun 1947 menjadi salah satu bukti bagaimana kota ini sejak dulu telah berperan sebagai home base bagi perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sorong. Saat ini pun, ada 350 sumur minyak yang diolah di wilayah Kabupaten Sorong, sementara pelabuhan ekspor minyak serta sejumlah tangki penampung berada di Kota Sorong.


Dimulai 21 Mei sampai dengan 1 Juni 2007 saya bersama seorang teman KMP: Ibu Galuh memfasilitasi pelatihan dasar fasilitator. Dengan dibuka oleh Kepala Bappeda Kota akhirnya pelatihan dapat diikuti oleh sekitar 35 orang peserta. Surprise bagi saya adalah melihat keragaman peserta, selain suku asli ternyata di Kota Sorong banyak pula warga pendatang, umumnya mereka dari suku Jawa, suku Batak, Suku Bugis, suku Ambon,Orang Buton, dll. Adalah menyenangkan berinteraksi dengan peserta a.l: AMINADAP ATKANA, APOLOS YUMAME, NICOLAS KARUBABA, SYILVIA IVONE, ROBERTUS REVO BAKTI FRANK, MARIJANA, ELISABETH KAINAMA, FAUJIAH HELGA TAMPUBOLON, FRISKA DEWI SIBURIAN, IMELDA SUSAN LITAAY dll.


Berinteraksi untuk belajar bersama selama 12 haru tentu memberikan kesan, kenangan, yang segumpal, he..he. Dengan segela keterbatasan dan kekurangan akhirnya proses pelatihan bisa kita lalaui bersama. Beribu maaf untuk teman-teman yang belum bisa masuk untuk dimobilisasi kelapang karena keterbatasan-keterbatasan. Semoga lain waktu bisa bergabung untuk mendampinggi penanggulangan kemiskinan di kota Sorong.


Ada kenangan lain selama dikota ini adalah sewaktu melakukan sholat Jumat 25 Mei 2007, dimasjid Agung Kota Sorong, kebetulan yang memberikan Kutbah adalah bapak. Hidayat Nur Wahid. Kekaguman saya akan adanya masjid yang cukup besar di bumi Papua, semakin menebal manakala jama’ah yang mengikuti sholat ternyata memenuhi sampai meluber ke teras Masjid. Semangat ke-Islam-an yang ditunjukkan warga semoga semakin memperkokoh tegaknya panji-panji kemajemukan bangsa ini. Saling menghormati, saling bekerjasama adalah ajaran adiluhung dari nenek moyang yang terus kita jaga untuk mempertahankan NKRI.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon