Kamis, 23 Oktober 2008

Valentine Day, Cinta, Kasih, dan Sayang

SUDAH menjadi tradisi di kalangan muda, bahkan juga menjangkiti kalangan tua, yang merayakan 14 Februari sebagai hari kasih sayang dunia. Namun tak jarang dari mereka justru belum mengerti mengapa dan ada apa sesungguhnya sehingga 14 Februari itu diperingati sebagai hari Kasih Sayang se-Dunia. Ironisnya, momentum yang seharusnya lebih dekat pada upaya mendorong semangat keimanan dalam agama, sekarang telah berubah menjadi ajang yang kerap jauh dari nilai-nilai agama.


Valentine day (VD) ditradisikan sebagai sebuah hari di mana pergaulan bebas ‘dibolehkan’, foya-foya dilaksanakan atas nama kasih sayang. Karena kini VD tak lagi memandang batas agama sebagai suatu yang sakral, tak lagi diperingati sebagai momentum agama tertentu, tapi sudah bersifat universal. Para ABG di Indonesia, umumnya di kota-kota besar, bahkan kerap banyak juga yang beranggapan bahwa momentum ini adalah sebuah kesempatan untuk melalaikan tugas mereka yang sebenarnya, yakni belajar dan mempersiapkan masa depan hidupnya. Menurut catatan sejarah, Valentine atau Valentinus sebenarnya adalah nama seorang Martyr, yakni seorang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya (The Standart International Dictionary, XVIII, p. 5090). Valentine ini karena kegigihannya mempertahankan ajaran agamanya diberi gelar Saint atau Santo (St), mempunyai tempat istimewa di dalam ajaran agama Kristen. St Valentin karena menentang Kaisar Claudius II –rezim Romawi saat itu–, akhirnya dihukum dan dibunuh pada abad ketiga (14 Februari 270 Masehi). Karenanya kemudian Valentine ini lantas dijadikan simbol bagi ketabahan, keberanian, kesungguhan dan kepasrahan seorang Kristen menghadapi realitas hidupnya. Namanya sampai sekarang dipuja dan diagungkan dan hari kematiannya diperingati oleh para pengikutnya dalam setiap upacara atau seremoni keagamaan yang dianggap sesuai dengan peristiwa tragis itu.


Perlu diketahui bahwa Romawi pernah diperintah oleh Kaisar Claudius II, Kaisar kejam yang membatalkan semua pertunangan dan perkawinan di Romawi demi kebesaran kekuatan militernya.  Saat itu, Santo Valentine (seorang pastor) bersama dengan Santo Marius dan para Martir Kristiani lainnya menikahkan pasangan Romawi secara sembunyi-sembunyi.  Saat Kaisar tahu, Santo Valentine dihukum secara kejam, mereka dipukul dengan tongkat sampai mati dan dipenggal kepalanya. Hukuman ini terjadi pada tanggal 14 Februari ketika orang-orang Romawi mempersiapkan festival Lupercalia (Supercalia).


Jadi, untuk mengenang jasa dan pengorbanan Santo Valentine serta menghormati tradisi rakyat, para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine. Sehingga sampai sekarang, hari tersebut dikenal sebagai hari Valentine (www.bconnex.net/~mbuchana/realms/valentine/history.htmlartir). Pada catatan yang lain, 14 Februari  adalah hari untuk menghormati Juno di masyarakat Romawi kuno. Juno adalah ratu para dewa dan dewi Romawi. Dia juga dikenal sebagai Dewi Para Perempuan dan Perkawinan.  Hari berikutnya, 15 Februari, adalah festival Lupercalia. Festival itu ditandai dengan sebuah kegiatan yang cukup menonjol, yakni acara penarikan nama.  Pada malam sebelum festival, nama-nama dari gadis-gadis Romawi ditulis pada secarik kertas dan dimasukkan ke dalam wadah. Para pemuda itu nantinya akan mengambil secarik kertas dan menjadi pasangan selama festival dengan gadis yang namanya terpilih. Sering kemudian pasangan antar muda-mudi yang didapatkan dalam festival tersebut kemudian saling jatuh cinta dan pada akhirnya mereka pun menikah.


Festival ‘mencari jodoh’ ini akhirnya berkembang sampai sekarang, dan menjadi acara yang paling menonjol dalam memperingati VD. Yang ada bukan memetik pelajaran dan refleksi tentang kematian sang Valentin itu sendiri melawan sebuah kekuasaan yang menindas rakyatnya. Tradisi kepercayaan ini kemudian berkembang menjadi pemahaman umum bahwa sebaiknya para pemuda mencari seorang pemudi untuk menjadikan pasangannya dan sebaliknya, pada 14 Februari itu pula.


Bersamaan dengan itu pula, mereka menyarankan untuk saling tukar tanda mata atau cadeau (kado) sebagai lambang terbinanya kasih sayang di antara mereka. Sedangkan Valentine ini sendiri lebih dipopulerkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk Greeting Card (kartu ucapan selamat) terutama setelah berakhirnya Perang Dunia Pertama (The Encyclopedia Americana, XXVII. p. 859).Bahkan selama Abad Pertengahan, ada kebiasaan populer yang dilakukan pada tanggal 14 Februari di mana burung-burung mulai berpasangan.  Kebiasaan tersebut adalah menulis surat cinta kepada kekasih dan mengirimkan benda-benda ungkapan kasih sayang menjadi lebih populer sekitar abad 14 dan 15, suatu situasi di mana kesusastraan Inggris dan Perancis mencantumkan alusion kebiasaan hari Valentine.


Demikianlah lama kelamaan nama dari seorang yang bergelar Santo Valentine itu akan jauh bergeser dari semuanya. Banyak orang yang memperingati hari ini hanya akan menyebut namanya lewat Greeting Card. Pesta persaudaraan, tukar tanda mata, tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang berumur lebih dari 1700 tahun yang lalu itu. Padahal sebenarnya di dalamnya banyak terkandung peristiwa memilukan perlawanan dan pengorbanan seorang pastor untuk membela hak-hak masyarakatnya. Di dalamya tentu menyimpan sebuah proses perjuangan yang sangat hebat, apalagi dilakukan oleh seorang pemuka agama.Apa yang terjadi sekarang sekiranya memerlukan refleksi secara serius dan universal. Mengingat VD tidak hanya dirayakan oleh satu pemeluk agama tertentu saja, melainkan hampir sudah bersifat umum. VD menjadi sebuah trend di kalangan muda-mudi yang memadu kasih. Bagi siapa saja yang berniat merayakan atau memperingati setidaknya bisa memaknainya lebih jauh lagi. Tidak hanya sebatas pada memadu kasih antar lawan jenis, tapi juga bisa ditingkatkan menjadi antarsuku, antaretnis, antaragama, antarkebudayaan dan sebagainya.


Pemaknaan yang demikian bersifat mengembalikan dan mendefinisikan secara sebenar-benarnya dalam memperingati kematian pastor Valentin itu.Pemaknaan yang demikian juga bisa meningkatkan rasa persaudaraan di Indonesia di mana peperangan dan perseteruan menjadi momok yang paling seru di era reformasi ini. Universalitas makna kasih sayang juga perlu ditingkatkan, bukan hanya untuk keperluan agama yang bersangkutan, melainkan juga untuk agama lain. Dengan demikian hubungan antaragama pun akan berjalan harmonis dan memiliki tenggang rasa yang cukup tinggi.


Pengembalian makna VD ini penting mengingat pluralitas agama, suku dan etnis di Indonesia sangatlah beragam. Jika hanya dimaknai menurut kepercayaan agama tertentu, sementara para pemeluk agama lain sudah terlanjur mempercayainya sebagai hari kasih sayang dunia, hal ini tentu merupakan egoisme suatu agama tertentu. Lebih-lebih, VD tidaklah menyangkut aqidah atau keimanan pada Tuhan untuk sebuah agama tertentu. Akan tetapi merupakan suatu bentuk peristiwa dunia yang patut mendapatkan perhatian dari sebuah rasa yang disebut sebagai, kemanusiaan.


Para pelaku P2KP sangatlah mulia manakala dengan santun menyambut datangnya ritual kemanusiaan yang masih memerlukan penegakan, perjuangan untuk mendudukkan universalitasnya pada maqomnya. Insyaf dan sadar diri dan hati akan hal ini tentunya kita semua akan berharap lahirnya sebuah kedewasaan dalam “bergaul” dengan anak bangsa yang lainnya. Faham kedaerahan, sukuism, etnism, dll dalam frame yang sempit hendaknya sudah harus kita tanggalkan bersama tenggelamnya pendulum sejarah yang pernah memberhalakan akan hal tersebut. Maju terus bangsaku. (Sha 5 W)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon