Rabu, 19 November 2008

SABANG, Pesona Surga Indonesia

….. bagai menikmati surga ketika pandangan mata ini berselancar memandang keelokan alam Sabang.  Seakan menyusuri sexy-nya kelokan garis pantai yang indah, air laut nan biru dan nampak bersih.  Di sini aku temui terumbu karang yang masih perawan, hijau tumbuhan lautnya melambai-lambai seakan memanggilku, pepohonan pantai menjadi pemandangan yang sejukkan hati. Semuanya seakan menyambut kehadiranku dengan tangan terbuka dan bersahabat, ….. sugeng rawuh….. Subhanallah hari ini aku telah diperlihatkan sebagian keindahan surga ….


Sejarah sabang diawali oleh karena posisi geografisnya yang sangat strategis bagi jalur pelayaran dunia, sehingga Sabang telah dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station dan dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881.  Pada tahun 1887, sebuah Firma Delange dan dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan.  Pada era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station dan kemudian lebih dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij. Pada perang Dunia II ikut mempengaruhi kondisi Sabang dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibombardir pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup.


Sepenggal kesaksian saat berkunjung di NAD pada tanggal 15-18 Juli 2008,  mendapat tugas kantor consultan untuk melakukan supervise kegiatan,  rasanya membuat gembira dan bersemangat, karena seumur hidup aku belum pernah menginjakkan kaki di bumi Serambi Mekkah. Rencananya aku melakukan serangkaian kegiatan di kota Banda Aceh dan Kota Sabang.


Siang hari pada tanggal 15 Juli 2008 aku berangkat ke Cengkareng, tepat pukul 16.00 WIB, pesawat Garuda take off, beberapa saat kemudian  aku terlelap pulas (he..he..mungkin ngorok juga).  Aku terjaga menjelang pesawat landing di Polonia Medan pukul 18.50 WIB. Setelah transit beberapa menit, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat Lion pada 20.50 WIB. take off  menuju Banda Aceh. Kebetulan cuaca agak kurang bagus, sepanjang perjalanan sempat was-was juga, aku hanya bisa berdoa, Alhamdulillah tepat pada pukul 21.40 WIB., akhirnya tiba juga dibandara Iskandar Muda.


Setelah dijemput oleh patner kerja, Bapak Jumhadi, dan Imam Baihaq, HP saya berdering, dan pangilan seorang rekan lama masuk. Kebetulan rekan tersebut sedang pelatihan Di Banda Aceh, maka  kami bertemu untuk makan sate khas Aceh dan juice terong Belanda. Lokasi makan ini ada ditaman kota, ratusan kursi berjajar dan hampir penuh dengan pengunjung. Pemandangan sekitar memberikan kesaksian  sudah tidak menampakan bekas bencana Tsunami.


Keesokan harinya, 16 Juli 2008 adalah melakukan supervisi kegiatan pelatihan yang dilakukan Pemda Kota Banda Aceh. Setelah silaturahim dengan Kepala Bapekot, maka dilakukan diskusi dengan beberapa personil Bapeda dan dinas/instansi terkait. Setelah sekitar 2 jam berdiskusi kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke salah satu lokasi Program yaitu kelurahan (Gampong) Lam Ara. Sekitar Pukul 16.00 WIB kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan kerja  dikelurahan Lambhuk.


Diskusi berlangsung menarik karena banyak fenomena sosial yang tidak ditemukan ditempat lain di Indonesia. Bagaimana masyarakat merespons sebuah pendekatan pembangunan yang mengunakan strategi pemberdayaan masyarakat, dll. Kesiapan kelembagaan masyarakat lokal dan peran struktur sosial yang berpengaruh di masyarakat. Masyarakat mengakui adanya distorsi pada nilai-nilai sosial yang dulunya pernah tumbuh subur seperti gotong royong, saling bantu membangun rumah , dll.


Pagi hari tanggal 17 Juli 2008 sekitar pukul 09.00 WIB dilakukan perjalanan ke Kabupaten Sabang dengan menggunakan Kapal Laut, dan perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Kapal penyebrangan cepat dengan tarif Rp. 80.000,- membawa aku dan rekan Juhmadi menyusuri lautan. Hari itu ombak lumayan besar sehingga kapal lumayan keras berguncang, beberapa penumpang terlihat mabuk berat. Aku dengan santai menikmati pemandangan lautan yang biru dan sesekali komat-kamit membaca doa agar diberikan keselamatan. Alhamdulillah satu jam kemudian kapal merapat kepantai Sabang.


Kegiatan resmi selanjutnya dilakukan dengan diisi dengan silaturahim dengan Kepala Bappeda Kota Sabang, kami berdiskusi tentang peran Pemda dalam Penanggulangan kemiskinan, termasuk detail tentang proses pelatihan yang pernah dilakukan. Disela-sela itu juga kita berbicang santai tentang keindahan Sabang, potensi, dan visi ke depan sebagai pelabuhan internasional yang strategis.


Setelah rehat siang kegiatan dilanjutkan dengan melakukan kunjungan ke Kelurahan Jaboi, Diskusi dilakukan dengan beberapa orang relawan masyarakat. Sekitar Pukul 16.00 WIB kegiatan selanjutnya dilakukan dengan kunjungan lapangan ke salah satu kelurahan yaitu Iboih Kec. Sukakarya. Kunjungan ke dua kelurahan  ini dilakukan dengan melakukan pertemuan dengan keuchik (lurah), tokoh masyarakat, CSO’s, dan masyarakat. Program pembangunan yang mengedepankan partisipasi, membangun keswadayaan, pemberdayaan, direspon masyarakat secara beragam. Hal yang special dibandingkan dengan wilayah lain adalah persepsi masyarakat terhadap pelaku pembangunan ádalah pemerintah an sich.  Keterlibatan mereka dalam proses masih membutuhkan keberadaan insentif matrial, sehingga keswadayaan masyarakat masih dalam ruang yang sempit.  Realitas social yang demikian tentu bisa dimaklumi karena trauma pendekatan pemerintah pada masyarakat pada dasawarsa sebelumnya. Disamping itu pasca bencana tsunami masyarakat termanjakan oleh gelontoran dana dari beberapa NGO dan bantuan luar negeri.


Disela-sela diskusi beberapa kali pandangan mataku tertuju pada beberapa wisatawan asing yang naik sepeda kayuh, keluar masuk kampung. Kelurahan ini memang memiliki Pantai Iboih, pantai yang populer seperti halnya tugu KM-0, tidak sah mengunjungi Sabang jika tak singgah di Iboih. Walau sebenarnya keindahan pantai merupakan pemandangan dominan di Sabang, tetapi Iboih yang berada di areal sekitar 1.300 hektar ini punya pesona nan jelita dan unik. Teman-teman yang belum menikah dan mencari lokasi untuk bulan madu saya rekomendasikan kepantai ini........mantab bror.


Di pantai Iboih yang teduh dan sejuk, air laut menghijau hingga ke tepian pantai. Menu sea food di beberapa warung sederhana yang berjejer rapi di tepian pantai, pengunjung bisa memuaskan diri dengan mandi air laut. Sewa peralatan snorkling hanya Rp 10 ribu sekali pakai, dengan jaminan kartu identitas. Jangan khawatir jika tidak bisa berenang. Ada tali tambang di dalam laut tempat bergelayut hingga agak ke tengah. Jika mampu, tidak masalah berenang sekitar 150 meter dari Iboih ke Pulau Rubiah, pulau itu persis di depan Iboih sehingga bisa dilihat keindahannya dari tepian pantai.


Disisi lain dari Sabang pada tahun 2000 telah dicanangkan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid dengan diterbitkannya Inpres No. 2 Tahun 2000, Perpu No. 2 Tahun 2000 dan Diterbitkannya Undang-undang No. 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. Dampak dari peraturan ini, maka barang-barang luar masuk secara bebas ke Sabang. Disini kita mudah temukan mobil katagori mewah seperti: Jaguar, Porsche, Mercedes Benz, Land Cruiser, dll. Tapi yang mencengangkan adalah harganya termasuk murah dibandingkan di Jakarta. Beberapa dealer mobil memang tidak mempunyai ruang pamer yang memadai sehingga mobil dagangannya hanya diparkir berjejer dilapangan, dibawah pohon, dll.


Disisi lain karena kaya akan objek wisata, menjadikan Sabang dikunjungi para wisatawan domestik dan asing.  Tempat favorit wisatawan lokal adalah Tugu Kilometer Nol (KM-0) Indonesia. Seperti diketahui Sabang merupakan pulau paling barat daratan Indonesia. Tugu ini menjadi batas penghitungan setiap jengkal wilayah Indonesia menjulur ke timur hingga Merauke di Papua. Letak Tugu KM-0 itu sendiri berada dalam areal Hutan Wisata Sabang di Ujong Ba'u, Kecamatan Sukakarya. Bentuk Tugu berupa sebuah bangunan bundar warna putih berlantai dua. Ada prasasti yang menjelaskan dalam angka-angka, posisi geografis itu, yakni 050 54’ 21. 42” Lintang Utara dan 950 13’ 00.50” Bujur Timur, dengan ketinggian 43,6 meter. Nah, di seberang jalan tugu tersebut, terdapat batu penanda jarak berwarna kuning seperti biasa terlihat di pinggir jalan. Bedanya di situ tertulis angka nol. Hal yang tak lazim dijumpai pada batu penanda jarak lainnya.


Tanggal 17 juli 2008 perjalanan kembali menuju kota Banda Aceh, dengan diantar teman R. Hidayat kami saya menunggu Kapal penyebrangan. Alhamdulillah cuaca bagus, perjalanan lancar, sekitar satu jam akhirnya kami mendarat Banda Aceh.  Pelabuhan cukup ramai, aku berusaha untuk melihat-lihat kondisi sekitar, beberapa infrastruktur memang baru dibangun pasca bencana tsunami. Setelah dijemput rekan kerja kita menuju Kantor Konsultan NAD I. Karena hari ini Jum’at, maka sekitar pukul 11.30 WIB, kamipun bergerak menuju Masjid, sepanjang perjalanan aku sudah ngebet untuk bisa bersujud menghadapNYA dimasjid Baiturrahman. Maklumlah kemarin lusa aku hanya melintas saja di depan masjid yang dibangun tahun 1881. Dan seperti perjalananku yang lainnya akupun senang dan menikmati bisa mencium hamparan bumi Allah didaerah yang lain. Saat itu Masjid terlihat penuh oleh jamaah, disekitar masjid ada juga pemandangan para pedagang yang menawarkan, buku-buku agama, baju taqwa, makanan, dll.


Setelah usai sholat, saya dan teman-teman sempat berfoto beberapa kali dengan latar masjid ini. Ada pemandangan yang menarik bagiku disekitar masjid, seperti lazimnya disisi nusantara yang lain, terlihat ada puluhan ibu-ibu, anak-anak yang meminta-minta.  Yang khas, diujung dekat tempat wudhu ada ibu-ibu paruh baya dengan suara keras melantunkan puji-pujian dengan bahasa arab yang cukup fasih, diujungnya ada pernyataan: “infaq, shodaqoh, infaq, shodaqoh,....”. Disisi lain beberapa diantara mereka sempat saya ajak berbincang, mereka umumnya mengaku korban tsunami, dan sampai sekarang belum mampu hidup layak......dst, memang 1001 macam kisah anak manusia.


Hari terakhirku di NAD, pada tanggal 18 Juli 2008 Tepat pukul 16.30 WIB aktifitas penugasan dan kegiatan lain-lain aku sudahi karena saya harus bersiap kembali ke Jakarta. Tepat pukul. 17.40. WIB pesawat take off menuju kota Medan, setelah transit selama 30 menit perjalanan dilanjutkan ke Jakarta dan tiba pada pukul 16.00 WIB, Alhamdulillah aku kembali dengan selamat. (Sha 5 W).

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon