Selasa, 09 Desember 2008

BANGKA, Bumimu Menangis Darah

aku memandangi hamparan bumi yang nampak berlubang-lubang, sebagian berisikan air seperti tambak ikan. Aku menemui suasana daratan Bangka yang tandus, panas, gersang, seperti isi berita yang aku dengar sebelumnya.





Ekosistem pulau Bangka ada masalah besar yang membutuhkan perhatian dari stakeholders. Akupun sempat mencoretkan beberapa kata dibuku kucelku, mewakili suasana hati kala itu.



 


kau nodai wajah manisku
kau sayat-sayat jantungku
kau hujamkan traktormu dimulutku
kau telah hancurkan aku, tapi untuk kehancuranmu jua
Hati nurani, kamu ada dimana???
(Bangka, 7 September 2006)  

Alhamdulillah datang juga kesempatan untuk traveling ke pulau Bangka, pada tanggal 7-17 September 2006 aku kebetulan menjadi instruktur pelatihan community self survey (CSS) untuk teman-teman konsultan yang ditugaskan di sini. Ada banyak hal yang saya dapatkan dan beberapa diantaranya aku tuangkan dalam catatan traveling ini.


Karena potensi tambang timah yang ada diperut bumi Bangka maka pemerintah Belanda menguasainya sejak berakhirnya Agresi Militer tahun 1947. Pada masa perang kemerdekaan, Bangka menjadi tempat pengasingan sejumlah pemimpin RI, antara lain Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. Mohamad Rum, Ali Sastroamijoyo, dll. Kondisi Bangka pada waktu itu masih didominasi oleh hutan tropis dan belum begitu banyak penghuninya.


Seiring dengan reformasi, otonomi daerah serta pemekaran wilayah maka sejak tahun 1999 pulau Bangka menjadi propinsi tersendiri bergabung dengan Pulau Belitung menjadi Propinsi BABEL (Bangka-Belitung). Sebelumnya merupakan bagian dari Propinsi Sumatera Selatan. Secara geografis posisi disebelah Utara wilayah Sumatra Selatan. Dibutuhkan waktu kurang lebih 4-5 jam untuk menyeberang dengan kapal laut reguler dari Palembang ke pelabuhan Bangka.


Sebagai pulau penghasil timah terbesar di Indonesia, wilayah produksinya tersebar di 6 daerah, yaitu: Pangkal Pinang, Sungai liat, Belinyu, Pemali, Muntok, dan Toboali. Usaha penambangan timah sudah berlangsung puluhan tahun sehingga membawa dampak rusaknya linkungan hidup. Diabaikanya kelestarian lingkungan serta ketidakpedulian para penambang untuk mereklamasi lahan semakin mempercepat rusaknya ekosistem.


Sejak Kabupaten Bangka mengeluarkan Perda Pertambangan no: 6 tahun 2000 yang membuka peluang bagi masyarakat untuk menambang timah selain penambang resmi PT. Timah maka kerusakan lingkungan semakin parah. Penambangan rakyat dengan cara konvensional maupun semi konvensional. Dalam perkembangannya masyarakat akhirnya melakukan penambangan modern memakai exavator. Aktivitas penambangan seperti ini kemudian dikenal dengan TI (tambang inkonvensional).


Kawasan Tambang Inkonvensional (TI) sudah sangat memprihatinkankan, Jika satu unit TI beroperasi pada lahan seluas satu hektare, dari data menunjukkan ada 6.000 TI sehingga membutuhkan lahan seluas 6.000 ha. Salah satu solusi untuk pemulihan kualitas lahan yang rusak adalah dilakukanya reklamasi dan memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan agar dapat berfungsi secara optimal dalam sebuah ekosistem.


Kondisi yang dialami Bangka harusnya menjadi pelajaran daerah-daerah lain di Indonesia. Kekayaan yang terkandung dialam haruslah dieksplorasi dan dimanfaatkan secara adil, terkendali dan harus mempertimbangkan ekosistem kawasan tersebut. Pemahaman akan konsep ekologi yang sebagaia bagian dari pembangunan yang berkelanjutan patutlah menjadi bekal para pengambil kebijakan di daerah. 


Euforia reformasi, otoda, telah menjadikan daerah mengambil peran yang “kebablasan” dalam mengelola SDA-nya, sehingga masyarakat dan lingkunganlah yang menangung dosa dari kebijakan yang salah ini. Mencari sebuah pola pengelolaan SDA alam yang berbasis pada komunitas masih memerlukan kerja keras semua pihak. Relasi antara masyarakat dan  perusahaan besar yang mengelola SDA tentu perlu diatur. Kasus di Timika, di Newmont Nusa Tenggara, dll masih menunjukkan bahwa relasi masyarakat dan Corporate masih mengundang masalah besar.


Kesadaran stakeholders kasus dibangka sungguh membawa harapan, beberapa tahun terakhir para pelaku TI ditertibkan, termasuk ekspor timah gelab. Namun sebagai dampaknya adalah lahirnya kemiskinan karena usaha ini telah menjadi tumpuan hidup masyarakat untuk mencari nafkah. Pilihan lain untuk bekerja dan berusaha dengan memanfaatkan alampun menjadi the nightmare bagi masyarakat Bangka.


Pengolahan SDA yang tidak benar terbukti mengakibatkan kemiskinan masyarakat, dan hal ini akan diikuti dampak lainnya, seperti pernyataan Sharp (1996): penyebab kemiskinan dari sisi ekonomi.  Pertama, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah.  Kedua, kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumber daya manusia. Kualitas SDM yang rendah berarti produktivitasnya rendah, sehingga upah yang diterima juga rendah. 



Kita berharap pemerintah semakin arif dan bijak dalam mengeluarkan kebijakan mengenai pengolahan SDA, demikian juga tegas untuk memberikan punishmen bagi yang melanggar. Harapan masyarakat adalah terwujudnya sebuah kepedulian dari perusahaan kepada masyarakat (Corporate Social Responsbility)  untuk secara berkelanjutan membimbing, memberdayakan mereka menuju tatanan kehidupan yang lebih sejahtera. (Sha 5 w)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon