Jumat, 19 Desember 2008

BESI PUTIH TERNATE, Dilema Rongsokan Perang Dunia II

Besi Putih Ternate akan kita ulas dalam sajian traveling indonesia. Pada tanggal 16-19 desember 2008 saya berkesempatan untuk mengunjungi Ibukota propinsi Maluku Utara yaitu Kota Ternate,  Bagi anda yang belum berkesempatan mengunjungi kota ini, saya mencoba berbagi pengalaman kepada anda. 


Menempuh perjalanan Jakarta-Ternate memang agak melelahkan, karena anda harus transit dahulu dikota Makasar atau di Manado, kira-kira memerlukan sekitar 4 jam lebih durasi waktu penerbangan.  Maskapai penerbangan yang menuju kekota ini juga terbatas sehingga anda harus booking tiket yang lebih awal untuk mengamankan jadwal kunjungan.


Ternate tak terbantahkan merupakan pulau yang sangat indah karena dikelilingi oleh pengunungan dan sekaligus dipagari oleh lautan. Salah satu gunung yang terkenal adalah Gunung Gamalama (ingat Dorce kan? He..he..). Nampak daratan yang masih segar dan hijau oleh pepohonan, rumah-rumah warga juga nampak cukup rapat berhimpitan, meskipun dibeberapa bagian pulau masih belum menjadi pemukiman.


Ditemani teman konsultan yang ditugaskan disini saya berkesempatan mengelilingi garis luar ternate, selain pemukiman yang saya lalui adalah pantai, hutan yang tidak begitu lebat, dan ladang penduduk. Diiringi hujan gerimis, maka dibutuhkan waktu sekitar 2 jam saja untuk menjelajahi pulau cantik ini.


Tempat yang enak untuk kongkow-kongkow adalah Swering, yaitu sebuah kawasan untuk PKL yang terletak di lapangan didepan kantor gubernur Maluku Utara. Jenis makanan yang ijual: seafood, ikan bakar, soto makassar, sate, pecel ikan, martabak manis, dll. Para penjual umumnya pendatang dari Jawa, Padang dan Makassar. Kawasan ini hanya boleh buka pada malam hari saja, karena paginya digunakan sebagai parkir mobil pemda, dan sekalian demi keindahan kota.


Wisata kuliner khas Ternate yang sempat saya nikmati adalah minuman Duraka, sejenis bandrek, kira-kira bahannya dari wedang Jahe, gula, dan kayu kenari, dll. yang jelas setelah meminumnya tubuh menjadi segar dan hangat. Kalau menu makanan saya hanya sempat menikmati sayur ikan cakalang, baik yang dibumbu maupun yang menggunakan kuah sayur, cukup lezat dengan aroma khas rempah-rempah yang kuat.


Hal yang khusus di Ternate adalah melimpahnya souvenir berupa kerajinan Besi Putih Ternate, anda bisa menemukannya puluhan PKL yang menjual kerajinan ini dipasar atau dikenal dengan Jalan Busoiri. Barang-barang yang dijual sebagian besar didatangkan dari Pulau Morotai, Maluku Utara, seperti kalung, cincin, gelang, batu akik, tasbih, dll. Para penjual mulai membuka kiosnya mulai jam 09.00 WIT dan tutup pada jam 23.00 WIT.


Besi Putih Ternate merupakan campuran beberapa jenis logam, mempunyai permukaan yang lebih mengkilau jika dibandingkan dengan perak atau monel. Selain itu kelebihan souvenir besi putih adalah dijamin anti karat, apabila terkena air maka permukaan semakin berkilau, yang kualitas A bahkan susah dibedakan dengan perhiasan dari bahan emas putih. Beberapamodel terbaru gelang kualitas A mengkombinasikan dengan warna emas, dan dijamin ekslusif dan tidak luntur. Anda bisa mendapatkan gelang ini dengan harga Rp. 250.000-300.000 saja.


Souvenir Besi Putih Ternate ini diproduksi di Morotai, Morotai adalah sebuah pulau yang bisa ditempuh dari Ternate dalam waktu 30 menit dengan pesawat, atau dengan perjalanan laut anda bisa menempuhnya dalam waktu delapan jam. Konon bahan-bahan yang digunakan merupakan rongsokan dari Perang Dunia II. Sejarah mencatat Morotai merupakan wilayah terdekat dengan Samudra Pasifik. Kawasan Pasifik menjadi ajang pertempuran antara pasukan sekutu melawan Jepang.


Sejak tahun 1970-1990 terjadi pengangkutan peninggalan perang secara besar- besaran baik didarat maupun sampai dasar laut. Bahan-bahan Besi Putih Ternate dihasilkan dari potongan bangkai pesawat, seperti lantai, dinding luar, dan knalpot pesawat, mesin-mesin perang, rangka dan dinding kapal, jangkar kapal, dll.  Barang-barang tersebut berserak baik didarat hinga dikedalaman lautan. Penduduk Morotai memanfaatkannya dengan bebas, dibentuk, dikikir, diamplas, ditempa hingga berbentuk benda kerajinan yang diinginkan.


Pengambilan perlengkapan perang juga mendapat restu dari pemerintah baik pemda setempat maupun pemerintah pusat pada periode 1970-1990-an. Syukurlah saat sekarang sudah ada regulasi dari pemerintah meskipun masih longgar pengawasanya. Seharusnya benda peninggalan perang itu dilestarikan pada tempatnya, baik di darat maupun di dalam laut, karena dapat menjadi aset wisata sejarah yang tak ternilai harganya. Aset sejarah bangsa tersebut diharapkan tak akan musnah dan hanya menjadi perhiasan belaka (Besi Putih Ternate).


Andaikan saja Jenderal Mc. Arthur --legendaris Panglima Perang Pasifik-- yang sangat sentimentil namun heroik, masih hidup dimasa kini mungkin dia akan mengubah ungkapannya seperti yang disampaikan di depan anggota kongres Amerika Serikat, 19 April 1951:  “Old soldiers never die, they just fade away” . Besi Putih Ternate (Sha 5 W)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon