Selasa, 02 Desember 2008

SATE GURITA, Kuliner Kabupaten Kaur Bengkulu.

Seumur-umur aku hanya mengenal atau mendengar beberapa jenis sate (hot plate) yang populer antara lain: sate; ayam, sapi, kelinci, kerang, siput, kuda, bekicot, ular kobra.  Ternyata ada menu kuliner yang rasanya “nendhank pol” yaitu sate gurita. Saat mendapat tawaran menu ini, saya berfikir sejenak “halal apa haram ya???”, untunglah aku ingat pelajaran fiqih waktu ngaji di Madrasah bahwa “semua yang ada di laut itu halal dimakan kecuali kapal selam” (wa ka ka kak....), Yess aku sangat siap melahap menu ini.


Pada tanggal 28-31 April 2007, aku dapat tugas dari kantor untuk melakukan Supervisi pelaksanaan program di propinsi Bengkulu, kebetulan waktu itu anggota TIM terdiri dari dua orang dari World Bank, seorang dari Bangda Depdagri, dan seorang dari Dep PU, serta seorang dari Pemda Propinsi.  Salah satu lokasi tujuan adalah Kabupaten Kaur. Sebuah kabupaten baru, karena merupakan pemekaran dari kabupaten Seluma. Setelah diterima Bupati di pendopo yang masih sederhana kami berkunjung ke beberapa desa.  Sekitar jam 13.30 WIB. pada tanggal 29 April 2007 rombongan menuju sebuah rumah makan yang cukup asri dipinggiran pantai kabupaten Kaur, senbagai menu andalan Resto ini adalah Sate Gurita.


Gurita (archaea otoiya), sebagaimana yang kita tahu mempunyai kaki-kaki yang banyak (tentakel) dan sangat kuat untuk menerkam mangsanya. Hewan ini sangat banyak diperairan Indonesia, tentunya pada ekosistem laut yang kondusif bagi kelangsungan hidupnya, salah satunya adalah diperairan kabupaten Kaur. Para nelayan umumnya menangkap hewan ini dengan jaring, meskipun ada pula yang menggunakan alat tangkap lainnya. Setelah dari nelayan umumnya dijual ke pasar seperti hasil laut lainnya.


Menurut pengakuan pemilik warung, awalnya sempat ragu menjadikan menu sate gurita sebagai andalan warungnya, selain karena belum populer cara memasak dagingnya juga perlu ketrampilan khusus. Melalui beberapa kali percobaan akhirnya didapat resep pengolahan gurami sehingga daging terasa empuk gurih, dan lezat rasanya. Daging setelah direbus dipotong kecil-kecil seperti lazimnya sate yang lain, dan ditusuk dengan lidi bambu. Daging hasil olahan warung ini memang mempunyai karakter tersendiri, dijamin bau amis khas laut sudah tidak tercium lagi, dan ini yang membuat warung ini semakin dikenal.


Untuk bumbu sate ini seperti lazimnya bumbu sate yang lain, dengan campuran kecap manis, kacang tanah yang gerus, bawang merah, bawang putih, jeruk nipis dan tentunya dengan garam dan cabe secukupnya. Setelah dipanggang matang dengan bumbu kecap cair, maka daging gurita menebar aroma yang harum, dan dengan kondisi yang masih panas langsung diluncurkan menuju bumbu kacangnya. Wo wow wow siap disantap nich.


Dengan nafsu syahwat yang sudah diubun-ubun, aku berdoa sejenak dan langsung melahap hidangan ini, kreeeez, wow enax gila. Rasanya seperti daging kelinci, gurih namun seratnya kuat dan kenyal. Bumbunya juga siip karena bumbu kacang-kecapnya mengigit karena balutan rasa asam jeruk nipis menjadikan semakin segar. Sepuluh menit kemudian 10 tuzuk sate ini sudah hilang ditelan angin......heheeheh. Saat itu saya membayangkan, andaikan warung ini jualan di food center Plaza-plaza di Jakarta tentunya popularitas kuliner ini semakin menanjak. (Sha 5 W)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon