Kamis, 22 Januari 2009

Ketidakjujuran Kantin Kejujuran

Kerja bareng antara Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Dinas pendidikan Pemprov menginisiasi sebuah gerakan antikorupsi yang difokuskan sasaranya pada anak usia sekolah. Pembentukkan Kantin Kejujuran (KaJu) bertujuan untuk menerapkan budaya antikorupsi sejak dini kepada anak bangsa.


Diilhami dengan KaJu atau Warjur alias warung kejujuran di sejumlah sekolah di Jawa Tengah, selanjunya diadopsi menjadi Gerakan Antikorupsi dengan area yang semakin meluas. Data pekan terakhir Desember 2008 telah terbentuk 2711 KaJu yang tersebar pada sekolah di nusantara. Presiden SBY pada saat menghadiri peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia, di Monas, Selasa (9/12) pagi, juga secara simbolis melakukan transaksi membeli barang, menaruh uang dan mengambil sendiri kembalian di KaJu.


KaJu didisain sederhana, berupa toko kecil dengan rak kaca yang memajang beberapa barang kebutuhan siswa berupa alat-alat sekolah, aneka makanan kecil dan minuman ringan. Yang khas adalah kantin ini tanpa penjual/ penjaga yang melayani pembeli. Harga barang ditunjukkan dengan label kertas yang ditempelkan pada masing-masing barang. Untuk menyimpan uang transaksi disiapkan kotak uang yang bisa dibuka oleh siapapun.


Operasional KaJu berprinsip bahwa semua pembeli dianggap sebagai orang yang jujur, dia mengambil, makan dan minum, membayarnya, serta mengambil uang kembalian secara swalayan. Selanjutnya pengelola melakukan pemeriksaan secara periodik terhadap ketersediaan barang dan transaksi yang telah terjadi. Banyaknya barang yang terbeli dan jumlah uang yang sesuai merupakan indikator dari pembeli KaJu.


Setelah beberapa bulan beroperasi, ribuan KaJU seantero nusantara menunjukkan tren pembeli yang tidak jujur semakin besar. Beberapa berita tentang ini antara lain: Wakil Kepala Sekolah Yosef Berliana (Bogor), menjelaskan pada saat mulai dibuka, KaJu disekolahnya merugi Rp 120.000,00. Di Tulungagung dari 11 KaJu, diperkirakan hanya satu yang untung. sedangkan 10 kantin lainya buntung. MAN 2 Tulungagung, pada hari pertama sudah merugi, di hari kedua merugi 10 persen. Hari ketiga dan keempat merugi sekitar 2 persen.


Realitas implementasi KaJu mengandung beberapa bahan pembelajaran bagi anak bangsa ini. Pertama; Kegagalan agama-agama besar (mainstream) di indonesia untuk membina moral umatnya, sehingga pola pikir dan perilakunya bisa berubah menjadi positif. Agama sebagai tuntunan manusia untuk berpikir, berperilaku yang baik, benar, dan tepat waktunya. Universalitas nilai-nilai moral menjadi barang langka dalam segenab kehidupan umat beragama. Apa yang terjadi dengan agama, penyuluh agama, umat, adalah refleksi keberadaan agama kekinian yang memerlukan solusi.


Kedua; kita disuguhi fenomena kegagalan dari sebuah system pendidikan nasional, ketidakjujuran terbeber didapur pendidikan bernama sekolah. Seperti kita ketahui ujung dari semua proses pendidikan adalah meningkatnya ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai anak didik sehingga mencapai derajat yang lebih baik. Ada apa dengan kurikulum pendidikan, para pendidik, anak didik, dll yang tubuh dan berkembang disistem pendidikan kita.


Ketiga: semakin keringnya sumber-sumber ketauladanan dalam keluarga, masyarakat termasuk didunia pendidikan kita. Sikap membenci korupsi hanya sebatas wilayah bibir belaka sedangkan perilaku masyrakat masih sangat permisif terhadap praktik korupsi. Perubahan sikap dan perilaku para generasi muda akan terlihat jelas manakala banyak konflik internal keluarga, dengan komunitas, dst yang bersumber dari kebencian terhadap pelaku korupsi.


Pejabat yang korup, anggota dewan yang korup, polisi, jaksa, hakim yang korup, tukang parkir yang korup, dosen yang korup, kontraktor yang korup, dll ketika membaca dan melihat fenomena pelaksanan KaJu ini, pastilah berkata “bukan gue aja yang rusak, anak bau kencur aja udah rusak, emang bangsa ini……. (Sha 5 W)


Artikel Terkait


EmoticonEmoticon