Sabtu, 31 Januari 2009

Selamat Jalan MenghadapNYA Abi, Ibnu Mundzir Sairozy

Tengah hari, 29 Januari 2009, dengan kapasitas terpasang 100% tubuhku harus kerja keras memeras otak, mengeksplorasi hati nurani, dan mengolah rasa. Ketiga pilar hidup manusia tersebut saling menyerang, berakrobat, jungkir balik dan akhirnya membuat aku hanya melonggo beberapa saat. Untunglah beberapa kalimat dzikir kemudian secara naluri meleleh dari mulutku.


Januari ini merupakan bulan terakhir “kontrak paket tugas” dikantor tempat aku bekerja, sebuah konsultan manajemen. Tanggal 28 Januari 2009 dilakukan rapat untuk menutup waktu 3 hari (2 hari kerja + 1 hari libur) diakhir Desember ini dengan melakukan kunjungan kelapangan dibeberapa kota enam propinsi. Karena ada beberapa kewajiban yang masih bisa dilakukan maka hari libur diikhlas untuk tetap bekerja. Singkatnya aku mendapatkan tugas mengunjungi kota Bandar Lampung.


Kunjungan selama tiga hari di Lampung mewajibkan aku untuk mengunjungi empat buah kelurahan lokasi program, dan menyelesaikan beberapa data management information system (MIS). Setelah landing dibandara Radin Inten saya dijemput teman Konsultan Managemen Lampung menuju kantor, setelah berbincang beberapa saat, sayapun meneguk airputih kesukaanku. Beberapa detik kemudian HP dikantongku berdering dan saya lihat sebuah panggilang dari Istri di Malang, ”Assalamualaikum mas,...” selanjutnya dengan sesenggukkan istri saya memberitahukan tentang meninggalnya bapak mertua: Ibnu Mundzir Syairozy beberapa menit yang lalu.


Beberapa menit setelah telepon dalam diri saya mengalami diskusi keras, antara rasio, rasa, dan nurani, antara tugas dan hubungan keluarga, antara keinginan dan keterbatasan, antara keinginan dan kerugian, dst.  Waktu 3 hari sudah tidak mungkin dimundurkan lagi untuk penyelesaian tugas kantor, karena  merupakan hari terakhir dalam kontrak dan hari terakhir menyelesaikan tugas pamungkas. Dilain sisi terbayang repotnya orang dirumah karena tidak ada laki-laki lain selain saya dan adik ipar yang juga lagi di free port.


Subhanallah, aku memutuskan untuk segera menelepon ibu mertua untuk mengucapkan belasungkawa dan meminta maaf tidak bisa segera pulang untuk sebuah tugas dari kantor. Akupun akhirnya harus mengisi hari-hariku dengan menjalankan tugas penting tersebut. Tepat pukul 15.50 WIB tanggal 31 Januari 2009 aku baru bisa meninggalkan bumi Bandar Lampung. Karena tanggal ”sangat tua” maka perjalananku ke Malang terpaksa harus aku tempuh selama 12 jam dengan kereta malam.


Sepanjang Perjalananku aku hanya bisa merenungi tentang apa yang aku lakukan 3 hari terakhir. Demi sebuah kata ”profesionalitas”, aku harus setia, tunduk, hormat, karena inilah ukuran bagi pihak yang mendedikasikan dirinya pada bidang tertentu. Atas nama kemanusiaan aku hanya bisa mengata-ngatai diriku dengan ”kamu brengsek, kepala batu, amoral”. Yang terbayang olehku adalah ”cibiran” keluarga besar Abi ” masak kerja dijakarta saja tidak bisa segera pulang,.....”



Astaghfirullah, Abi Maafkan menantumu ini, tidak bisa menghormatmu yang terakhir kali, tidak bisa memandikan, mengkafani, mensholati, dan memakamkan. Saya hanya bisa mengucapkan selamat jalan untuk menghadapNYA, semoga sega amal perbuatan Abi diterima dan mendapat ridhoNYA Amien. (Sha 5 W).

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon