Kamis, 15 Januari 2009

Testimoni Tepian Mahakam, Fenomena PKL ”cinta”

Tepian Mahakam sebutan populer warga Samarinda menunjuk kawasan stren Sungai Mahakam dengan panjang sekitar 2-3 kilometer, melintang seolah membelah kota Samarinda.  Sejarah panjang Tepian Mahakam seiring peradaban dibumi Borneo, sebagai pusat aktifitas perdagangan, dan kegiatan sosial, dll.


Teringat suasana serupa dikota Palembang yang pernah aku tinggali selama setahun, disana ekspose kawasan sungai Musi sebagai pusat perdagangan, rekreasi, dan hiburan  menjadikan kekhasan kota yang tidak ditemukan ditempat lain. Kawasan Benteng Kuto Besak tampil menjadi ikon kota Palembang. Mengingat Mahakam sebagai sungai paling besar di Indonesia, maka sudah sewajarnya bila penataan kawasan minimal seperti Musi Palembang.


Tepian Mahakam potensial sebagai tempat yang cukup nyaman untuk bersantai bersama keluarga, menikmati makanan, menemani anak-anak diareal bermain, sambil menikmati lalu lalang kapal dan perahu yang melintasi Mahakam. Apabila dilakukan penataan kawasan dengan serius bukan tidak mungkin akan menjelma menjadikan kawasan yang indah, bersih, aman. Kawasan hutan tropis di Samarinda sudah tidak bisa ditawarkan lagi karena sudah “habis”, maka menjadikan Tepian Mahakam menjadi ikon utama wisata ibukota Kalimantan Timur adalah pilihan cerdik.


Tepian Mahakam diwaktu malam dihiasi oleh lampu merkuri jalan, namu penerangan masih belum begitu cukup memadai dan tertata untuk mempercantik pemandangan. Arena bermain anak, olahraga, dan taman dijadikan pula sebagai tempat berjualan para PKL.  Tersedia bermacam panganan tradisional, seperti burjo (bubur kacang hijau), jagung bakar, dan makanan berat lainnya macam sate, bebek goreng, ikan bakar, dll.


Tantangan berat pengembangan kawasan ini adalah banjir yang disebabkan oleh air laut pasang. Kebetulan saat menikmati tepian tepat bulan purnama maka banjirpun lumayan tinggi merendam jalan dikawasan ini. Memang cuaca lagi kurang bagus, samapai-sampai ada kapal tengelam dalam perjalanan dari Pare-pare menuju Samarinda yang menelan ratusan korban jiwa. Tantangan lain adalah kecukupan pasokan daya listrik dari PLN untuk mempercantik kawasan ini, sebagaimana dimaklumi listrik menjadi masalah yang belum jelas solusinya.


Saat menikmati tepian Mahakam bersama teman-teman konsultan  baik pada kunjungan saya yang pertama diakhir Oktober 2007 serta yang kedua 12-14 januari 2009, saya tertarik dengan beberapa fenomena para remaja putri yang duduk-duduk dibeberapa simpul pedagang. Disetiap pedagang ada 2-5 orang, dan mereka sangat ramah, menyapa, mempersilahkan duduk, bahkan menemani para pengunjung. Saya sempat berkesimpulan “orang-orang ditepian Mahakam ramah-ramah, selalu mengulum senyum kalau ditatap wajahnya”.


Ditengah kegusaran saya, salah seorang teman asli Samarinda berbisik ke telinga saya: ”mas, cewek-cewek ini berprofesi ganda lho”, ”ah, masak”: jawabku. Menurut penjelasan lanjut dari teman tadi, bahwa keberadaan mereka susah puluhan tahun. Hal ini disebabkan ada permintaan “pasar” dari para ABK yang bersandar. Selain itu ada kebiasaan sekelompok orang penjual kayu Gaharu, yang berpesta dengan melakukan judi dan main perempuan dengan hasil penjualan kayunya sampai uang habis, baru kembali ke pedalaman lagi.


Teman sekantor pernah punya pengalaman ditepian, setelah seharian menjadi instruktur sebuah pelatihan maka bermaksud jalan-jalan. Ditemani dua orang teman perempuan yang juga menjadi instruktur, dan satunya seorang panitia dan seorang driver. Setelah masing-masing memesan jagung bakar dan capucino, mereka diskusi evaluasi pelatihan yang dilakukan seharian. Lebih kurang satu jam kemudian, mereka membayar, dan yang mencengangkan billingnya sebesar: Rp. 175.000.  Wah seperti makan direstoran dengan menu yang cukup bagus. Saran saya untu anda agar berhati-hati, umumnya mereka yang demikian warungnya hanya kedok untuk berdagang “cinta”.



Fenomena para PKL “cinta” ini seyogyanya menjadi perhatian untuk dicarikan solusinya, apabila Pemerintah Kota berkenan mengembangkan kawasan ini. Perlu diingat bahwa penyelesaian tidak cukup hanya melakukan operasi penangkapan Tipiring semata namun upaya yang tersistem dengan baik, dan berkelanjutan. Problem kemiskinan masyarakat hendaknya menjadi fokus untuk dicarikan jalan keluar selain penyakit masyarakat
lainnya. (Sha 5 W).

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon