Kamis, 05 Februari 2009

Perempuan Berkalung Sorban, Kontraversi Film Baru

kalungan-serbSebuah film religi karya dari Hanung Bramantyo, setelah “Ayat-Ayat Cinta” dan “Doa Yang Mengancam”, judulnya “Perempuan Berkalung Sorban”. Alur cerita bisa direka dari judulnya, yaitu menceritakan tentang perjalanan hidup seorang perempuan dari lingkungan pesantren, sekaligus anak seorang Kyai yang mengalami pergesekan dengan norma kehidupan keluarga dan pesantren.


Tokoh Anisa yang diperankan oleh (Refalina S. Themat), difigurkan sebagai sosok perempuan yang semenjak kecil berjuang untuk menuntut persamaan hak dengan kaum lelaki. Tuntutan untuk sebuah kehidupan yang bebas dari hegemoni norma agama dan adat istiadat yang timpang dan sarat akan ketidakadilan.


Anisa sebagai anak Seorang Kyai dari Pondok Pesantren yang bernuansa Salaf merupakan figure seorang perempuan kukuh pendiriannya, cantik dan cerdas. Di Pesantren Putri Al Huda, Jawa Timur masih dikisahkan sebagai lingkungan yang konservatif.  Pelajaran yang ada masih memposisikan perempuan sangat lemah dan tidak seimbang perannya dengan laki-laki.


Bumbu cinta yang disuguhkan dalam film "Perempuan Berkalung Sorban" ini muncul pada saat Anissa menaruh hati pada orang yang mau mengerti tentang dirinya, yaitu lelaki bernama Khudori (Oka Antara), Khudori adalah paman dari pihak Ibu, karenanya cinta annisa tidak dibalasnya,  karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan keluarga Kyai Hanan (Joshua Pandelaky).


Ketika Khudori melanjutkan sekolahnya ke Kairo, Anissa diam-diam mendaftarkan kuliah ke Jogjakarta dan diterima, namun Kyai Hanan tidak mengijinkan karena khawatir akan menimbulkan fitnah, karena perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua.


Anissa akhirnya dinikahkan  dengan Samsudin (Reza Rahadian), seorang  anak Kyai dari alah satu Pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Kenyataan pahit akhirnya diterima Anisa karena Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (Francine Roosenda). Naluri untuk menjadi perempuan yang mandiri seakan  runtuh menerima kejadian demikian.


Untuk seterusnya anda bila berminat bisa menontonnya, di Bioskop. Perlu anda ketahui pula Soundtrack dalam Film ini salah satunya adalah lagu yang dinyanyikan oleh artis negeri Jiran; Siti Nurhaliza. Lagu ini semula dinyanyikan oleh Opick. Lalu di re arrange sama Tya Subyakto dan dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza.


Tanggapan saya setelah melihat film ini antara lain pada pemilihan tema perjuangan gender yang bagus dan berani di antara trend tema film saat ini. Namun detail-detailnya tidak banyak diekspose dengan teliti sehingga dalam beberapa adegan dan percakapan, ada yang mengutip segala pelecehan terhadap peran perempuan justru sumbernya berasal dari teks  Al Qur'an dan Al Hadits. Runyamnya lagi ini bukan masalah penafsiran pada teks-teks tersebut.


Menurut saya kedalaman dialog dengan setting pesantren salafiyah khas Jawa Timur terasa dangkal dan tidak begitu bisa menggambarkan latar sosial sesuai alur cerita yang sebenarnya.  Untuk angle kamera saya rasakan beberapa scene cukup bagus  terutama adegan dengan  setting Pantai. Demikian juga ketika santri-santir sedang berwudhu dengan mengambil angel dari atas menghasilkan sajian yang hidup dan cukup menawan.


Secara keseluruhan film ini cukup bagus, disengaja atau tidak film ini sdikit kontraversi. Namun sebaiknya film ini ditonton oleh orang-orang dengan wacana yang cukup matang karena ada pengaruh kuat untuk salah dalam mengartikan film ini. Utamanya justifikasi teks  Al Qur'an dan Al Hadits yang memposisikan perempuan adalah lemah dan dibawah laki-laki. (Sha 5 W).


Artikel Terkait


EmoticonEmoticon