Selasa, 11 Agustus 2009

Kursi Panas Untuk Sang Pujaan Hati

Kursi mesumMemang beragam polah, tingkah, gaya dan karya  yang akan disuguhkan seseorang dalam mengekspresikan suatu hal. Salah satu faktor yang menentukan adalah substansi hal yang diekspresikan, lingkungan, serta pengalaman pribadi masing-masing individu. Untuk mengungkapkan rasa cinta, kasih, dan sayang misalnya manusia punya 1001 macam cara dan bentuknya. Salah satu pengalaman tentang hal ini dipunyai oleh anak manusia yang satu ini, mau tahu ceritanya....

SUEP adalah pemuda separuh baya asal Pasuruan, berprofesi sebagai tukang ukir di sentra mebeler Bukir Pasuruan. Pemuda ini sangat kesengsem, bahkan klepex-klepex dengan kemolekan gadis berjilbab, Saropah. Anak seorang guru ngaji yang bekerja sebagai penjaga wartel.

Lewat beberapa kali ”gerakan tanpa bola” dari SUEP maka hati Saropahpun genap terkiwir-kiwir. Prosesi pacaran ala anak muda zaman sekarangpun dilakukan dengan kadar yang ringan-ringan saja. Sampai titik tertentu maka keduanya mengucap janji sehidup semati meskipun belum resmi menikah.

Dengan segala daya dan upaya SUEP akhirnya bisa menyiapkan sebuah barang berharga yang akan dipersembahkan kepada Saropah. Menurutnya dengan karya tangan sendiri maka kana sangat berarti pemberian kepada calon belahan jiwa. Membuat sebuah produk mebel akhirnya dipilih Suep untuk dipersembahkan kepada Saropah kemudian.

Kristalisasi dari rasa cintanya yang telah mendalam dan mendarah daging menjadikan Suep mengekspresikanya pada Saropah kekasihnya dalam bentuk sebuah karya seni ukir/pahat yang telah digelutinya 7 tahun terakhir. Sebuah mahakarya seni pahat/ukir yang dinamai ”kursi pendudukan wanita” khusus dipersembahkan untuk buah hatinya.

Sebagai orang tua dari seorang perawan desa yang masih kinyis-kinyis dan molek tersebut, maka sosok ustadz Dulmanap menyikapi pinangan SUEP dengan tenang dan hati-hati. Menimbang. menganalisa akan bobot, bebet, dan bibit pun dilakukan seperti layaknya orang tua lain yang taat akan tradisi Jawa.

Hasil analisa umum Dulmanap terhadap sosok SUEP sebenarnya standar aja, ilmu agama lumayan karena Suep lulusan madrasah, keturunan juga biasa2 aja tidak ada kelainan luar biasa, bodi juga cukup yahud tinggi 170 cm dan berat badan 65 kg dengan wajah mirip vocalis ungu: Pasha, meski kulit agak gelap. Dari sisi pekerjaan juga lumayan untuk ukuran dikampung, dengan profesi sebagai tukang ukir cukuplah bagi kehidupan di kota kecil.

Yang menjadi hati calon mertua SUEP gundah-gulana adalah justru hadiah pinangan yang diberikan kepada Saropah, yang berupa kursi putih berbentuk wanita duduk, yang membuat ngeres Dulmanap adalah disandaranya ada dua gundukan menyerupai payudara.

Dulmanap sebagai guru ngaji yang tak begitu memahami arti sebuah seni akhirnya mengambil kesimpulan akhir. Pinangan Dulmanap akhirnya ditolak dengan sopan. Alasanyang diberikan kepada Saropah adalah: bahwa SUEP termasuk orang yang OBUL (otak cabul) dan suks mengeksploitasi organ intim wanita. Semua itu bisa dilihat dari karyanya tersebut.

Ditambah lagi kasus manohara mencuat maka kloplah keputusan Dulmanap. Menurut Dulmanap jangan memandang semua aspek kehidupan dengan seni, karena menurutnya seni ada tempatnya. kalau lamaran itu masalah kepribadian dan kehormatan, jadi bagi Dulmanap hal tersebut agak jauh dari nuansa seni.

Maka bisa ditebak bahwa akan tamatlah riwayat SUEP untuk bisa meminang Saropah yang sexy dan manis. Kasian deh luu SUEP....

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon