Selasa, 06 Oktober 2009

Rumah Diatas Rel Kereta, Sebuah Fenomena

kereta api dan miskin kotaKalau kita amati, utamanya terjadi dikota-kota besar di Jawa, maka sepanjang jalur lintasan rel kereta api sudah dipenuhi oleh bangunan rumah warga. Diantara mereka bahkan ada yang sudah tinggal 50 tahun lebih menempati rumah tersebut. Fenomena apakah ini??


Ketika lahan untuk pemukiman semakin sempit dan semakin membumbung harganya, maka kemampuan masyarakat miskin kota untuk mempunyai tempat tinggal yang layak semakin sulit untuk terpenuhi. Sehingga semakin menjauhnya bandul kesejahteraan dari lokus mereka.


Masyarakat miskin kota pada umumnya dilahirkan oleh proses urbanisasi, khususnya mereka yang kemampuannya, pendidikanya, dll tidak bisa menjangkau jenis pekerjaan yang memberikan income bagus.  Umumnya mereka akhirnya mengkais rezeki pada sektor-sektor informal perkotaan, seperti perdagangan dan jasa. Menjadi kuli angkut, tukang batu, sopir, pedagang kaki lima, tukang ankut sampah, pemulung, pengamen, dll adalah pilihan yang terpaksa diambil.


Terdamparnya mereka pada jenis pekerjaan demikian dikarenakan nirsyarat formil seperti ijazah, ketrampilan khusus, dll. Penghasilan yang didapatkan memang beragam, namun pada umumnya lebih besar daripada apabila mereka masih mencoba bertahan dikampung halaman. Namun untuk hidup layak dikota penghasilan tersebut masih bisa dibilang pas-pasan.


Untuk memenuhi salah satu kebutuhan pokok berupa papan, maka beragam langkah mereka tempuh. Sebagian mencoba bertahan dengan kontrak, kost, mengelandang, dan tinggal dibedeng-bedeng sementara. Sebagian lain yang sedikit mampu maka mencoba membangun rumah ditanah-tanah kosong atau tanah Negara.


Salah satu yang menjadi favorit untuk mendirikan bangunan rumah liar adalah ditanah PT KAI yaitu dikanan kiri rel kereta aktif, atau di atas rel kereta yang mati. Karena prosesnya sudah bertahun-tahun maka tidak sedikit yang membangun rumahnya dengan permanent. Rumah-rumah yang dibangun tersebut juga diperjualbelikan, bahkan harganya ada yang diatas 50 juta rupiah.




Siapa yang harus bertanggung jawab pada fenomena yang demikian?? Sampai kapan hal demikian akan dibiarkan dinegeri ini???.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon