Selasa, 27 Oktober 2009

Sufi Mehfil, “Orgasm Spiritual” Ala Jalaluddin Rumi

jalaludin rumi''Sudah terlalu banyak kau menari untuk dunia. Kini saatnya kau menari bagi 'Sang Kekasih'. Janganlah lagi kau mengejar bayang-bayangmu semata. Pasrahkanlah dirimu pada Allah". (Rumi)


Ekspresi untuk mencintai Allah tidak hanya diekspresikan melalui ibadah mahdhoh dalam bentuk yang umumnya dilakukan oleh umat muslim.  Ratusan tahun yang lalu salah seorang Ulama Sufi yang bernama Maulana Jalaluddin Rumi telah memberikan warisan berharga dalam khasanah Islam.  Salah satu maha karyanya adalah SUFI MEHFIL, yaitu sebuah ekspresi dari rasa cinta, kasih, dan sayang yang maha tinggi dari seorang hamba kepada sang Robbii.  Sebuah ritual para sufi untuk mengajak hati, akal, ruh untuk memuji-muji Tuhan dengan 99 asma’ul husnahnya, dilanjutkan dengan menari dengan berputar-putar ratusan, bahkan ribuan kali, dan gerakan menari akan sampai pada puncak kenikmatan dan kebahagian.



Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau biasa disebut dengan Jalaluddin Rumi atau sebutan singkatnya: Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang menjadi Afganistan) pada tanggal 6 Rabi'ul Awwal tahun 604 Hijriah, atau pada tanggal 30 September 1207 M.  Ayahnya masih keturunan dari Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi adalah seorang cendekia yang sholeh, mistikus yang berpandangan ke depan, dan merupakan seorang guru yang terkenal di Balkh.
Saat Rumi masih berusia 3 tahun, karena terjadi pergolakkan di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan.  Jalaluddin Rumi akhirnya dibawa pindah ke kota Nishapur.  Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar, dan darinya keluar sebuah ramalan bahwa si bocah pengungsi (Rumi) ini kelak akan termasyhur yang akan menyalakan api gairah ber-Tuhan.  Sebagian besar riwayat perjalanan hidup Rumi dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebutan Rum (Roma).

Salah satu maha karya Rumi adalah SUFI MEHFIL, sebuah tarian yang dipopulerkannya bersama komunitasnya Mevlevi Order. Sufi Mehfil merupakan sebuah tarian dalam tradisi sufi yang bermakna sebagai Pesta Para Sufi.  Salah satu bentuk tariannya adalah "The Whirling Dance" (memutar tubuh berlawanan dengan arah jarum jam) dilakukan secara bersama oleh sejumlah orang penari dibawah bimbingan seorang Murshid. Gerakan yang ada dalam tarian itu menunjukkan kesediaan para Pecinta Tuhan untuk masuk ke dalam diri, menghilangkan ego untuk kembali kepada kesejatian diri, dan merasakan kenikmatan yang tak mampu untuk dijelaskan dengan kata-kata (uenak poool, he..he).


Pesta para sufi ini lahir manakala seorang Pencari Tuhan bertemu dengan Sang Kekasih Yang Maha Suci, ketika merasakan kasih yang ada dalam hati dan dalam diri meletup-letup, maka perasaan ini akan ditransfer menjadi energi gerak dalam bentuk menari. Tarian yang dilakukan adalah sebuah ekspresi untuk merayakan kehidupan.  Konon, ketika menari seperti itu, para penari mengalami ekstase yang di kalangan para sufi dipahami sebagai tingkat pencapaian perasaan penyatuan dengan Tuhan.  Bahkan, ada pula yang mengaku gerakan yang tercipta ''seolah-olah'' bukan dari diri si penari.  Dari kasih inilah yang membuat seorang pencari seperti Rumi memiliki jiwa sangat lembut, dirinya tidak lagi bisa membenci atau melihat perbedaan suku, ras maupun agama.


Menurut sebuah riwayat, sang sufi di suatu pagi semasa hidupnya pernah berkata pada putranya, Sultan Walad, "akan tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita, menggemakan ucapan-ucapan kita."  Dan waktu kemudian berlayar, melintasi tahun dan abad, Konya seakan terlelap dalam debu sejarah. "Tetapi, kota Anatolia Tengah ini tetap berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi," tulis Talat Said Halman. (peneliti karya-karya Rumi).


Sampai pada akhir hayatnya, 17 Desember 1273, Jalaludin Rumi tak pernah berhenti untuk menari, karena beliau tak pernah berhenti untuk mencintai Allah.  Melalui Tarian Sufi Mehfil itu juga yang membuat namanya harum dikenang zaman.  Realitas sejarah telah menjadi saksi dari pernyataan Sang sufi, lebih dari 8 abad, Rumi bak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama untuk pada pengikutnya, the whirling dervishes, para darwis yang menari menjadi komunitas yang mulai menyebar diseluruh dunia.  Setiap tahun, dari tanggal 2-17 Desember, jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan penjuru mata angin mereka berarak untuk memperingati kematian Rumi, 801 tahun silam


Untuk mendapatkan gambaran sekilas tentang Sufi Mehfil, kita pernah menyaksikan video Klip lagu grup band Dewa 19, pada karya Ahmad Dani yang berjudul Laskar Cinta, disitu ada beberapa penari dengan kain yang melambai-lambai mengikuti putaran penarinya sehingga membentuk sebuah lingkaran, para penarinya berputar pada poros kakinya.  Semacam itulah tarian ini, pada masa sekarang setiap penyambutan tamu yang datang ke negeri Mesir, tarian ini disuguhkan sebagai atraksi budaya ucapan selamat datang.


Aku terinspirasi untuk menuliskan tema ini berawal dari pertemuanku dengan seorang sahabat lamaku sewaktu masih kuliah di Malang, setelah aku dikontak beberapa kali maka kami sepakat ketemuan di Radio Utan Kayu pada tanggal 1 Nopember 2008. Karena dia dan Istrinya adalah penggemar berat acara live radio tersebut, setiap hari Sabtu jam 10.00 WIB secara rutin radio ini menggelar acara dialog kebangsaan bersama K.H. Abdurahman Wahid.


Hari menjelang siang, acara tersebut usai, kamipun meluncur ke kawasan Senin, saya ditraktir makan siang dengan menu Rujak Cingur Arema, “wow ..dahsyat” sebuah kenikmatan rasa yang agak lama tidak saya temukan, terima kasih teman.  Selanjutnya kamipun akhirnya meluncur ke arah selatan menuju Bogor. Hujan gerimis menyambut kami saat kami merayap naik ke kawasan gunung Geulis. Setelah bertanya beberapa kali akhirnya kami sampai juga di One Eart salah satu padepokan Yayasan Anand Krisna.


Sambutan ramah dari panitia menemani kami menuju padepokan, dan tepat pada pukul 15.30 WIB kami bersama puluhan orang (mayoritas mahasiswa/wi) terlebih dahulu menonton film dokumenter yang mengisahkan perjuangan Mahatma Gandhi di Afrika Selatan.  Membangun solidaritas sosial dan berjuang untuk melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial (saat itu merupakan jajahan Inggris). S uka duka melakukan perubahan paradigma, perilaku masyarakat hingga mencapai kesadaran kritis masyarakat setempat.  Perjuangan dengan damai, anti kekerasan, menggalang perempuan, untuk menuntut perubahan yaitu perlakukan yang adil kepada ras kulit hitam. Spirit perjuangan Gandhi lahir karena pengalamannya mendapatkan perlakuan tidak adil pada awal kedatanganya di bumi Afrika, dan secara spiritual pola fikir Gandhi tergerak dan terinspirasi oleh teks salah satu ayat dalam Al-Qur’an. Kitab ini dibawa gandhi atas pemberian salah seorang warga Afrika yang tertarik akan keteguhan untuk memperjuangkan persamaan hak.


Setelah pemutaran film, kamipun makan bersama dengan menu yang sangat sederhana, hanya sebungkus nasi dengan lauk ikan telur.  Yang istimewa dipadepokan ini tidak ada satu orangpun pembantu, sehingga semua harus mandiri. Hal ini tentu sesuai dengan ajaran Mahatma Gandhi yang dikembangkan dlam komunitas ini.  Luar biasa kalau lebih banyak lagi komunitas yang bisa menerapkan hal ini.   Setelah sholat Magrib di Musholah kamipun kembali ke padepokan, malam itu kegiatan dibarengi dengan turunnya hujan yang cukup deras.


Acara dibuka dengan renungan dengan memejamkan mata dan diiringi suara-suara untuk merefleksi diri akan kemanusiaan kita.  Dilanjutkan dengan sholawatan dengan diiringi bunyi-bunyian tradisional-modern, dan disambung dengan tarian Sufi Mehfil dari komunitas. Diiringi lengkingan puji-pujian Asmaul Khusna, Sholawat Nabi, maka beberapa penari pun mulai berputar-putar, awalnya pelan-pelan seiring dengan Asmaul Khusnah dan musik yang mengiringi. Sekitar 10 menit kemudian ritme puji-pujian dan musik mulai naik, semakin cepat, hal ini diikuti oleh penari yang semakin banyak jumlahnya.....berputar-putar sekitar 15 menit.  Beberapa saat kemudian para penari mengalami ”Orgasme Spiritual”, mereka terjatuh ke lantai, meregang, kolonjotan menikmati puncak kenikmatan, antara sadar dan tidak sadar. Beberapa saat kemudian satu persatu penari yang lain akhirnya mengalami hal yang sama.


Terus terang malam itu aku sangat bisa merasakan energi spiritual yang dahsyat pada putaran para penari tersebut, dan sejujurnya saya sangat ingin merasakan ”Orgasme Spiritual” ala Sufi Mehfil ini. Menurutku kalau manusia biasa melakukan putaran tarian tanpa disertai energi spiritual pastilah belasan kali berputar sudah terjengkang. Selama ini saya hanya pernah menikmati ”Orgasme Spiritual” semacam ini pada saat melakukan Istighozah saja, waktu saya masih tinggal di Kota Pasuruan acap kali gerakan memutar kepala waktu melafalkan La illaha illallahu membawa kenikmatan yang ”gila”. Ya Maulana Jalaludin Rumi terikasih atas segala warisanmu kepada kami.


Kebangkitan spiritual, semestinya menjadi fungsi sekaligus tujuan seni dan budaya dalam membangkitkan kembali peradaban suatu bangsa.  Kendati berasal dari tradisi dari luar yaitu Turki, tarian Sufi Mehfil ini menyampaikan pesan universal yang sangat penting bagi terciptanya landasan sejati bagi toleransi antar umat beragama demi mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia. (Sha 5 w)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon