Senin, 07 Desember 2009

Belajar Ilmu Kesetiaan Pada Buaya Buntung

kesetiaan buaya buntungManusia memang mahluk sempurna, padanya dilengkapi oleh Tuhan dengan otak, hati, dan rasa. Menjadi keniscayaan kehidupan dunia ini bahwa sebagian manusia acapkali kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, sehingga terjerembab kedalam lembah yang mensejajarkan dirinya dengan binatang. Sebut saja tentang “kesetiaan”, sebagian manusia tadi tidak lebih baik dari kesetiaan yang dipertunjukkan oleh binatang, mau tahu?



Bagi yang belum tahu, maka disini ditegaskan bahwa seekor buaya jantan sepanjang sejarah hidupnya  hanya sekali melakukan dan menikmati perkawinan dengan lawan jenisnya. Seberapa banyak betina yang datang pasca perkawinan tersebut tak akan mengoyahkan tahta kesetiannya.

Meskipun dianugrahi tubuh yang kuat, powerfull, juga dengan tangkurnya yang terkenal kegagahannya tidak menjadikannya mengumbar nafsu sexualnya secara murahan. Betina yang dikawininya memang terkadang melalui proses pendekatan, persaingan, yang memakan tenaga, namun disitulah keperkasaan ala binatang air ini.

didepan rumah buaya medanMenurut penuturan salah seorang pawang buaya yang sudah mempunyai pengalaman puluhan tahun, bahwa buaya dikomunitasnya paling ramai adalah memperebutkan makan, namun setelah mendapatkan makan mereka akan diam, dan bisa juga bertahan berminggu-minggu tanpa makan kembali.

Buaya buntung diatas saya temui sewaktu ada perjalanan ke kota Medan, umurnya sudah belasan tahun. Menurut pawangnya buaya buntung ini sudah melakukan perkawinan, dan sudah lebih dari 5 tahun yang lalu dia masih menemukan kebuayaannya dengan tidak tergoda untuk menikmati buaya betina yang menggodanya.

Mungkin terinspirasi akan hal ini, sehingga pada adat betawi dikenal ada roti buaya sebagai simbol dari kesetiaan pasangan yang akan menikah. Menurut ajaran masyarakat Betawi, roti merupakan simbol kemampanan ekonomi. Sehingga roti buaya bermakana kesetiaan untuk mencapai kemakmuran bersama.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon