Jumat, 19 Maret 2010

Take Me Out, Ekspose Transaksi ”Murahan” Perempuan dan Laki-laki

Take Me Out sebuah acara dating show yang telah tercatat sukses di beberapa negara seperti Denmark, Spanyol dan Belanda. Karena kesuksesan tersebut maka untuk pertama kali di Asia Indonesia  juga mereplikasinya.  Take Me Out Indonesia diproduksi antara Fremantle Media dan salah satu televisi swasta nasional.

Acara ini cukup menarik karena mengkombinasikan format dating show dan reality show, sehingga bagi sebagian pemirsa cukup menyegarkan. funny, romantis dan entertaining. Acara ini ibarat sebuah pesta ”nafsu kecil” di mana para lelaki/perempuan datang mengamati, atau menggoda lawan jenisnya. Kemudian mereka menentukan pilihan untuk berkenalan, siap menerimanya, dan bila memungkinkan bisa merajut cinta, dst.

Seperti diumumkan oleh penyelengara bahwa prasyarat untuk mendaftar mengikutu audisi TMO adalah telah berusia antara 20 hingga 40 tahun dan harus berstatus sendiri (lajang atau janda duda). Jadi TMO bukan hanya diperuntukkan kepada gadis dan jejaka semata, tidak sedikit juga yang berstatus duda ataupun janda.

Dalam sebuah episode TMO, pihak penyelenggara menghadirkan sejumlah tujuh pria/wanita lajang untuk dipilih oleh 30 orang peserta lawan jenisnya yang memilihnya pada bagian belakang dari podium. Para 30- pemilih disuguhi sedikit penampilan dari peserta, yang tiada lain untuk memberikan waktu melihat, menimbang tentang kualitas body, wajah, dan beberapa hal lainnya seperti latar belakang sosial, pekerjaan, penghasilan, dll.

Sudah dapat dipastikan untuk ukuran yang lain sudah pasti diabaikan karena tidak meimiliki ruang dan waktu yang cukup. Bagaimanakah melihat kualitas budi pekerti, akhlak, perilaku, kemampuan beradaptasi, dll tentu akan susah dilakukan. Pada hal-hal yang bersifat simbolik, perilaku sesaat, body language, dll yang lebih banyak menjadi pertimbangan. Tentu tidak sedikit pula yang mempertimbangkan keberadaan materi, pekerjaan dari peserta tersebut.

Melihat fenomena acara yang demikiaan (mohon maaf) saya pribadi menjadi ingat proses transaksi seksual di lokalisasi Dolly Surabaya. Beberapa tahun silam kebetulan sering keluar masuk tempat ini karena kepentingan program anti perdagangan manusia (anti human traficking). Ketika para perempuan dipajang didalam ruang etalase kaca, dengan segala dandanan, geliatnya, senyumnya untuk menarik sekiat puluh lelaki yang mencoba keliling menaksir kualitas mereka.

Keputusan-keputusan yang diambil untuk memilih pasangan lebih banyak berdasarkan pada hal-hal yang bersifat simbolik, perilaku sesaat, body language semata. Pendapat ini sudah pasti pro kontra karena inilah dunia, semua punya alasan tersendiri. Tapi antara transaksi memilih pasangan di TMO langsung mengingatkan saya akan Dolly Surabaya.

Pendapat ini bukan maksud saya mempersamanya antara derajat acara TV ini dengan transaksi seksual di lokalisasi. Saya salut untuk siapapun yang berusaha untuk mencari pasangan hidup yang terbaik, namun ekpose proses pencarian seperti dalam acara ini jelas agak jauh dari akar budaya bangsa kita. Hal ini kembali bisa dimaklumi karena acara ini memang berasal dari pergaulan ala barat, dan diangkat menjadi acara TV. Bagaimana menurut anda? Tentu masing-masing punya alasan. Terima kasih.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon