Minggu, 29 Agustus 2010

Traveling Menikmati Wisata Budaya Tana Toraja Sulawesi Selatan

Tana Toraja Sulawesi Selatan merupakan salah satu target daerah wisata favorit yang patut untuk diperhitungkan. Kualitas dan kekhasan budayanya menjanjikan sebuah pemuasan yang dalam akan nafsu wisata seseorang. Mengunjunginya adalah sebuah Obsesi lama yang terpendam, namun atas izin-NYA ditengah bulan Ramadhan ini asa itu bisa terkabulkan. Amien. Berikut beberapa catatan kecil hasilnya...
Wisata Tana Toraja akan sangat sempurna untuk dinikmati apabila kedatangan anda tepat dengan prosesi upacara adat tertentu. Karena anda akan menjadi saksi ritual budaya tersebut yang susah untuk ditemukan ditempat yang lain. Namun bila sewaktu-waktu anda berkunjung maka kekayaan budaya lainnya tidak kalah indah dan mempesona.


Tana Toraja memang memiliki dua jenis upacara adat yang populer yaitu Rambu Solo' dan Rambu Tuka. Rambu Solo' adalah upacara pemakaman, sedangkan Rambu Tuka adalah upacara selamatan atas rumah adat yang baru (direnovasi). Kedua upacara adat ini sampai saat ini masih lestari dan bahkan dijadikan magnit wisata khas daerah ini.


Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan, maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju nirwana. Bagi kalangan dari bangsawan yang meninggal, maka mereka memotong kerbau bisa berkisar antara 24 sampai dengan 100 ekor. Satu diantaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya.


Masyarakat Tana Toraja Sulawesi Selatan meyakini bahwa orang yang meninggal dunia belum dikatakan orang mati sebelum dilakukanya upacara Rambu Solo', jadi orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit. Karenanya maka masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup, menyediakan makanan dan minuman, rokok atau sirih, dll.


Salah satu atraksi yang khas dari Tana Toraja adalah penyembelihan kerbau yang berfungsi sebagai kurban (Ma'tinggoro Tedong). Sebuah cara penyembelihan khas orang Toraja dengan menebas leher kerbau dengan sebilah parang dengan sekali ayunan, kerbau akan langsung terjungkal bermandikan darah beberapa saat kemudian.


Lokasi wisata Tana Toraja yang sempat saya kunjungi dan nikmati adalah salah kawasan budaya tempat pelaksanaan upaca adat. Untuk mengunjungi daerah ini anda akan dikenakan tiket tanda masuk Rp. 5000/ orang. Sangat murah untuk ukuran sebuah daerah wisata yang khas dan jarang dijumpai ditempat lain.


Setelah masuk gerbang, nampak sebuah kolam dan disampingnya adalah sebuah lapangan seluas setengah lapangan bola. Menurut penjelasan penduduk disitulah biasanya dilakukan upacara adat tertentu. Nampak dibelakangnya beberapa deret lumbung padi beberapa keluarga yang cantik dan khas Toraja.


Perlu diketahui masyarakat Toraja mengolah sawahnya dengan menanami padi jenis gogo yang tinggi batangnya. Disepanjang jalan masih banyak kita temui padi dijemur dengan batangnya dengan jara diikat dan ditumpuk keatas. Masyarakat masih banyak yang menyimpan padi dengan tangkainya di lumbung khusus. Beberapa lumbung ini juga dihiasi dengan tanduk kerbau pada bagian depan serta rahang kerbau dibagian sampingnya. Tidak kuat lagi menahan, maka sayapun beraksi disana sini menerima jepretan kamera.



Setelah merasa puas maka saya meneruskan perjalanan dengan masuk kedalam, naik ke bukit, dan disana berjejejr beberapa makam bangsawan. Untuk bukit yang agak tinggi saya temukan beberapa peti kerangka mayat yang digantung. Beberapa peti sudah lapuk dan jatuh, beberapa isinya berupa tengkorak dan tulang nampak berhamburan. Sayapun iseng untuk melihat beberapa tengkorak tersebut, Subhanallah manusia akhirnya hanya menjadi demikian ya.....



Dibukit atas juga ada sebuah goa yang dipergunakan tempat menyimpan tengkorak pula, namun karena waktu agak sore dan saya tidak membawa bekal lampu penerangan yang memadai maka keinginan untuk menyusuri goa terpaksa ditangguhkan. Akhirnya saya dan beberapa rekan hanya berfoto dibeberapa sudut bukit ini saja.


Udara yang sangat terik pada siang hari saat menuju ke Tana Toraja pada sore hari mendadak menjadi semakin sejuk dan cenderung dingin. Ya nampak kabut juga sudah mulai bergelayut dirindang pepohonan. Saya jadi ingat suasana sore di kota Malang.




Salah satu hal lain yang menarik dari Tana Toraja dan banyak dibahas orang adalah keberadaan kerbau khas Tana Toraja. Yaitu kerbau khas berwarna seperti sapi perah, bermata agak putih, beberapa bagian tubuhnya seperti bule. Karena jumlahnya yang terbatas namun permintaan tinggi maka harganya melanggit minimal bisa mencapai Rp. 100.000.000,- . Bahkan beberapa kali ada yang menembus Rp. 400.000.000,-.


Harga setinggi itu karena tidak semua kerbau disana bercorak khas, umumnya seperti kerbau yang ada ditempat lain. Kerbau khas ini secara biologis sebenarnya mengalami mutasi genithal dengan konfigurasi khusus. Karena langka maka oleh masyarakat akhirnya menjadi simbol status sosial dari keluarga yang sedang melakukan pesta kematian tersebut.


Rasanya hanya bisa bersyukur bisa mengunjungi obyek wisata budaya yang khas dari Tana Toraja ini, meskipun hanya sekelumit sisi saja namun sudah cukup. Maklumlah kunjungan ini saya lakukan hanya disela-sela aktifitas pekerjaan di tanah Sulawesi. Kalau menuruti suara hati rasanya 5-7 hari masih OK untuk menikmati keindahan daerah ini.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon