Senin, 23 Agustus 2010

Traveling Ramadhan Mengunjungi Palopo Sulawesi Selatan

Puasa Ramadhan pada sepuluh hari yang kedua saya pergunakan untuk acara traveling saya di pulau Sulawesi, ali ini fokus untuk mengunjungi Kota Palopo. Ya memang saya traveling ini untuk sebuah tugas dari kantor, namun seperti biasa disela-sela waktu luanngya saya akan optimalkan untuk belajar sosial budaya masyarakat setempat dengan mengunjungi beberapa situs pentingnya.


Dengan durasi traveling selama lima hari maka obsesi pribadi langsung muncul dibenak saya: pertama, saya ingin melakukan ibadah sholat wajib dan tarawih di masjid  Tua Palopo yang konon merupakan masjid Kerajaan Luwu. Kedua; saya ingin ngeblog dari daerah ini, mungkin menulis beberapa artikel untuk beberapa blog yang saya kelola. Kedua obsesi ini tentu tidak boleh menghalanggi pelaksanaan tugas pekerjaan karena itu juga sebuah amanah yang harus diemban.

Sudah menjadi kebiasaan saya, disetiap tempat yang saya kunjungi adalah memperbanyak sholat dibanyak masjid/musholah, bukan apa-apa sih, hanya merasa nyaman saja sebagai bekal perjalanan. Dan di Palopo saya akan pastikan Isya Allah bisa mengunjungi Masjid  Tua Palopo. Masjid ini didirikan oleh Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M.


Obsesi saya tersebut rasanya bersesuaian dengan kepercayaan sebagian orang yang datang ke Kota Palopo, dikatakan belum resmi menginjakkan kaki apabila belum menyentuh tiang utama dari Masjid Tua Palopo ini. Tiang ini dibuat dari pohon Cinaduri, sedang dinding tembok masjid menggunakan campuran bahan dengan putih telur. Arsitektur dari masjid Tua Palopo memang cukup unik karena mengadopsi empat unsur bersebati (melekat) dalam konstruksi masjid, yaitu unsur Bugis, Jawa, Hindu dan Islam.


Kalau tidak ada aral dan waktu memungkinkan maka mengunjungi istana Raja Luwu patut juga diagendakan. Melihat secara langsung khasanah kekayaan budaya Nusantara dari tanah Luwu rasanya sebuah oleh-oleh yang tidak akan terlupakan. Daerah ini begitu bersejarah dengan peristiwa yang sangat tenar yaitu pembantaian yang dilakukan oleh Westerling di bumi Sulawesi.


Seusai sholat subuh, berkemas menuju cengkareng, perjalanan agak tersendat, maklumlah hari senin memang Jakarta selalu demikian. Sesampai di Bandara, sambil menunggu penerbangan saya sempatkan menulis beberapa bagian dari artikel ini. Tepat jam 08.00 WIB, petugas mengumumkan untuk segera memasuki pesawat. Alhamdulillah tepat pukul 08.30 Pesawat Garuda take off menuju Makassar. OK dilanjut dengan artikel lainnya kemudia ya.

Terima kasih

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon