Selasa, 26 Oktober 2010

Mbah Maridjan Meninggal Dunia, dan Beberapa Kenangan Bersamanya

Berita televisi hari ini seputar bencana letusan gunung Merapi, seolah menjadi jawaban atas kegalauan hati atas nasib Mbah Maridjan. Diberitakan beliau telah ditemukan oleh Tim SAR dalam keadaan sholat dan bersujud menghadapNYA, tubuhnya  terbakar, tertimpa atap rumah dan matrial letusan gunung Merapi. Mbah… engkau begitu siap menyambut kehadiran sang sakaratul maut.


Beberapa hari terakhir diberitakan media bahwa wedus gembel semakin menebal bergulung mulai dari puncak Merapi sampai ke kaki gunung. Seolah sudah tidak kuasa lagi menahan tekanan yang berat maka kemarin  akhirnya matrial dihamburkan kewilayah disekitar. Beberapa desa sekitar kaki gunungpun porak-poranda. Utamanya desa yang hanya berjarak 2-5 Km dari puncak gunung.


Fenomena yang demikian mendorong saya untuk SMS beberapa teman yang tinggal di seputar kaki gunung Merapi. Sambil bergurau beberapa kata saya tulis teks SMS  “ mas/mbak tolong selamatkan asset bangsa: mbah Maridjan sang sufi Merapi!  agar kita masih punya kesempatan dan waktu untuk terus belajar dari beliau.


Tapi Allah berkehendak lain, karena rencana evakuasi tim SAR kepada mbah Maridjan tertunda karena beliau berkehendak untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu. Tapi justru momen Mbah Maridjan yang melakukan ritual menghadap Sang Khaliq menjadi aktifitas terakhir dalam hidupnya. Sebuah prosesi kematian yang special bagi seorang “sang sufi merapi”.


Sangatlah langka seorang hamba Allah diberikan kesempatan menhadapi sakarotul maut saat melakukan ibadah sholat. Tentu sebuah hal istimewa yang maknanya hanya menjadi rahasia Allah semata. Namun kita sebagai sesama hamba wajib mengambil hikmah dari kejadian yang demikian, sehingga kita berharap menjadi hamba yang semakin khusu’ dan bertaqwa.


Memang sebuah sikap yang patut ditauladani dari mbah maridjan, beliau tidak mau meninggalkan tugasnya sebagai penjaga gunung sampai maut menjemputnya. Baginya turun gunung saat tugasnya dibutuhkan adalah ibarat prajurit yang lari dari tugas (disersi). Bagi beliau amanah dari Sultan Hamangkubuwono IX akan terus diembannya sampai tugas tersebut dicabut oleh Sultan.


Saya patut bersyukur karena sempat dua kali mengunjungi, silaturahim, sungkem, dan ngaji kepada mbah Maridjan di kediaman tepatnya di kaki gunung Merapi. Kunjungan pertama saya lakukan pada medio tahun 2009 saat ada acara kunjungan disekitar kawasan Kaliurang. Dan untuk kunjungan yang kedua kerumah mbah Maridjan saya lakukan beberapa bulan lalu.


Segenab ilmu tentang hidup dan kehidupan sempat saya serap dari beliau. Akhirnya saya hanya bisa mengucapkan SELAMAT JALAN MENGHADAPNYA MBAH MARIDJAN, SEMOGA AMAL IBADAH DITERIMA DITERIMA DISISINYA, AMIEN.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon