Rabu, 01 Desember 2010

Kemacetan Lalu-Lintas Jakarta, Sebuah Potensi Wisata Bencana

Kemacetan lalulintas Jakarta berstatus “AWAS”, pada hari Senin pagi dan Jumat sore Berstatus “SIAGA 1”. Kenapa sangat lambat ditangani? Kalau merasa tidak mampu silahkan lempar handuk putih!!!. Atau memang sengaja akan dijadikan sebagai obyek wisata bencana??? Bagaimana menurut anda?
Ibukota Jakarta merupakan kota yang terbesar di Indonesia, dari data catatan sipil (2007), jumlah penduduk DKI Jakarta sebesar 7.706.392 jiwa. Kalau diperkirakan pada siang hari jumlah penduduk mencapai 13 juta jiwa. Penambahan penduduk pada siang hari dari seluruh penjuru pinggiran kota Jakarta seperti kawasan Jabodetabek.


Kondisi yang demikian menandakan bahwa mobilitas penduduk Jakarta dan sekitarnya sangat tinggi, karena ada berjuta manusia yang bergerak secara rutin setiap harinya. Fenomena ini tentu membutuhkan infrastuktur transportasi yang memadai, nyaman, efisien, sehingga kota Jakarta masih layak untuk beraktifitas dan menjalankan fungsi sebagai ibukota Indonesia.


Pada kenyataanya Jakarta semakin tak berkutik, dan terbelit oleh masalah pelik tentang kemacetan lalulintas. Perdebatan, penelitian, diskusi, seminar, lokakarya, bahkan demonstrasi sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk mencari solusi penanganan kemacetan lalulintas Jakarta. Waktu terus bergerak, kebijakan yang fundamental harus diambil, mengelola permasalahan ini harus dengan sebuah kebijakan yang tegas, cepat, transparan dan terencana secara matang.


Aneka ragam permasalahan yang menyertai  seperti laju pertambahan kendaraan (mobil, motor) yang tinggi, serbuan kendaraan dari luar kota, pengendara/pengemudi tidak patuh peraturan lalulintas, semakin marak parkir sembarangan, kendaraan berhenti seenaknya, berkendaraan dengan melawan arus, penyeberang jalan yang tidak teratur,  banyak rambu-rambu yang tidak ditaati, belokan/putaran liar, dll. Yang terasa adalah berkendaraan di Jakarta sudah menurun kualitas kenyamanan dan keamanannya, bahkan bisa dibilang semakin mendekat ke kerawanan bahkan bahaya.


Kemacetan sangat identik dengan kerugian: buang banyak waktu, pemborosan  biaya (bensin , perawatan kendaraan, dll),  menambah polusi, semakin tidak sehat, membuat stress sosial, pendorong global warming, menimbulkan banyak kecelakaan, dll. Sudah tidak terbantahkan bahwa kemacetan sangatlah merugikan berjuta manusia, bermilyar uang rakyat, bermilyar uang negara. Menunggu apa untuk menyelesaikan ini semua?


Pemerintah pusat, pemprov DKI Jaya dan Pemerintah kota harusnya bekerja ekstra keras untuk bersama-sama menyusun sebuah perencanaan yang komprehensif untuk mencari jalan keluar masalah ini. Pelibatan Pemda Jabodetabek juga tidak mungkin untuk ditinggalkan juga. Masyarakat hanya sederhana: yaitu menunggu aksi nyata pemerintah yang telah diamanahi untuk mengatur masyarakat dengan segala problemanya.


Menunggu apa yang ditunggu, menanti apa yang di nanti? Kekuasaan sudah ada ditangan anda, anggaran sudah dalam genggaman, segenap sumberdaya siap untuk digunakan. Lakukan sesuatu segera!!! Kalau memang sudah menyerah, maka segeralah juga anda melempar handuk putih, biarlah yang lain yang kompeten akan menghandle pekerjaan penuh tantangan ini.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon