Kamis, 10 Maret 2011

Mengunjungi Obyek Wisata Benteng Portugis Tohula di Kota Tidore, Maluku Utara.

Christopher Columbus penemu Benua Amerika saja terpikat sama daerah Ternate dan Tidore, meskipun alasannya karena bisnis rempah-rempah khususnya cengkeh. Kalau Yunan Shalimow kepincut dan kesengsem  untuk mengunjungi Ternate dan Tidore karena apanya ya? OK, untuk melengkapi paparan traveling sebelumnya di Sabang, Samarinda, Tana Toraja, dan Papua New Guinea, berikut tentang Tidore.
Obsesi yang agak lama mengendap dalam kalbu untuk kembali menikmati keindahan pemandangan alam “surgawi” di Maluku Utara, maklum saya terakhir kali mengunjungi pulau Ternate sekitar bulan Desember 2008. Maka semakin meletup-letup nafsu kecil saya manakala berkesempatan pula untuk menyeberang ke pulau Tidore. Wowowowow asyiiik. heheheh


Tidore memang merupakan kota yang termashur sejak zaman penjajahan beberapa abad silam karena produk unggulnya cengkeh dan pala. Bangsa Eropa yang pertama menginjakkan kakinya di pulau Tidore adalah para pelaut Spanyol pada tahun 1512. Kemudian berabad-abad lamanya kekayaan daerah ini dikuras ke eropa.


Kota Tidore juga menorehkan sejarah karena sempat menjadi ibukota provinsi perjuangan merebut kembali Irian Barat. Namun setelah Papua masuk NKRI maka statusnya berubah menjadi ibukota administratif Halmahera tengah. Kemudian pada Tahun 1990, berubah menjadi kabupaten Halmahera Tengah.  Tahun 2003, Tidore secara resmi menjadi kota Tidore Kepulauan.


Kalau anda mempunyai uang kertas ribuan, tolong untuk dibalik, maka akan terlihat gambar pemandangan alam dan diatasnya bertuliskan pulau Meitara dan Tidore. Itu adalah salah satu bukti bahwa keindahan pulau Tidore memang sangat cantik dan aduhai, sehingga layak untuk dinikmati oleh mata dan mata hati yang “dahaga” untuk mereguk keindahan ciptaan sang Khaliq.


Karena traveling saya kali ini tujuan utamanya adalah mengemban tugas dari kantor maka factor waktu, dll memang terbatas untuk mereguk keindahan pulau Tidore dan sekitarnya. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Benteng Portugis Tohula yang tepat berada di tengah kota Tidore.



Benteng Portugis Tohula berasal dari nama pelabuhan Tohula hasil karya arsitektur Spanyol, yang letaknya tepat didepan benteng. Dari benteng ini memang akan bisa melihat dengan jelas wilayah pantai sehingga pergerakan kapal musuh bisa terpantau sejak dini. Saya juga belum mendapatkan kejelasan tentang status benteng ini apakah peninggalan Spanyol atau Portugis? Tapi dari penjelasan masyarakat benteng ini dikenal dengan benteng Portugis.


Sayang sejuta sayang, peninggalan bersejarah yang mahal harganya dan potensial untuk dijadikan tempat wisata sejarah ternyata terbengkalai dan dibiarkan merana dan rusak. Bangunan benteng pada beberapa bagian pasangan batu hitamnya sudah mengalami kerusakan. Pada bagian atas kawasan ini ditanami warga dengan tanaman cabe, pisang sehingga semakin meyakinkan bahwa kawasan ini diterlantarkan dengan sopan oleh Pemda kota Tidore.


Saya mengunjungi obyek ini selepas sholat subuh, nonton Tohula sejenak, lalu jogging dan mampir ke kawasan ini. Dari tempat yang paling tinggi saya bisa semakin menikmati bahwa pemandangan beberapa sisi kota Tidore begitu mempesona, ingin rasanya berlam-lama menikmatinya. Wow dahsyat. Karena tidak membawa kamera berkualitas bagus, maka kamera ponsel menjadi andalan untuk mengabadikan hobby GIFO (gila foto) saya, hehehe.


OK, segini dulu ya ceritanya.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon