Rabu, 14 Desember 2011

Satu Jam Naik Perahu Motor Menuju Wilayah Terpencil, Dusun Pucukan, Candi Kabupaten Sidoarjo.

Bahagia luar biasa saat berkesempatan mengepakkan sayap silaturahim kepada saudara-saudara kita yang hidup; disebuah daerah yang terpencil, terpinggirkan, penuh kesederhanaan dan kesahajaan. Sederet kata yang ingin terucap pasca kunjungan silaturahim ini adalah himbauan, ajakan kepada pihak terkait untuk membantu mereka, baik Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat Umum. Ayo bantu mereka!!!.





Dusun Pucukan adalah suku kata yang terucap oleh bibir seluruh anggota rombongan pada hari itu. Rabu pagi sekitar jam 09.00 WIB, tepatnya tanggal 7 Desember 2011, beberapa  buah mobil rombongan mulai menapak jalan raya, menuju ke arah Timur Kota Sidoarjo tepatnya di kecamatan Candi. Tepat di balai kelurahan kami bertemu dengan beberapa warga yang sudah menunggu kehadiran rombongan, lalu kamipun dipandu untuk menyusuri beberapa jalan perkampungan menuju lokasi sasaran; Dusun Pucukan.



Sekitar 15 menit kemudian kami sampai dan berhenti pada suatu tempat sandaran perahu ditepi sebuah sungai yang lebarnya sekitar 8-15 meter. Dua buah perahu motor tradisional berbahan kayu sudah siap untuk mengantarkan rombongan. Rombongan berkemas untuk menyiapkan bekal makanan, minuman, dan perlengkapan lain yang diperlukan termasuk alat-alat dokumentasi, data-data  pendukung, dll. Maka dengan tertib kamipun masuk satu persatu dengan perahu motor.


Sebagaimana penjelasan yang kami terima bahwa dusun ini merupakan wilayah paling terpencil di Sidoarjo. Dusun ini berjarak sekitar 25 km arah timur kota Sidoarjo, dihuni oleh penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan tradisional dan pekerja tambak ikan air payau. Perkampungan ini dihuni  kurang lebih sekitar 54 KK, mayoritas dari mereka adalah beragama Islam.


Sarana transportasi yang digunakan untuk menuju desa ini satu-satunya menggunakan alat transportasi air berupa perahu motor. Perahu motor ini menyusuri sebuah sungai yang menuju kelautan lepas. Kalau pada musim kemarau masih memungkinkan melalui perjalanan darat dengan kendaraan motor yaitu melalui tanggul tambak. Perjalanan darat ini dipastikan berkelok-kelok, lama dan rawan jatuh karena tanggul tambak yang sempit dan tidak rata.



Setelah iring-iringan dua perahu menyusuri derasnya aliran sungai selama sekitar 1 sampai 1,5 jam maka perahu mulai menepi dan bersandar. Sederetan perahu motor kecil nampak menghiasi pada setiap belakang rumah penduduk kampung, maklum inilah alat transportasi warga satu-satunya. Semua anggota rombongan satu persatu naik kedaratan, dengan melewati salah satu rumah warga kamipun menyusup kearah perkampungan (depan rumah). Ternyata perkampungan adalah puluhan rumah warga yang berjajar, berdiri diatas tanggul sungai yang terletak antara sungai dan kawasan pertambakan ikan.


Wowowow sebuah pemandangan yang eksotik, hamparan tambak ikan terkampar luas sejauh mata memandang. Bau amis ikan dan uap air payau semakin memberikan aroma yang khas untuk berfungsi sebagai parfum paru-paru siang itu. Dari pengamatan sekilas, kondisi Dusun ini seolah berbicara sebagai wilayah yang tertinggal bila dibandingkan dengan dusun di sekitarnya. Menyaksikan rumah sederhana yang berjajar, rata-rata berdinding gedeg dan sebagian lagi menggunakan kayu lapis/triplek. Atap rumah sebagian menggunakan genting dan sebagian lagi menggunakan seng dan asbes.



Didepan salah satu rumah warga terlihat instalasi PLTS, namun setelah saya gali informasi dari warga ternyata alat tersebut tidak berfungsi. Karena tidak ada listrik, maka penerangan rumah pada malam hari, memakai lampu temple dengan bahan bakar minyak Tanah. Sebagian yang mampu telah menggunakan disel, sehingga bisa menonton televisi. Apabila tidak juga punya minyak tanah maka tidak jarang beberapa rumah melalui malam dengan gelap gulita sampai pagi menjelang.


Beberapa warga mengeluh ganguan kesehatan yang banyak dialami oleh warga seperti penyakit liver, lambung, typus, dan penyakit pencernaan. Seperti diketahui pekerjaan yang ditekuni memang mengharuskan tidur tidak teratur seperti layaknya warga lain. Terutama nelayan dan penjaga tambak karena harus tidur menjelang pagi datang. Belum lagi pola makan dan gizi yang belum tentu terpenuhi. Mayoritas warga sangat jarang mengkonsumsi sayur dan buah, tapi kalau protein dari ikan, kepiting cukup mudah mereka dapatkan.


Penyebab kemiskinan mereka tentulah infrastruktur, yang menyebabkan akses transportasi yang minim dan mahal, masalah akan semakin akut karena ketaksediaan air bersih dan air minum, mereka terpaksa harus membeli minimal 3 jurigen seharga Rp. 15.000,- setiap harinya, kalau ditotal dalam sebulan sebesar Rp. 450.000,- . Tentu ini tidak adil kalau warga kota untuk membayar PDAM umumnya hanya Rp.50.000-100.000,- bisa memenuhi kebutuhan air keluarga. Wanita adalah pihak yang paling merasa menderita dengan susahnya air layak konsumsi karena aktifitas memasak tidak bisa leluasa.


Upaya untuk mengatasi kesulitan air dengan membangun sumur artesis yang ada dipojok kampung, namun debit air yang keluar sangatlah kecil. Hal yang merisaukan adalah hasil test kandungan air tersebut. Ternyata sangat tidak layak untuk dikonsumsi, karena kandungan timbal, zink, besi, belum lagi mikrobanya. Uji laborat tentu akan semakin memperkuat konposisi kandungan zat kimia air tersebut. Warga harus segera diselamatkan dari penyakit berbahaya karena kawasan ini tentu merupakan ujung aliran sungai dari air buangan industri di kota.


Fenomena yang ada didusun ini sudah pasti memerlukan pendalaman dalam bentuk kajian intensif multi bidang sehingga didapatkan simpul-simpul masalah dan potensi yang ada. Beberapa bentuk pemberdayaan yang bisa diinisiasi untuk dilakukan didusun ini seperti: bidang ekonomi untuk menjajagi usaha peternakan ayam, kambing, sapi, pertanian sistem hidroponik. Dibidang sosial adalah penguatan kelembagaan lokal untuk mendukung kayanan; pembuatan klinik kesehatan warga yang rutin dan intens dilayani dokter, peningkatan kualitas pendidikan, dll. Dibidang infrastruktur tentu yang utama adalah akses jalan menuju dusun ini, selain itu adalah; rumah sehat, perbaikan sanitasi, dll. OK ini hanya secuil catatan ringan, Siapa mau bantu saudara kita???.

Artikel Terkait

1 komentar so far

saya sangat setuju sekali dengan artikel ini, pemerintahan kita harus bisa memerhatikan rakyatnya sampai ke akar-akarnya.

salam Admin : Sundulbet.com
www:sundulbet.com mohon untuk kunjungannya.


EmoticonEmoticon