Cara Memperlakukan Ari-Ari Bayi, Ada Mitos Apa Ya?

Tradisi beberapa kelompok masyarakat di tanah air, memposisikan ari-ari bayi (plasenta) seperti “saudara kembar” dari bayi yang telah dilahirkan. Karenanya beberapa kelompok masyarakat tersebut memperlakukan ari-ari tersebut dengan ritual tertentu sesuai dengan adat istiadat setempat, mitos apa dibalik fenomena demikian?.
Lahirnya anggapan bahwa ari-ari diposisikan sebagai saudara kembar dari bayi karena setiap proses kelahiran akan selalu dibarengi dengan ari-ari. Secara biologis maka masa kehamilan dalam perut ibu maka ari-ari memang “mendampingi” sang janin, hal ini ari-ari mengembang beragam fungsi yaitu sebagai alat respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh.

Apabila salah satu fungsi vital tersebut terganggu, maka janin akan mengalami masalah dan akan membuat pertumbuhan biologisnya juga berpeluang mengalami gangguan. Beragam kelainan dari pertumbuhan ari-ari baik bawaan ataupun akibat pengaruh lingkunganmaka tidak berlebihan apabila ari-ari disebut “saudara kembar” sang janin.

Ketika proses persalinan berlangsung maka ari-ari juga dikeluarkan sehingga setelah dipotong pada ujung pusar dan pada ujung yang lainnya. Gumpalan daging yang kaya protein dengan berat  sekitar 0,5 sampai dengan 1 kg.   Ari-ari ini tidak terbantahkan sebagai potongan dari tubuh manusia karenanya diperlukan pengetahuan cukup untuk memperlakukannya.

Dalam ajaran Islam tidak ditemukan sandaran teks yang mengatur tentang hal ini secara eksplisit. Namun Islam mensyaratkan untuk memperlakukan ari-ari bayi yang baru lahir tersebut dengan cara yang beradab. Akan lebih baik apabila ari-ari tersebut dikuburkan, untuk tempatnya bisa dimasukkn kedalam gerabah/kendi dari tanan agar tidak berceceran.

Beberapa mitos terkait ari-ari juga ada pada masyarakat kita terkait hal ini, misalnya adat Jawa menanamnya yang terlebih dahulu diberikan beberapa macam bumbu dapur (garam, kunir, ketumbar),  dibungkus kain putih, lalu diatas gundukan tempat ditanamnya diberi penerangan selama 40 hari, dll). Dibungkus kain putih karena menghormati organ manusia untuk diperlakukan seperti dikafani, diberikan bumbu dapur garam, kunir, ketumbar agar mempunyai tujuan tertentu.

Adat Bali juga terdapat upacara Garbha Homa, dalamkonsep agama Hindu menegaskan bahwa: ari-ari seharusnya dirawat karena sang bayi telah terikat janji. Dalam Manawa Dharma Sastra 11.27 tersurat tentang upacara Garbha Homa, menceritakan bahwa bayi dalam kandungan di emban oleh Bhatara Çiwa merupakan pengejewantahan dari konsep Hindu yang mengatakan bahwa Tuhan melindungi semua ciptaanNya.

Adat Batak juga percaya kalau ari-ari memang saudara kembar dari bayi. Ari-ari dimasukkan ke dalam bakul anyaman dari daun pandan atau dimasukkan ke dalam gerabah dari tanah liat. Yang beda dengan adat Jawa adalah: di masyarakat Batak tidak menambahkan aneka barang sebagai simbol pengharapan.
Adat Palembang, pada umumnya ari-ari dikubur setelah dibersihkan dan diberi aneka barang sebagai lambang pengharapan dari orangtua dari si bayi. “Kalau anak perempuan biasanya ada bumbu dapur, maksudnya biar pandai masak. Sedangkan anak laki-laki biasanya disertai alat tulis dengan harapan agar kelak menjadi anak pandai.

Setelah diperlakukan demikian maka prosesi penguburanpun dilakukan, pada masyarakat Jawa pada umumnya mengubur ari-ari di pekarangan sebelah kanandari  rumah, meneranginya dengan cahaya lampu selama 40 hari.

Suku Bone di Sulawesi Selatan percaya bahwa ari-ari harus dikuburkan di bawah pohon kelapa karena diharapkan bayi bisa tumbuh memiliki martabat tinggi sekaligus memberi banyak manfaat untuk masyarakat. Masyarakat Palembang lebih suka menanamnya di masjid dengan harapan agar si anak nanti rajin ke masjid.

Demikian beberapa fenomena adat istiadat daerah terkait memperlakukan ari-ari bayi. Terima kasih, semoga manfaat.

Yunan Shalimow

About the Author

Yunan Shalimow

Sahabat terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, semoga bisa memperkuat tali persahabatan online/offline kita. Blog ini Adalah Waqaf Onlineku Untuk Semua... Bagiku menjadi blogger adalah panggilan jiwa untuk membuka ruang bagi saujana..... Hidup Untuk Memberi; Berilmu Amaliyah, Beramal Ilahiyah, Memberi Merupakan Puncak Kebahagiaan...

Leave a Comment:

All fields with “*” are required

Leave a Comment:

All fields with “*” are required