Kawin Kontrak, Wisata Sexual Vs Kemiskinan

meterai-6000Kawin Kontrak merupakan fenomena sosial yang cukup menarik, karena mempunyai latar belakang multidimensi. Hasil analisis beberapa penelitian terkait ternyata ada keterkaitan erat antara munculnya fenomena ini dengan kemiskinan disekitar lokasi praktik ini. Secara kebetulan saya berkesempatan dan pernah tinggal selama dua tahun lebih (2003-2006) di Pasuruan, Jawa Timur, dan inilah sedikit paparan tentang kawin kontrak tersebut.

Aku bisa sebuah desa yang sudah banyak dicover oleh media, serta dijadikan lokaso research karena munculnya fenomena “kawin kontrak”-nya.  Nama desa tersebut adalah Kalisat, merupakan salah satu desa diwilayah kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, posisi desanya agak terpencil dan lumayan jauh dari kota, tepatnya 15 kilometer arah ke barat (ke arah Bangil) dari kota Pasuruan.

Kawin sirri dan kawin kontrak (mut’ah)
Untuk membangun sebuah rumah tangga yang bahagia adalah salah satu dari tujuan perkawinan. Hampir semua agama menyerukan dalam teks-teksnya, sehingga perkawinan menjadi sebuah episode kehidupan yang religius.  Karenanya ada norma-norma yang mengaturnya baik  yang berhubungan dengan manusia maupun dengan Tuhan. Dalam Islam mensyaratkan beberapa hal untuk syahnya sebuah perkawinan, namun beberapa varian pemahaman dan penerapan telah terjadi, dan ini menjadi sebuah fenomena yang ada diantara kita.

Salah satu istilah yang sering kita dengar adalah kawin sirri, pengertian umumnya adalah sebuah perkawinan yang dilakukan menurut syarat-syarat yang  diatur oleh agama: ada mempelai, ada wali perempuan, ada ijab-qabul, dan ada maharnya. Namun perkawinan ini tidak dilakukan di hadapan pegawai pencatat nikah (Naib) dari KUA seperti yang diatur dalam UU perkawinan, sehingga perkawinan sirri dianggap sah menurut agama tetapi belum memenuhi ketentuan pemerintah.
Jenis perkawinan yang lain adalah kawin kontrak (mut’ah), secara etimologis, kawin kontrak mempunyai pengertian ”kenikmatan” dan ”kesenangan”. Dalam hukum Islam, perkawinan kontrak adalah suatu ”kontrak” atau ”akad” antara seorang laki-laki dan wanita yang tidak bersuami, ditentukan akhir waktu perkawinan dan mas kawin yang harus diserahkan kepada kpihak perempuan. Seorang laki-laki diperbolehkan melakukan perkawinan terhadap satu sampai empat perempuan. Sedangkan wanita hanya diperbolehkan melakukan kontrak dengan seorang laki-laki dalam satu periode. Perlu diketahui bersama bahwa Fiqh tentang kawin mut’ah ini masih mengundang kontraversi disebagian umat muslim lainnya.

Perkawinan yang ramai dibicarakan di desa Kalisat bisa disebut sebagai kawin kontrak (mut’ah), disini banyak ditemukan perkawinan yang hanya berumur sementara saja (tentatif) tentunya sesuai dengan kesepakatan dari pegiat perkawinan ini. Latar belakang umum terjadinya perkawinan kontrak disini adalah bila seorang pria menyerahkan mas kawin yang telah disepakati oleh calon pasangan wanita, umumnya maskawin (mahar)nya berupa uang, perbaikan rumah, perhiasan emas, wartel, mesin jahit, dll.
Sejarah lahirnya perkawinan kontrak disini cukup sederhana, yaitu ketika ada beberapa pemuda desa Kalisat, yang ingin  kawin, mereka  datang ke kiai desa untuk dicarikan jodoh. Kemudian sang Kiai mencarikan wanita yang belum memiliki suami dan siap untuk menikah. Sang Kiai kemudian meminta kepada orang tuanya bahwa ada seorang laki-laki yang ingin melamar anak wanitanya. Respon dari orang tua umumnya langsung setuju, kemudian memberikan foto anaknya meskipun tanpa persetujuan si perempuan . Anak perempuan karena takut ”kualat” atau dianggap ”durhaka” pada orang tua, maka hanya bisa bilang ”hooh” saja .

Pernikahan selanjutnya diproses, dengan sederhana, karena alasan ekonomi maka pernikahan yang terjadi hanya dilakukan secara sirri.  Acara pernikahanpun cukup hanya mengundang para tetangga tetangga terbatas kedua belah pihak. Karena dipandang sebuah proses yang gampang dan murah maka ”berita gembira” tentang perkawinan ini pun dimanfaatkan oleh pihak tertentu dengan mendatangkan pelaku dari luar. Karena ada peluang terjadinya kegiatan “wisata sexual” maka kawin sirri bergeser menjadi kawin kontrak. Karena modus ini dilakukan beberapa kali sehingga terpola dan secara sosial terbentuk sebuah jaringan; ada pencari wanita, ada “mak comblang”, ada yang mengkawinkan, ada saksi-saksi, dan ada yang khusus sebagai tamu yang menghadiri undangan akad nikah.

Besarnya biaya untuk melakukan kawin kontrak juga seperti perkawinan pada umumnya, yaitu relatif, tergantung beberapa faktor. Karena pernikahan ini tanpa melakukan pesta maka biayanya meliputi operasional akad nikah dan mahar saja. Untuk sebuah pernikahan seorang mempelai lelaki harus mengeluarkan biaya antara Rp.500.000 sampai Rp 2 juta/ lebih. Biaya ini tentu hanya untuk operasional “jaringan kawin” saja, belum termasuk mahar untuk perempuan. Kalau mahar tentu tergantung pada “kualitas” dan status (perawan /janda) dari perempuan.

Latar belakang terjadinya Kawin Kontrak
Seperti ”lazim” terjadi di negeri ini,  bahwa pembangunan tanpa didahului oleh proses sosial untuk menyiapkan masyarakat. Laju arus industrialisasi kadang dengan garang menggerus ketidaksiapan masyarakat sekitar untuk menjadi tumbal atas nama pembangunan. Perluasan kawasan Industri Rungkut (SIER) Surabaya dengan lokasi dikecamatan Rembang Pasuruan (PIER) membawa perubahan sosial-ekonomi masyarakatnya dengan cepat. Namun proses ini akan pula mengundang dampak sosial lain, dan penangganannya juga memerlukan pendekatan yang intensif dan terencana.

Mulai awal pembangunan kawasan industri PIER maka berdatangan ribuan orang tenaga kerja, mulai konsultan, kontraktor, pekerja proyek, dll. Keberadaan mereka tentu merupakan sebuah potensi ekonomi bagi masyarakat setempat. Karena sebagian besar para tenaga adalah pendatang dari luar kota maka hal ini merupakan salah satu demand untuk hadirnya ”wisata sexual” dengan segala macam bentuknya. Fenomena Kawin kontrak yang terjadi didesa Kalisat adalah salah satu yang bisa kita amati.

Kondisi desa ini memang memprihatinkan, kondisi infrastruktur dan kemiskinan adalah hal nyata yang bisa kita temukan disesa ini, meskipun waktu sekarang Pemda Kabupaten Pasuruan melakukan akselerasi pembangunan disegala bidang. Salah satu yang masih tertinggal adalah bidang pendidikan, masyarakat belum menjadikan hal yang dianggap penting dan utama. Mayoritas masih berfikir bahwa pendidikan agama satu-satunya yang penting. Karena kondisi ekonomi masyarakat menyebabkan kaum wanita hanya tamat madrasah, bahkan masih banyak yang tidak tamat. Masyarakat beranggapan anak-anak bisa membaca dan menulis sudah dirasa cukup, sehingga para gadis desa segera dinikahkan di bawah umur (16 tahun).

Faktor yang lain adalah kondisi ekonomi masyarakat yang umumnya miskin maka akan berpengaruh terhadap lahirnya  perkawinan kontrak. Para gadis desa Kalisat yang relatif masih muda terpaksa menikah/dinikahkan untuk tujuan klasik yaitu bisa mengurangi beban ekonomi keluarganya, bahkan diharapkan mereka akan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Pandangan umum wanita pelaku kawin kontrak ini adalah: dengan status pernikahan yang sah secara agama, berikut mendapatkan modal untuk usaha maka kebutuhan sehari-hari akan tercukupi. Soal suami mau menikah lagi atau kembali pada isteri tua (bagi yang sudah beristeri), mereka seakan tidak mau peduli, ”botolnya mau kemana saja tidak peduli asal kecapnya tetap menetes disini” ujar Mar, salah satu pelaku kawin kontrak.

Memang, sikap itu mungkin terasa ganjil dan menyesakkan dada bagi perempuan lain tapi perempuan di sini sudah siap dengan segala resiko sosial-ekonominya.  Alhamdulillah kabar dari teman yang melakukan pendampingan di Pasuruan bahwa sebagian masyarakatnya sudah sadar dan tergerak untuk merubah kondisi desanya. Peluang bekerja bagi para remajanya juga sudah semakin terbuka, ketika ketrampilan dam pendidikan sudah dimiliki maka menjadi pekerja di puluhan industri dikawasan PIER di kecamatan Rembang atau  industri konveksi di kecamatan Bangil bisa menjadi pilihan. (Sha 5 W).

Yunan Shalimow

About the Author

Yunan Shalimow

Sahabat terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, semoga bisa memperkuat tali persahabatan online/offline kita. Blog ini Adalah Waqaf Onlineku Untuk Semua... Bagiku menjadi blogger adalah panggilan jiwa untuk membuka ruang bagi saujana..... Hidup Untuk Memberi; Berilmu Amaliyah, Beramal Ilahiyah, Memberi Merupakan Puncak Kebahagiaan...

Leave a Comment:

All fields with “*” are required

Leave a Comment:

All fields with “*” are required