Sang Waktu, Kecongkakan Atas Nama Tuhan

jurigenKemarin siang aku harus operasi kecil untuk mengangkat ”daging tumbuh” di salah satu bagian tubuhku. Dampaknya adalah  aku harus lewatkan beberapa waktu dengan ritual meringgis menahan sakit. Kontak dari beberapa teman untuk mengajak gabung acara tertentu terpaksa aku tolak dengan sopan. Akhirnya waktu hanya aku isi dengan menorehkan pena, untuk menulis artikel ini.

Waktu adalah pengawal abadi eksistensi manusia, dia berupa garis lurus dan memanjang ke depan, dan mempunyai watak yang khusus. Ia nihil dari rekayasa, campur tangan, cawe-cawe manusia. Ia konsisten berjalan dijalurnya meskipun tanpa ada yang menghiraukan, termasuk pekikan suara cerewet 10 milyar manusia. Waktu tidak pernah mengatur-atur manusia untuk melakukan sesuatu. Justru manusialah yang wajib belajar untuk mampu menaklukkan sang waktu. Manusia memang berada dalam putaran angkuh sang waktu.

Hanya Tuhanlah yang bisa menundukkan kecongkakan sang waktu, karena dia sebagai manivest dariNYA. Kita tentu masih ingat kisah ”jadul” ketika Rasulullah SAW difasilitasi oleh Allah untuk Isra’ dan Mi’raj sampai menembus langit ketujuh (sidrotul muntaha) untuk menerima WahyuNYA. Peristiwa ini adalah testimoni yang bermakna bahwa hanya yang dikehendari Sang Khaliq semata yang bisa menundukkan sang waktu.

Ilmuwan fisika termasyhur, Albert Einstein menorehkan karyanya yang spektakuler sepanjang zaman dengan teori relativitasnya. Teori dan rumus Einstein mempersyaratkan waktu sebagai variabel utama terjadinya segala sesuatu. Anda pernah menyaksikan beberapa film macam quantum leap, dll yang menegaskan bahwa waktu menjadi kunci untuk berada didunia ini, kita bisa masuk ke zaman Raja Fir’aun, masuk ke masa 1000 tahun akan datang bila bisa menundukkan kecongkakan sang waktu.

Semboyan salah satu tokoh klasik Quintus Fabius Maximus Verrucosus atau akrab kita sebut Fabius mengatakan. ”namun ketika saat yang tepat(waktu) itu sudah hadir, maka engkau harus berani memukul dengan keras, sebab jika tidak, maka keletihanmu menunggu akan sia-sia dan menguap begitu saja”. Fabius menegaskan bahwa manusia harus cerdik mensiasati hadirnya sang waktu dengan akurat mengambil keputusan pada masanya untuk mereguk kebenaran, dan kebajikan, untuk menikmati kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta segala variabel kesentosaan lainnya.

Untuk menghargai keberadaan sang waktu berikut sebuah alur untuk refleksi:
Anda coba bayangkan ada seseorang yang memberi anda pinjaman uang sejumlah RP 86.400 setiap paginya. Sebagai syaratnya semua uang itu harus digunakan. Pada setiap tengah malam orang tersebut akan menghapus sisa uang yang tidak anda gunakan selama sehari. Kira-kira apa yang akan anda lakukan? Tentu saja anda akan menghabiskan semua uang pinjaman itu bukan?.

Ternyata kita semua memiliki akon semacam itu yang bernama WAKTU. Setiap tengah malam akon akan diisi 86.400 detik. Pada malam hari berikutnya maka ia tidak memberikan waktu tambahan. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa tanpa kompromi dan negosiasi apapun. Jika anda tidak menggunakannya dengan baik maka kerugian akan menimpa anda, karena sang waktu terus berjalan tanpa disertai kesentosaan menyertainya.

Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang karena bording sudah ditutup..
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru ditolong dokter karena sakit jantungnya..
Agar tahu pentingnya waktu SEMILI DETIK, tanyakan pada sprinter yang harus berlatih keras untuk memperbaiki catatan pemecahan recordnya.

Nama-nama hari, bulan, atau tahun adalah simbol belaka, yang terpenting bagi manusia adalah mengisi simbol-simbol tersebut dengan substansi yang mempunyai makna positif dihadapan manusia, alam dan Sang khaliq. Waktu terus berputar pada porosnya menggerus simbol-simbol tersebut, kadang hadir sebagai sosok seram yang menakutkan, kadang hadar dengan kebahagiaan. Amal Ibadah anda tak akan tergerus oleh simbol-simbol sang waktu, karena Sang pencipta akan mengapresiasi pada saatnya nanti. Teruslah berbuat kebaikan didunia dan menyiapkan diri menyongsong hadirnya Sakaratul maut. (Sha 5 W).

Yunan Shalimow

About the Author

Yunan Shalimow

Sahabat terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, semoga bisa memperkuat tali persahabatan online/offline kita. Blog ini Adalah Waqaf Onlineku Untuk Semua... Bagiku menjadi blogger adalah panggilan jiwa untuk membuka ruang bagi saujana..... Hidup Untuk Memberi; Berilmu Amaliyah, Beramal Ilahiyah, Memberi Merupakan Puncak Kebahagiaan...

Leave a Comment:

All fields with “*” are required

Leave a Comment:

All fields with “*” are required

Pengen Buka Usaha di Rumah? Download Tips2nya di sini

x