Manusia memang mahluk sempurna, padanya dilengkapi oleh Tuhan dengan otak, hati, dan rasa. Menjadi keniscayaan kehidupan dunia ini bahwa sebagian manusia acapkali kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, sehingga terjerembab kedalam lembah yang mensejajarkan dirinya dengan binatang. Sebut saja tentang “kesetiaan”, sebagian manusia tadi tidak lebih baik dari kesetiaan yang dipertunjukkan oleh binatang, mau tahu?
Bagi yang belum tahu, maka disini ditegaskan bahwa seekor buaya jantan sepanjang sejarah hidupnya hanya sekali melakukan dan menikmati perkawinan dengan lawan jenisnya. Seberapa banyak betina yang datang pasca perkawinan tersebut tak akan mengoyahkan tahta kesetiannya.
Meskipun dianugrahi tubuh yang kuat, powerfull, juga dengan tangkurnya yang terkenal kegagahannya tidak menjadikannya mengumbar nafsu sexualnya secara murahan. Betina yang dikawininya memang terkadang melalui proses pendekatan, persaingan, yang memakan tenaga, namun disitulah keperkasaan ala binatang air ini.
Menurut penuturan salah seorang pawang buaya yang sudah mempunyai pengalaman puluhan tahun, bahwa buaya dikomunitasnya paling ramai adalah memperebutkan makan, namun setelah mendapatkan makan mereka akan diam, dan bisa juga bertahan berminggu-minggu tanpa makan kembali.
Buaya buntung diatas saya temui sewaktu ada perjalanan ke kota Medan, umurnya sudah belasan tahun. Menurut pawangnya buaya buntung ini sudah melakukan perkawinan, dan sudah lebih dari 5 tahun yang lalu dia masih menemukan kebuayaannya dengan tidak tergoda untuk menikmati buaya betina yang menggodanya.
Mungkin terinspirasi akan hal ini, sehingga pada adat betawi dikenal ada roti buaya sebagai simbol dari kesetiaan pasangan yang akan menikah. Menurut ajaran masyarakat Betawi, roti merupakan simbol kemampanan ekonomi. Sehingga roti buaya bermakana kesetiaan untuk mencapai kemakmuran bersama.







buntung oh buntung. Nice article. apa sekarang masih ada tuch buaya?
Keduaaaaaax…! hwhwhw…! Berarti buaya itu setia ya Mas? Lha terus kenapa lelaki hidung belang dan playboy dibilang lelaki buaya? Gak nyambung kan ya..????
Waaah..buaya jadi “korban salah ungkapan” dong?
betul bang.. yg gak setia tuh ‘buaya darat’.. kalo buaya air mah dari dulu emang udah setia euy..
Bener, saya pernah baca tuh kalo buaya jantan memang ber prilaku demikian
*iya nih sibuk banget mondar mandir jakarta-cirebon-bandung
Ada postingan lama yang hilang, kemaren ketemu di web arsip,
sekarang di posting kembali, sayang soalnya ada link teman2 disitu
Kunjungan balik mas. Kalo buaya darat gimana tuh.. apakah salah satu bentuk manusia ?? hehehehehe
New art: masih ada bos, diMedan sono, tx ya
Adrie: ya itu yang perlu ditelusur asal muasalnya
Nuh: iya kayaknya ya, makasih mas
Jodie: oh gitu ya mas, heheheheh
Dudi jaya: bisa aja bos, makasih komentarnya ya
Iya tuh mas, setubuh sama yang diatas. Kalau buaya darat gimana mas? Ditunggu kunjungan baliknya ya!
itukah buaya sejati yg berbaju merah ?
hehehe