Refleksi terhadap diri adalah hal yang penting dan telah menjadi kebutuhan manakala seseorang berkehendak untuk semakin mendewasakan diri dalam pola fikir, pola tidak, pola perilaku. Karena manusia adalah mahluk yang unik, karena masing-masing pribadi dapat dipastikan mempunyai kelebihan tertentu dan juga kekurangan tertentu maka bentuk refleksi diri yang dilakukan juga banyak variasinya. salah satunya adalah memahami filosofi hidup “Ojo Kebenthus Awang-Awang, Ojo Kesandung Dalan Roto”
“Ojo Kebenthus Awang-Awang, Ojo Kesandung Dalan Roto kurang lebih artinya janganlah (kepala) terbentur langit, janganlah (kaki) tersandung jalan yang rata” adalah rangkaian kata-kata yang berasal dari nasehat orang tua. Ketika mereka telah tiada maka nasehat tersebut senmakin bisa teresapi.
Bagaimanapun kondisinya orang tua merupakan segalanya dimuka bumi ini, merekalah yang menjadi sumber inspirasi, sumber kebahagiaan, sumber tauladan, dls. Karena semua manusia mempunyai orang tua (terkecuali: Adam, Hawa dan Isa), maka seyogyanya sebagai manusia yang diposisikan sebagai anak mampu nyecep (mereguk) makna filosofi nasehat-nasehat beliau.
Menurut saya makna filosofisnya nasehat “Ojo Kebenthus Awang-Awang, Ojo Kesandung Dalan Roto” adalah:
- Ojo (jangan) sebagai kata yang bermakna untuk selalu waspada, menjauhi, dan kehati-hatian yang penuh.
- Kebenthus sebagai kata yang bermakna terbentur merujuk pada kepala, sebuah organ yang mempunyai kedudukan paling tinggi dan cukup kental dengan kehormatan, kewibawaan, dll.
- Awang-awang sebagai kata yang bermakna langit atau udara yang posisinya tinggi, diatas, terlihat nyata namun tidak bisa dipegang.
- Kesandung sebagai kata yang bermakna tersandung, merujuk pada kaki yang melakukan sebuah perjalanan.
- Dalan roto sebagai kata yang bermakna jalan yang rata, yaitu sebuah tatanan kehidupan yang sarat norma, hukum, aturan, kebiasaan, budaya, dll.
Dari beberapa penjelasan makna dari masing-masing kata tersebut bisa dirangkai menjadi makna filosofi kehidupan:
- Untuk waspada, menjauhi, dan hati-hati dalam meraih kehidupan yang lebih baik, kedudukan tinggi, karena hal tersebut merupakan hal yang terlihat namun tidak bisa dipegang, abstrak, karena ada banyak factor multidimensi yang menentukannya.
- Untuk waspada, dan hati-hati dalam melakukan sebuah perjalanan meniti kehidupan ini, karena kehidupan ini terkonstruksi oleh norma, hukum, aturan, kebiasaan, budaya, dll. Kesemuanya itu akan menjadi panduan untuk melakukan atraksi, berakrobat dalam kosmik kehidupan dunia dan akhirat.
Saya sendiri tidak tahu berapa kali kalimat “Ojo Kebenthus Awang-Awang, Ojo Kesandung Dalan Roto” menyelinap diantara untaian nasehat beliau, hal ini mengisyaratkan betapa pentingnya maknanya dalam kehidupan saya (menurut hemat beliau). Sekarang setelah belasan tahun berlalu, setelah aku melewati pertarungan yang sengit dengan kehidupan ini maka maknanya semakin dalam saya rasakan.
Semua yang akan kita dapatkan adalah keridhoaan dari NYA yang diberikan menyertai usaha yang kita lakukan, demikian sebaliknya, kita jungkir balik, penuh aib, dst adalah karena buah perilaku, pola fikir kita sendiri.

I hope this was a very interesting post thanks for writing it
ya manut-manut, ojo kecemplung ning gelas kopi, ha ha
inspire bgt artikelnya…nice post
bangga sma budaya jawa yg pnuh pljaran ungga ungguh…
…
salam kenal
anisthoha
Thanks for remaind me Mas, day by day you become more and more wise ^_^
Lhoo saya malah baru tau pepatah ini mas :0
tapi ini pepatah yg bijaksana skeali… segala sesuatu meamang harus sesuai dengan Ridhonya
salam kenal mas…
mmhhh
menawi mekaten kita kedah sami waspada nggeh.. ampun grusah grusuh
salam saking jogja mas
Bagus artikelnya
Hmm jadi inget salah satu nasehat yang pernah saya denger “Ojo dumeh”
knapa selalu pake kata “Ojo” yaaa hehehehe
Nasihat orang tua maknanya sangat dalam, tak boleh diartikan secara letterliyk. Ini yang harus difahami oleh anak-anak atau adik2 era handphone dan laptop ( saya kok jadi tua ya).
Jika orangtua mengatakan ” ojo mangan ning ngarep lawang,mengko sing nglamar mbalik”, ada makna lain yaitu mengganggu orang yang akan lewat. he he he
Mantap pitutur luhurnya.
Salam dari nJombang
makasih atas komentar dan kunjungan rekan2 semua ya
iyo..oyo…,
aku manut wae lah…
sing penting ora tumindak olo..
filosopinya asik…………’
kok kebenthus,bukannya kebentur mas …
tapi dbalik smua oke kok … i like it
salam
benr2 …..insprtf
wahhh sya sendiri yng bukan org jwa …..hehehehe
slam yee….
makaci semua
ya saya hanya posting sekelumit nasehat ortu kita barangkali manfaat
Sebuah nasehat yang sederhana tetapi kompleks dalam filosofi kehidupan,…semoga 15% masyarakat Indonesia bisa membaca maksud dari kalimat2 Anda. Good think, good view.
“Ojo Kebenthus Awang-Awang, Ojo Kesandung Dalan Roto”
Kalo hidup kita udah dirasa enak, rejeki lancar jangan sampai menjadikan kita sombong trus lupa daratan. Karena semulus-mulusnya roda kehidupan, jika tidak waspada, kerikil kecil pun dapat menjatuhkan kita.
Selalu ingat, bahwa segala sesuatunya akan kembali kepadaNYA.