Selepas berkelahi dengan angkuhnya bangku kuliah di kota “agak dingin” Malang, aku sempat mencicipi dan berlabuh di beberapa kota seperti; Surabaya, Pasuruan, Kediri, Palembang, dan akhirnya di Ibukota Jakarta. Aku baru tersadar bahwa selain ibadah salah satu tujuan bekerja itu ternyata bukan untuk mencari makan tapi untuk mencari transport, he..he..he, benarkah demikian?
Karena masuk katagori sebagai “manusia kelas kampung” maka telah menghantarkan aku menekuni sebuah pekerjaan yang “tidak tetap”. Dan untuk memenuhi “nafsu nurani” maka aku harus memilih jenis pekerjaan yang berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Layaknya seorang DJ (dodolan jamu) maka akupun enjoy menikmati aktifitas: omong disana, omong disini, tips ini, trik itu, dst.
Merantau pada akhirnya menjadi sebuah pilihan terbaik, selain keharusan untuk mengemban beban kerja juga alih-alih sebagai salah satu ikhtiar untuk memaknai sebuah idiom “hijrah” yang pernah nasehatkan guru Madrasahku dulu. Karena bekerja diluar kota maka pada waktu-waktu tertentu mengharuskan aku merekat tali silaturahmi dengan pulang kampong, pulang kerumah orang tua, dll.
Untuk bisa sukses pulang kampung, memang haruslah dilalui dengan kecukupan ghirah dalam diri sehingga bisa menegasikan segala halangan dan rintangan. Meskipun hanya berbekal numpang teman, numpang truk pasir, naik motor butut, jalan kaki, namun dengan cengkir (kencenge pikir) maka yang ada hanya semangat “rawe-rawe rantas malang-malang putung”.
Setelah beberapa tahun terakhir bekerja di Ibukota Jakarta, namun aku seolah belum bisa meninggalkan ritual untuk sesering mungkin mengunjungi keluarga di Lamongan, Surabaya, dan Malang. Dengan waktu libur yang sempit Sabtu dan Minggu, aku harus bisa memanfaatkanya dengan baik. Sarana yang paling sering saya gunakan, tak ayal lagi deretan gerbong baja kepunyaan PJKA yaitu kereta: Gajayana dan Gumarang.
Belasan tahun menjadi pekerja dikampung rantau, maka aku dimohon dengan sopan untuk menjawab satu kalimat Tanya yang muncul dalam benakku “Haruskah Aku Setia Pada PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad)?.

ha ha, mantap mowwww …. asal jangan Berangkat Pagi Pulang Petang Penghasilan Pasa-Pasan ?!!! ha ha
PJKA??? Ada ada aja sob… hahaha…
Ace: Berangkat Pagi Pulang Petang Penghasilan Pasa-Pasan ini yang harus dihindari, hehehehe. tx bos
Rock: thanks ya kunjungannya
Selamat pagi mas shalimow…
yah… masih mending pulang jumat balik ahad, la Sarimin pulang jumat balik Sabtu…
resiko bekerja mencari nafkah
Tetap Semangat
saya fikir tentang kereta api. ternyata ada pengalaman menarik di dalamnya.. jawabannya “setia sementara” aja mas. nanti kalau ada pilihan lain, silahkan di lanjut ke yang baru..
Saya menjalaninya hampir 5 tahun mas ketika dinas di Merdeka Barat.
Ke Surabaya Jum’at, kembali ke Jakarta Mingggu malam,sampai Jakarta langsung ngacir ke kantor.
Kalau uangku berkotak-kotak sih beli apartmen saja ha ha ha.
Salam hangat dari Bhirawa
Mampirr… slm knal yaaa… please follow me and I’ll follow u, tq…
mungkin 1 hal yang membuat yos urung pergi merantau
yaitu ngga bisa jauh dari sosok seorang ibu…
mungkin klo besok dah punya istri baru pergi merantau, hehe
kenangan dan sekali-kalinya saya naek kereta, waktu dari JKT-Purworejo tahun 2005 lalu. sambil manggut-manggut karena ngantuk, di tas sudah siapkan Rp50 ribu recehan koin buat mas pengamen. tapi kayaknya tidur di KA gak pernah nymana ya, baru aja merem udah dateng pengamen lagi, tukang dagang lagi. sementara wanita yang ditunggu sebagai pendamping diperjalanan koq gak nongol2
nggak usah sampe setiap ahad deh, mas.
atau sekalian aja keluarganya diboyong ke jakarta.
ya ampun, itu kereta api mudah-mudahan bukan di negara kita ya, mas.
kayaknya sih bukan, tapi di india.
*merasa bagusan dikit ketimbang india deh*
Yah, semoga sukses yah.
Jangan menyerah, kerja apa saja lah yang penting halal, bermanfaat.
selama kita masih sehat, masih bisa berusaha, semangat terussss .
emang paling sulit rasanya harus ningalin ibu pergi jauh,,tapi kalau sudah punya pendamping baru kayaknya bisa pisah,,,hehehehe….
adakah pembukaan di pjka untuk lulusan sma/sederajat ????
terima kasih ats kunjungan dan komentar rekan semua
Hadi: saya nggak tahu ya, langsung ke situsnya aja
kereta sarana yang jauh dari kenyaman, apalagi yang ekonomi,, dah kebayang gmna sumpeknya, belm lagi kalo ngeliat “prestasi” anjloknya gerbong di bantalan rel yang udah pada ilang ,,,, tapi yang punya isi dompet pas2 an mau gak mau dech,,, hehhehe….. semoga aja dunia trasportasi di negri ini makin baik dan gak ada lagi..
lam kenal mas,, tulisan nya sangat menarik ……
bagaimana menderitannya ya harus saling tumpang seperti itu , tidak nyaman sekali, thx info………