Pembelajaran Kepedulian Dari Kanjeng Sunan Drajat: Ajaran Catur Piwulang

August 18, 2010

Kepedulian bersifat universal, dan hanya dipunyai mahluk yang bernama manusia, karena memiliki sifat “peduli” tersebut maka mahluk tersebut layak disebut manusia. Kristalisasi dari pergulatan dan dinamika antara aspek: fikir, nurani, dan rasa ternyata banyak yang bisa kita tauladani dari para leluhur, salah satu diantaranya adalah ajaran Catur Piwulang dari Kanjeng Sunan Drajat.
Kanjeng Sunan Drajat dikenal semasa muda dengan sebutan Raden Qasim, Qosim, atau Kasim, nama lain yang pernah muncul seperti Sunan Mayang Madu, Sunan Mahmud, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat.

Sunan Drajat merupakan putra dari Sunan Ampel hasil pernikahan dengan Dewi Condrowati alias Nyi Ageng Manila.  Dari catatan secarah yang ada menunjukkan prestasi dakwah dengan model gerakan kultural begitu efektif dilakukan dan hasilnya yang mampu membawa perubahan social yang besar di bumi Indonesia.

Kanjeng Sunan Drajat menjelang usia dewasa, diperintahkan oleh ayahnya, Sunan Ampel, untuk melakukan dakwah di pesisir pantai barat Gresik. Sampai akhirnya terdampar disebuah kampung Jelak, Banjarwati (1485 Masehi). Kemudian menikah dengan Kemuning, salah seorang putri Mbah Mayang Madu. Beliau mendirikan surau, dan kemudian berkembang menjadi pesantren.

Jelak berkembang menjadi kampung Banjaranyar, tapi karena banjir maka beliau pindah tempat menuju selatan desa yaitu desa Drajat. Disinilah beliau kemudian mulai dipanggil dengan sebutan Sunan Drajat oleh para penduduk. Sunan menghabiskan hidupnya di Ndalem Duwur, hingga akhirnya wafat pada tahun 1522.

Kanjeng Sunan Drajat dikenal akan pengamalan kearifan dan kedermawanan, beliau mengajarkan  kaidah hidup untuk tidak saling menyakiti, baik melalui katakata maupun perbuatan. Petuahnya yang terkenal ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” artinya: jangan mendengarkan perkataan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.

Sunan Drajat menggunakan beberapa lima strategi dakwah dakwah bil-hikmah, antara lain yang khas dari beliau adalah melalui media kesenian tradisional tembang pangkur dengan iringan gending Jawa. Terbukti dengan cara ini beliau bisa lebih mudah melakukan aktifitas dakwahnya
Ada empat kata mutiara pesan kultural dari kanjeng Sunan Drajat yang mempunyai nilai filosofis yang tinggi dan patut ditauladani oleh anak bangsa, karena didalamnya sarat akan pembelajaran untuk mengembangkan kepedulian terhadap sesama manusia. Keempat pesan Catur piwulang dari Sunan Drajat tersebut antara lain:

  • Meneho teken marang wong kang wuto; berikanlah tongkat kepada orang yang buta,
  • Meneho mangan marang wong kang luwe; berikanlah makan kepada orang yang sedang kelaparan;
  • Meneho busono marang wong kang wudo; berikanlah pakaian kepada orang yang masih telanjang
  • Meneho ngiyup marang wong kang kudanan; berikanlah tempat berteduh kepada orang yang sedang kehujanan.

Dari catur piwulang kanjeng sunan drajat tersebut kita bisa menarik beberapa pelajaran penting akan sikap dan perilaku hidup yang terkandung didalamnya, antara lain:
1.    Kepedulian: sejatinya manusia diberikan kenikmatan oleh Allah dengan segala wujudnya baik materi maupun materi, seyogyanya hal tersebut untuk disyukuri dengan memberikan makna pada nikmat tersebut. Setinggi-tinggi nikmat adalah ketika karenanya bisa bermanfaat bagi makhluk yang lainnya.
Pada konteks manusia memang diciptakan dengan beragam jenis, kondisi, dst. Akan selalu ditemui manusia yang dalam keadaan menderita, miskin ;sandang, pangan, papan, dan kekurangan yang lainnya seperti informasi, pendidikan, moral, akhlak, dst.
Manusia yang berdaya, yang bisa menemukan sifat kemanusiaannya adalah manusia yang mampu menyerap ajaran keTuhanan dengan utuh. Sifat-sifat Tuhan yang pengasih, penyayang bisa diimplementasikan dalam kehidupan yang nyata. Jadi kepedulian adalah kebutuhan spiritual dari manusia yang mempunyai derajat keimanan dan ketaqwaan yang kuat.

2.    Memberi: Setelah kepedulian sudah menjadi pilihan jiwa-jiwa yang mempunyai keutuhan spiritual maka implementasi lanjutan adalah memberi. Memberi dalam konteks yang luas sesuai dengan kemampuan yang dimiliki kepada siapapun yang membutuhkan.

Memberikan sesuatu kepada yang membutuhkan ketiak sudah menjadi sebuah aktifitas sosial maka akan membangun pola kehidupan dunia yang harmoni. Manusia akan bertindak, berfikir sebagai kodrati manusia yang selalu mengedepankan harmoni.

Dua pelajaran sederhana yang bisa kita tarik dari catur piwulang sunan drajat tersebut semoga bisa semakin memgarahkan kita pada jalan yang lurus yaitu menjadi manusia yang peduli dan suka memberi. Sesungguhnya perilaku yang demikian akan membawa kita pada derajat kehidupan yang lebih baik.

Kanjeng Sunan Drajat wafat dan dikebumikan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Dekat dengan makam beliau saat ini telah terbangun sebuah museum yang menyimpan benda-benda peninggalan beliau khususnya di bidang kesenian. Apabila anda berkenan maka pada sampai saat ini peninggalan tersebut masih bisa dilihat dan dikunjungi oleh peziarah (wisatawan).

Yunan Shalimow

About the Author

Yunan Shalimow

Sahabat terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, semoga bisa memperkuat tali persahabatan online/offline kita. Blog ini Adalah Waqaf Onlineku Untuk Semua... Bagiku menjadi blogger adalah panggilan jiwa untuk membuka ruang bagi saujana..... Hidup Untuk Memberi; Berilmu Amaliyah, Beramal Ilahiyah, Memberi Merupakan Puncak Kebahagiaan...

Leave a Comment:

All fields with “*” are required

soeseyo soehadi

Asah jiwa (ngaji) ojo mung mocho ananging kudu ngerteni piwulang, maksud lan karepe,

Leave a Comment:

All fields with “*” are required