Seumur-umur aku hanya mengenal atau mendengar beberapa jenis sate (hot plate) yang populer antara lain: sate; ayam, sapi, kelinci, kerang, siput, kuda, bekicot, ular kobra. Ternyata ada menu kuliner yang rasanya “nendhank pol” yaitu sate gurita. Saat mendapat tawaran menu ini, saya berfikir sejenak “halal apa haram ya???”, untunglah aku ingat pelajaran fiqih waktu ngaji di Madrasah bahwa “semua yang ada di laut itu halal dimakan kecuali kapal selam” (wa ka ka kak….), Yess aku sangat siap melahap menu ini.
Pada tanggal 28-31 April 2007, aku dapat tugas dari kantor untuk melakukan Supervisi pelaksanaan program di propinsi Bengkulu, kebetulan waktu itu anggota TIM terdiri dari dua orang dari World Bank, seorang dari Bangda Depdagri, dan seorang dari Dep PU, serta seorang dari Pemda Propinsi. Salah satu lokasi tujuan adalah Kabupaten Kaur. Sebuah kabupaten baru, karena merupakan pemekaran dari kabupaten Seluma. Setelah diterima Bupati di pendopo yang masih sederhana kami berkunjung ke beberapa desa. Sekitar jam 13.30 WIB. pada tanggal 29 April 2007 rombongan menuju sebuah rumah makan yang cukup asri dipinggiran pantai kabupaten Kaur, senbagai menu andalan Resto ini adalah Sate Gurita.
Gurita (archaea otoiya), sebagaimana yang kita tahu mempunyai kaki-kaki yang banyak (tentakel) dan sangat kuat untuk menerkam mangsanya. Hewan ini sangat banyak diperairan Indonesia, tentunya pada ekosistem laut yang kondusif bagi kelangsungan hidupnya, salah satunya adalah diperairan kabupaten Kaur. Para nelayan umumnya menangkap hewan ini dengan jaring, meskipun ada pula yang menggunakan alat tangkap lainnya. Setelah dari nelayan umumnya dijual ke pasar seperti hasil laut lainnya.
Menurut pengakuan pemilik warung, awalnya sempat ragu menjadikan menu sate gurita sebagai andalan warungnya, selain karena belum populer cara memasak dagingnya juga perlu ketrampilan khusus. Melalui beberapa kali percobaan akhirnya didapat resep pengolahan gurami sehingga daging terasa empuk gurih, dan lezat rasanya. Daging setelah direbus dipotong kecil-kecil seperti lazimnya sate yang lain, dan ditusuk dengan lidi bambu. Daging hasil olahan warung ini memang mempunyai karakter tersendiri, dijamin bau amis khas laut sudah tidak tercium lagi, dan ini yang membuat warung ini semakin dikenal.
Untuk bumbu sate ini seperti lazimnya bumbu sate yang lain, dengan campuran kecap manis, kacang tanah yang gerus, bawang merah, bawang putih, jeruk nipis dan tentunya dengan garam dan cabe secukupnya. Setelah dipanggang matang dengan bumbu kecap cair, maka daging gurita menebar aroma yang harum, dan dengan kondisi yang masih panas langsung diluncurkan menuju bumbu kacangnya. Wo wow wow siap disantap nich.
Dengan nafsu syahwat yang sudah diubun-ubun, aku berdoa sejenak dan langsung melahap hidangan ini, kreeeez, wow enax gila. Rasanya seperti daging kelinci, gurih namun seratnya kuat dan kenyal. Bumbunya juga siip karena bumbu kacang-kecapnya mengigit karena balutan rasa asam jeruk nipis menjadikan semakin segar. Sepuluh menit kemudian 10 tuzuk sate ini sudah hilang ditelan angin……heheeheh. Saat itu saya membayangkan, andaikan warung ini jualan di food center Plaza-plaza di Jakarta tentunya popularitas kuliner ini semakin menanjak. (Sha 5 W)

Pertama mendengar “kita makan sate gurita” yg ada di benak Uekh…Uekh…Gutita???? tapi apalah daya tidak ada pilihan lain selain sate gurita karena kita diajak ke tempat makan khusus sate gurita, setelah pesanan datang saya mencoba ambil satu (dalam benak “wah kalau mun…kacau nih) pas di coba ternyata sumpah Uenak tenan ngk kalah sama sate ayam dan kelinci (untung pas diajak ngk nolak, klo nolak mo ngabisin kan jd malu)
hehehehehehehehe.
Gurita????? Ah ngeriiiii. KAlau “Bu Rita” gue mau
“semua yang ada di laut itu halal dimakan kecuali kapal selam”. Dan Putri Duyung? kalau putri duyung cara makannya beda dongggggg ….
Thanks pak Rival, tulisan ini semakin menjelaskan bahwa” SESUATU YANG AGAK MENJIJIKAN KADANG MENGANDUNG MISTERI KENIKMATAN”
untuk Rekan di NEWS, jangan gitu ntar Pak Rita Marah lho!!! hehehehe
Pak Ivan, saya stubuh POL dengan statement bapak, kapan makan putri duyungnya??
Sate gurita?????baru dengar jg ne…..kayakna enk tuh
Sebenarnya aq sendiri asli dari kab. kaur….tp belum prnah ngerasain sate gurita…sekedar informasi, didaerah kaur khususnya perairan pantai LINAU memang terdapat banyak sekali gurita……dan banyak sekali masyarakat sekitar yang menjual gurita baik dlm keadan basah maupun yang sudah dikeringkan hanya saja sebagian orang kurang menyukai gurita kering karena baunya yang kurang sedap……..!!
Buat amas Yunan terima kasih telah membuat postingan tentng kuliner kaur kalo bisa sering2 bkn postingan tntng kaur dong…..!!!!Satu lagi mas Kab.kaur bukan pemekaran dari seluma tapi dari Kab bengkulu selatan(BS) sama kayak seluma yg jg merpkn pemekrn dr BS.
oya mas..kira2 msih ingt g` ya nama warung na ya????
apakah gurita halal atau haram jika dimakan?
Waduh Sate Octopus ni !
Rendang Octopus ada ga ya ! Jdi Pgn Nyobain !
oh aku bangga indonesia,….yang berbagai macam kuliner….terkhusus untuk kab.kaur……,,,,dengan sate guritanya….
sate gurita???
ada lagi makanan khas kaur..,,
tapi yang nie kyaknya perlu dicoba…
pa lg aQ salh satu penduduk asli kab.kaur…
sekalian promosi..kaur memang memiliki banyak potensi d bidang kuliner…
makasih y mas Yunan dah mw mengenalkan kulier kab.kaur..
salam kenal, mas yunan
Kalau ada mau minta no.kontak warung gurita atau mungkin penangkap guritanya
Thanks….
Bang alamat ste guritanya di mana nich…mumpung ane lg dibengkulu nich…bikin ngileer…benar..thank’s sebelumnya
Kayanya sih enak mas kalau itu, rasanya pasti kaya cumi ya mas, he..he
good..good…good..
Makaci semua untuk komentarnya, gurita halal karena semua yang dilaut halal dimakan kecuali kapal selam, hehehehe. Si punya warung kayaknya punya resep ngolah sehingga gurita tidak keras, tengaraiku difresto dulu baru dibakar.
mksih y kak Yunan dah mw mengenalkan kulier kab.kaur……………….!!