Rasanya sangat menyenangkan dapat melakukan seruan ajaran kebajikan untuk menyempatkan melakukan aktifitas silaturahim dengan siapapun. Untuk kali yang kedua ketika berada di Yogyakarta, saya sowan ke rumah mbah Maridjan yang terletak dikaki Gunung Merapi Yogyakarta. Saya hanya terobsesi untuk mendengarkan kata-katanya yang sederhana namun bernuansa ajaran sufi yang cukup dalam.
Beberapa bulan silam ketika melakukan kunjungan kerja ke Yogyakarta, dan dekat dengan kaki Merapi maka untuk pertama kali menyempatkan diri bersilaturahim dengan mbah Maridjan. Karena saat itu mbah Maridjan sedang menerima rombongan tamu sejumlah dua bis dari Surabaya, sehingga belum sempat berbincang agak lama. Namun beberapa tutur katanya yang “sangat sederhana” membuat aku merindunya untuk mengulang di lain kesempatan.
Beberapa waktu silam ketika ada acara pelatihan di Kaliurang Yogyakarta, maka semakin mempertebal nafsu silaturahim pada “sesepuh” yang satu ini. Suatu sore dengan 3 rekan kami meluncur menuju kediaman mbah maridjan. Ditengah jalan hujan lebatpun menguyur dari kaki langit. Dasar sudad niat, dengan segala resiko, mobil dengan hanya dua roda pengerak terus merayap menyusuri kaki Merapi. Pandangan matapun terbatas, namun akhirnya sampai juga dikediaman beliau.
Syukurlah pengalaman tinggal 2 tahun di Kediri cukup membuat bahasa kromo madya/inggil saya terlatih, maklumlah saya kelahiran pesisir pantura sehingga identik dengan bahasa Jawa ngoko. Perbincangan dengan mbah Maridjan begitu gayeng kami lakukan, mula dari tema tentang hidup, amanah, popularitas, dan ibadah. Siapapun tahu latar mbah Maridjan adalah kultur Jawa yang kuat (kejawen), sehingga pemahaman Islam beliau sungguh berwarna ajaran luhur Jawa.
Yang paling menarik bagi saya adalah pada saat beliau bertutur tentang prinsip-prinsip hidup yang diletakkan pada pondasi yang sederhana namun syarat akan nilai-nilai universal. Menjadikan diri untuk bersabar dalam merawat sikap, sifat, perilaku yang jujur, adil, amanah, seakan diberi garis tebal oleh mbah Maridjan dengan gaya bertuturnya yang khas. Bagaimanapun, dimanapun, kapanpun, nilai-nilai itulah yang memberi warna kehidupan.
Perbincangan bergeser pada bagaimana seorang mbah Maridjan dalam memaknai akan “amanah”. Dedikasi yang optimum, sampai titik darah penghabisan dipertaruhkan untuk menjaga sebuah amanah. Beliau adalah abdi dalem yang hanya bergaji Rp. 5.000.- setiap bulannya. Namun kebanggan dan tetap amanah menerima tugas untuk menjaga panji-panji kerajaan dari Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX. Sebuah tombak dengan dua payung sebagai simbol amanah dari raja akan dijaganya sampai beliau wafat, itulah menjadi komitmen mbah Maridjan dalam memgeng amanah.
Tentang popularitas, seluruh Indonesia mungkin sudah mengenal sosok beliau karena hampir setiap hari iklannya ditelevisi muncul, belum lagi yang ada di balihoo, spanduk, biskota, dll. Namun semua ini ditegaskan bukan menjadi tujuan hidupnya, dan tidak sedikitpun kebanggan atas popularitas yang diterimanya. Bagi mbah Maridjan hidup untuk mencari popularitas itu salah besar dan akan menjerumuskan diri sendiri, layaknya ajaran sufi bahwa adalah “haram” menjadikan hidup kita sebagai abdi popularitas. Diluaran popularitas banyak dikejar Marusia untuk menaikan status social, ekonomi, politik, namun namun tidak disertai dengan amanah sehingga banyak yang terjerembab oleh hal yang dikejarnya.
Pelajaran mulia lain yang didapat pasca penuturan mengenai popularitas dari mbah Maridjan dan perlu untuk diketahui publik adalah: jumlah uang, peruntukan dari honornya menjadi bintang iklan tersebut tidak pernah diketahuinya. Beliau bersedia difoto untuk iklan dengan konsesnsus bahwa uangnya adalah bukan untuk diri tapi untuk comunitas warga kampungnya. Sebuah musholah, jalan Lampung, plengsengan sekitar perkampungan memang nampak bagus kondisinya, dan tidak lain semua ini dari uang mbah Maridjan.
Mbah Maridjan tetap bersahaja dengan diri, prinsip dan lingkungannya, mungkin susah ditemukan padanannya seseorang yang melakukan hal serupa. Foto pada iklan tersebut baginya sudah menjadi pembelajaran diri yang cukup, akan segala konsekuensi, dampak dan lainnya.Untuk diketahui bersama bahwa mbah Maridjan sangat menolak untuk difoto oleh para tamunya, meskipun foto iklannya bertebaran dimana-mana. Penolakan ini semakin kuat pasca “foto iklan” salah satu produk minuman. Mbah Maridjan benar-benar memanfaatkan ”popularitasnya” untuk kegiatan sosial komunitasnya.
Terima kasih mbah atas segala ilmu dan tauladannya. Demikian paparan traveling keliling nusantara kali ini.




mari cintai lingkungan kita dan mari membangun negeri bukan untuk mencari popularitas.
inspiratif mas
ko ga foto ama mbah maridjannya bang?
Wah, enaknya…Jalan2 terus ya pak
salam kenal.
Terharu membaca artikel ini, terkenang waktu dulu saya kerap kali ‘ngrusuhi; mbah Maridajn dengan menginap di rumahnya sebelum naik ke G. Merapi, malam2 menjelang pagi diisi dengan ngobrol tentang segala hal yang penuh makna.
Titip salam untuk Mbah bila berkunjung lagi….
salam kenal.
Terharu membaca artikel ini, terkenang waktu dulu saya kerap kali ‘ngrusuhi; mbah Maridjan dengan menginap di rumahnya sebelum naik ke G. Merapi, malam2 menjelang pagi diisi dengan ngobrol tentang segala hal yang penuh makna.
Titip salam untuk Mbah bila berkunjung lagi….
semoga beliau sehat slalu…
wah mbah marijan yang roso-roso itu ya mas,
ya ampun gajinya kecil amat ya goceng sebulan
maturnuwun mbah maridjan, walaupun belum sempet sowan tapi RASA-ne udah nyampe duluan. Makasih juga jg buat juragan Shalimouw
kapan – kapan maen dong ke gunung krakatau…:)
terima kasih untuk para bos atas kunjungan dan komentarnya ya
asi neh ke Merapi, ketemu mak lampir g om?
Pinjam gambar om, http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/mbah-maridjan-perlawanan-dari-kaki-merapi.html