Puasa Ramadhan pada sepuluh hari yang kedua saya pergunakan untuk acara traveling saya di pulau Sulawesi, ali ini fokus untuk mengunjungi Kota Palopo. Ya memang saya traveling ini untuk sebuah tugas dari kantor, namun seperti biasa disela-sela waktu luanngya saya akan optimalkan untuk belajar sosial budaya masyarakat setempat dengan mengunjungi beberapa situs pentingnya.
Dengan durasi traveling selama lima hari maka obsesi pribadi langsung muncul dibenak saya: pertama, saya ingin melakukan ibadah sholat wajib dan tarawih di masjid Tua Palopo yang konon merupakan masjid Kerajaan Luwu. Kedua; saya ingin ngeblog dari daerah ini, mungkin menulis beberapa artikel untuk beberapa blog yang saya kelola. Kedua obsesi ini tentu tidak boleh menghalanggi pelaksanaan tugas pekerjaan karena itu juga sebuah amanah yang harus diemban.
Sudah menjadi kebiasaan saya, disetiap tempat yang saya kunjungi adalah memperbanyak sholat dibanyak masjid/musholah, bukan apa-apa sih, hanya merasa nyaman saja sebagai bekal perjalanan. Dan di Palopo saya akan pastikan Isya Allah bisa mengunjungi Masjid Tua Palopo. Masjid ini didirikan oleh Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M.
Obsesi saya tersebut rasanya bersesuaian dengan kepercayaan sebagian orang yang datang ke Kota Palopo, dikatakan belum resmi menginjakkan kaki apabila belum menyentuh tiang utama dari Masjid Tua Palopo ini. Tiang ini dibuat dari pohon Cinaduri, sedang dinding tembok masjid menggunakan campuran bahan dengan putih telur. Arsitektur dari masjid Tua Palopo memang cukup unik karena mengadopsi empat unsur bersebati (melekat) dalam konstruksi masjid, yaitu unsur Bugis, Jawa, Hindu dan Islam.
Kalau tidak ada aral dan waktu memungkinkan maka mengunjungi istana Raja Luwu patut juga diagendakan. Melihat secara langsung khasanah kekayaan budaya Nusantara dari tanah Luwu rasanya sebuah oleh-oleh yang tidak akan terlupakan. Daerah ini begitu bersejarah dengan peristiwa yang sangat tenar yaitu pembantaian yang dilakukan oleh Westerling di bumi Sulawesi.
Seusai sholat subuh, berkemas menuju cengkareng, perjalanan agak tersendat, maklumlah hari senin memang Jakarta selalu demikian. Sesampai di Bandara, sambil menunggu penerbangan saya sempatkan menulis beberapa bagian dari artikel ini. Tepat jam 08.00 WIB, petugas mengumumkan untuk segera memasuki pesawat. Alhamdulillah tepat pukul 08.30 Pesawat Garuda take off menuju Makassar. OK dilanjut dengan artikel lainnya kemudia ya.
Terima kasih


masjid tuanya mengingatkanku pada masjid agung demak di kota ku…
Saya sangat suka informasi ini karena inilah yg tepat saya butuhkan, sangat detail dan gaya penulisannya mudah dimengerti.
Sukses selalu dan salam kenal.
Pushchair Baby
Senangnya bisa menjelajah pelosok tanah air.
saya baru sampai MKakasar saja mas.
Terima kasih artikelnya yang menarik
salam hangat dari Surabaya
ditunggu cerita dari Masjid Tua Palopo..
Manemunjeng itu nama desa atau kampung dan termasuk kecamatan mana, kabupaten mana, propinsi mana
silakan berikan jawaban anda pada pertanyaan yang saya ajukan tadi
Very significant article for us, I think the representation of this article is actually superb one. This is my first visit to your site.