Untuk mewujudkan pembangunan berkeberlanjutan (suistainanble development) maka pengarusutamaan (mainstream) aspek partisipasi dan gender menjadi keniscayaan. Bapak Dulmanap sebagai salah seorang ketua RT di desa Pacul Gowang mempunyai pengalaman unik seputar tema ini, khususnya mengenai dilema pengambilan keputusan yang partisipatif: Polisi Tidur Versus Polwan Mlumah.
Karena sudah mengikuti pelatihan perencanaan pembangunan partisipatif dan coaching tentang gender dalam pembangunan yang telah dilakukan didesanya, maka Dulmanap masih dihinggapi rasa gamang, antara konsep, yang diterima dengan realitas sosial yang ada masih ada jurang yang mengaggah. Namun hal ini disikapi Dulmanaf dengan berhati-hati, dan selalu berusaha arif dalam mengambil keputusan.
Untuk mewujudkan rencana pembagunan jalan kampung yang ada di RT-nya maka Dulmanap mengundang bapak sekalian Ibu pada masing-masing Keluarga untuk rapat RT. Hal ini adalah pengamalan dari ilmu yang didapatnya dari Untuk mengamalkan dari coaching gender yang berpesan bahwa perempuan mempunya hak dan peran yang setara dengan pria sehingga perlu dibuka ruang partisipasinya utamanya dalam pengambilan keputusan.
Tentang panitia, anggaran dana, usulan teknis dan keswadayaan warga tidak menjadi bahasan krusial. Perdebatan sengit justru pada perlu tidaknya dipasang polisi tidur dibeberapa bagian jalan kampung. Mayoritas bapak-bapak tidak setuju dengan polisi tidur karena kurang nyaman untuk pengendara yang lewat. Pendapat ini didukung beberapa ibu-ibu yang baru mengalami kehamilan karena merasa khawatir dengan goncangan motor waktu melewati polisi tidur.
Disisi yang lain mayoritas ibu-ibu menghendaki dipasang polisi tidur dengan alasan supaya para pengendara motor tidak ngebut, karena hal ini Sangay berbahaya bagi anak kecil. Salah satu yang kuat berpendapat adalah ibu Bargowo: ”kalo tidak dipasang pak, maka ibu-ibulah yang paling khawatir tentang keselamatan anak-anak, karena kami yang dirumah sedangkan bapak bekerja. Jadi mohon dimaklumi polisi tidur adalah kebutuhan kami para perempuan.
Dulmanap, selaku ketua RT dan sekaligus pimpinan rapat dibuat pusing dengan hal ini, karena perdebatan tidak kunjung menemukan solusi. Mewadahi aspirasi perempuan baginya masih menjadi obsesi rasional untuk diwujudkan seperti yang diterima dalam coaching gender. Tapi pendapat yang lain juga tidak kalah aspiratif dan rasional juga.
Di tengah sengitnya perdebatan tersebut, SUEP salah seorang warga yang notabene adalah penjual pangsit mie mengajukan pendapatnya. Dengan berdiri dari kursi tempat duduknya serta berlagak seperti juru damai dari kedua belah pihak: ”saya usul pak RT”, ”Ok silahkan pak SUEP, mohon bapak-ibu mendengarkan!, mungkin ada jalan tengan dari pendapat pak SUEP” : tukas pak RT Dulmanap.
”dari pada berdebat tentang polisi tidur, ada yang bilang baik, ada yang bilang tidak baik, saya jadi pusing sendiri. Kalau saya usulnya kongkrit saja. Kenapa kita kok tidak melirik alternatif yang lain?” : kata SUEP dengan tegas. ”yang kongkrit itu apa pak? tolong jelaskan” tanya Ibu Supinah. ”kenapa kita tidak menggunakan Polwan Mlumah saja bapak dan ibu sekalian!” : jelas SUEP kemudian. ”beberapa orang masih binggung, tapi beberapa peserta ha..ha.ha, he..he…he..” tertawa berbarengan.
Selanjutnya selaku pimpinan rapat Dulmanap bertanya: ”maksudnya apa Polwan Mlumah itu pak SUEP?”. ”begini pak, kalo polisi tidur itu kan gundukkan yang tonjolannya kalo kita lewati, terasa hnyuuuut….jenduuul, tapi kalau Polwan Mlumah pak, sebaliknya berupa cekungan agak lebar, tapi lubangnya menghadap ke atas pak, jadi kalo saya dengan gerobak saya lewat kira-kira rasanya jeendul trus baru hnyuuuut, rasanya lebih asyik pak RT kalo menaikki Polwan Mlumah, he..he…heeh.”.
Menerima usulan dari SUEP tentang Polwan Mlumah menjadikan pimpinan rapat Dulmanap semakin pusing, “gimana bapak dan ibu sekalian atas usulan pak SUEP?, kalo saya terus terang ngikut saja pendapat warga”. Suasana rapat selanjutnya agak gaduh karena warga saling berembug, ”walah sampean iku iso-iso wae cak SUEP, dasar otake sampean agak Ngeres!!!” imbuh bu Bargowo dengan sewoot. SUEP hanya cengar-cengir tanpa dosa menerima respons beberapa tetangganya yang pro dan kontra (Sha 5 W).


konkret ae mas, aku ikut idenya SUEP!!
hahaha
bagus bagus
Ya aku ngikut SUEP juga deh, BTW salam kenal ya
Hehee. Siip dahh. Salam kenal Mas…
hahahah boleh juga tuhhh
ngomong2 soal polisi tidur, kalau gundukannya terlalu tinggi namanya sudah bukan polisi tidur, tapi polisi nungging!
saya sampe ketawa ngakak pas temen saya yang motor bebek-nya diceperin lewat itu polisi nungging sambil nggerus semen
betul juga, polwan mlumah, pengganti polisi tidur
sip dah…linknya dari dulud ah ok lho
hehehe,,bagus uy,,heh,,
wahahahahahaha………..
aq ikut kamu deh…hahahahahah
ealaaah, pak suep bisa ajaaa..
ayo mas, jadi tukeran link gak??
alamat ini dah terpasang di blogroll blog saya
salam kenal aza…
Ha ha ha ha …. Suep …. kreatif dan menghibur.
YEEEE…bisa aja!!!
TOB! KOCAK!
wah istilah baru nih “Polwan Mlumah”
wakakakaka
berkunjung, sekalian kenalaaaaan…blognya bagussss
kunjungan baliiik… salam kenal bos!
Hicksss…Pa Suep kira-kira tampangnya kayak siapa ya ?
hehehe….Pak Suep…Pak Suep…
daripada ngomongin polisi tidur, mending tidur aja…Zzzzzzzzz…Zzzzzzzzzz, hehehehe
polisi tidur ataw Polwan Mlumah sama gag enaknya…
salam kenal ^-^
polisi tidur kebutuhan para perempuan…polwan mlumah kebutuhan laki-laki, trus gak ditanya kebutuhan dari setengah perempuan dan setengah laki-2
…hyeee shalimow…
…=)…
thanks untuk kunjungan, kritikan dan komentar teman-teman sekalian.
Wkakakak… Kyakny ku tau kenapa polisi tidur berupa tonjolan sedangkan polwan mlumah berupa cekungan.. Wkakakak bukannya ngeres lho
he.. he.. he.. bisa aja nih cerita..
sarimin mau polwan bikini!
1.Saya memang kurang setuju jika jalan umum diberi polisi tidur,kalau jalan dikompleks atau gang bolehlah.Namun juga jangan terlalu banyak agar kegiatan jendhal-jendhul tidak berlebihan.
2.Soal idenya SUEP,saya setuju banget,namun agar nama itu tidak terlalu tunjek poin,bagaimana kalau usul Suep kita wadahi,hanya istilahnya dirubah.Jika menurut SUEP namanya adalah Polwan Mlumah,maka saya usul untuk dihaluskan menjadi POL-1 Mlumah.Dengan penghalusan istilah itu,bisa dicegah terjadinya penangkapan terhadap SUEP karena dianggap”membuat tidak senang” pihak lain.Penghalusan ini sebenarnya mengadopsi dari penghalusan kata jaman orba dulu.Misalnya: miskin,diganti “kemungkinan hidup sederhana”, copet diganti”kemungkinan salah ambil”,kelaparan diganti”kemungkinan sedang tirakat”,bodoh diganti”kurang mengasah otak”
3.Salam dari pakdhe yang sedang mlumah di Surabaya.
Catatan Rudy: hehehe, tx ya mas komentarnya
Joddie: sekedar humor aja bos, tx ya
Sarimin: mau tho? disini aja dekat asrama Polwan nich, ehheeh
Abdul cholik: salam pak, heheh humor aja pak, tx ya
Bakalan terjadi perang antara manusia biasa dengan polisi yang tidur itu ya, salam D3pd ^_^…V chayoo
Waaaakaakaakak..
SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG
lucu juga yach humornya… ini ide bagus nie!!
wah yg menang ya polisi tidur…kan polisi.nya sakti…bisa sirep polwan…huahuahuahahahahahah