Berwisata di Perbatasan Papua New Guinea (PNG)

Dua tahun lalu aku sempat mengujungi Pulau Sabang, sebagai ujung Barat wilayah/pulau Indonesia, Bulan lalu aku melengkapinya. Alhamdulillah diizinkan oleh NYA mengunjungi batas timur wilayah Indonesia: Perbatasan Papua New Guinea. Ada beberapa hal yang istimewa, menarik, unik, untuk diketahui bagi anda yang belum pernah mengunjungi tempat ini. Saya akan berbagi untuk anda sekalian tentang traveling ini.

Negara Kesatuan Republik Indonesia bagian paling timur ditempati oleh Provinsi Papua yang terletak antara 130°45’00” BT sampai 141°48’00” BT dan antara 0°19’00”LS sampai 10°43’00” LS. Provinsi ini tak terbantahkan mempunyai potensi kekayaan alam yang luar biasa seperti produk tambang emas, tembaga, minyak bumi, gas alam dan lain-lain. Belum lagi areal hutannya yang hijau dan masih sangat luas.

Disela-sela kunjungan kerja ke kota Jayapura (22-27 Nopember 2010), maka saya menyempatkan diri suatu sore untuk mengunjungi daerah perbatasan Papua New Guinea. Daerah perbatasan ini berjarak sekitar 80 km dari pusat kota Jayapura, sedangkan jarak tempuh dengan kendaraan darat memakan waktu sekitar 1,5 jam. Kualitas jalan sangat bagus namun jalan cukup berkelok-kelok menembus kaki perbukitan.

Untuk mengunjungi obyek wisata ini akan sangat efektif bila menggunakan mobil pribadi anda/teman, namun bila tidak memungkinkan maka di kota Jayapura juga tersedia mobil- mobil sewaan yang keren abiiiz seperti Innova, Swift, Honda Jazz atau Suzuki SX4 X Over Mobil-mobil tersebut sengaja untuk disewakan lengkap dengan sopirnya, dengan tarif Rata-rata untuk satu jam harga Rp 300.000-400.000.

Saya kembali beruntung karena tidak harus mengeluarkan kocek dalam-dalam untuk menyewa kendaraan pribadi karena difasilitasi teamn yang bertugas di Jayapura. Luski Febrian, teman saya tersebut dengan setia menghantarkan perjalanan menikmati obyek wisata perbatasan ini. Bahkan sepanjang perjalanan seolah disambut oleh keperawanan alam Papua yang masih jelita dan menawan, dan tentu sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tempat wisata. wowowow

Salah satu kampung yang saya lewati adalah kampung Nafri.  Info yang menarik ditempat ini adalah anda harus mengendarai mobil super hati-hati, karena apabila menabrak babi atau anjing maka ganti rugi yang diminta bisa puluhan sampai ratusan juta. Karena mereka scara adat menghitung kerugian dengan proyeksi ke depan. Misalnya; Babi ini tahun depan punya anak 5 harga 1 babi Rp. 5 juta maka 5 x 5 juta harus anda keluarkan dalam-dalam dari kocek anda.

Ditengah perjalanan  ternyata tersaji sebuah pantai yang sangat menawaan, masih alami, lautnya biru, airnya berkilau, pasirnya putih….wowowwow alangkah potensialnya, tapi memang masih jarang manusia disini. Pantai yang indah tersebut nampak hanya dinikmati sepasang pemuda-pemudi saja yang sedang mabuk bahkan sakauw kasih sayang. Karena sayang untuk dilepaskan maka saya sempat berfoto juga beberapa jepretan.

Setelah itu perjalanan melewati sebuah jembatan yang membentang diatas sungai Tami,  kami menjumpai pos pertama di Muara Tami. Adabnya adalah kaca mobil harus dibuka, namun tak perlu menghentikan mobil. Mobil berjalan pelan, say hello saja cukup kepada penjaga, meskipun tentara merekapun bisa melambaikan tangan dengan ramah juga.

Kemudian sampailah kami disebuah pos penjaga perbatasan, yang didepannya terdapat 3 (tiga) buah helipad. Tidak jauh disana terlihat sebuah pasar perbatasan (istilah disana “kios”) yang ramai dikunjungi oleh orang PNG untuk membeli berbagai keperluan hidup. Kios akan ramai memuncak pada hari Jumat, Sabtu, Minggu dan hari Rabu. Sperti diketahui ternyata hari Rabu ada kapal yang merapat didesa Putung dari Vanimo. Kota Vanimo merupakan kota kecil yang terdekat di PNG.

Orang PNG membeli bahan kebutuhan pokok, seperti beras, gula, tepung, rokok, bahan sandang, barang elektronik, dll. Sebagian dari mereka membawa barang dengan menggunakan kereta dorong, mirip dengan kereta dorong untuk mengangkut bahan bangunan, sebagian dipanggul biasa. Para pedagang di kios umumnya berdagang di pasar Hamadi kota Jayapura, mereka menginap di kios saat hari ramai saja, dan kembali untuk berdagang di Hamadi. Para pedagang umumnya dan berasal dari Makassar.

Setelah melewati kios pasar tersebut maka saya mengayunkan langkah untuk masuk titik perbatasan. Disana sudah siap menyambut kedatangan kami yaitu dua Gerbang Selamat Datang dari masing-masing negara. Seolah tidak sabar maka sayapun berfoto untuk mengabadikan perjalanan ini. Beberapa kata yang tertulis di gerbang selamat datang menggunakan bahasa yang “aneh”, telusur punya telusur ternyata itu bahasa Inggris yang terpengaruh bahasa Fiji.

Daerah perbatasan ini dilengkapi dengan sebuah zona bebas yang hanya berjarak sekitar 10 meter, ada pagar pembatas setinggi 1, 5 meter. Konon area ini adalah tempat pertukaran sandera jika terjadi peperangan .Untuk anda yang melewati zona bebas ini dan memasuki wilayah PNG maka masih diizinkan, begitupula sebaliknya. Di daerah perbatasan dua negara ini, nampak suasana yang kaku. jadi seperti diwilayah sebuah negara saja. Masyarakat sekitar perbatasana bisa menyeberang dengan aman. Tentu suasana seperti ini akan berubah drastis manakala OPM beraksi, sehingga kawasan ini sepi dan tegang.

Di pasar perbatasan ini barang-barang yang dijual serba PNG, namun kualitas tidak begitu bagus juga. Yang bisa dipastikan adalah harga agak susah ditawar, meskipun penjualnya ramah, namun semua barang harganya serba bulat: Rp.25 ribu, Rp.50 ribu, Rp.100 ribu, Rp.150 ribu dst nya. Mata uang bisa menggunakan rupiah atau juga mata uang mereka disebut Kina, dan harga 1 Kina sekitar Rp.3000,-. Barang-barang yang dijual kalau di Jakarta kelas PKL mungkin harga yang layak hanya 1/6 atau 1/10 nya saja. Saya kurang tertarik dengan barang-barang yang mereka jual karena tidak ada yang unik dan khas.

Salah satu bangunan yang mengusik rasa ingin tahu saya adalah menara pengintai, yang dibangun sangat tinggi sehingga terkesan gagah. Dengan kibaran bendera merah putih diatasnya maka lengkap sudahlah simbol negara Indonesia diperbatasan ini. Selain pos jaga kedua negara, kantor imigrasi, dan rumah dinas para petugas perbatasan, maka areaa perbatasan ini terlihat sibuk dengan lalu lalang orang dari PNG ke Indonesia, atau sebaliknya.

Masyarakat dari dua negara tepatnya diperbatasan memang cukup banyak yang memiliki hubungan persaudaraan. Apalagi hubungan sosial ekonomi juga masih kuat, beberapa  penduduk PNG juga masih memiliki ladang di Papua, begitu pula sebaliknya.  Terpisahnya administrasi negara ternyata tidak menghalangi kekerabatan, persaudaraan terus terjalin. Semula saya membayangkan ada banyak tentara menjaga perbatasan dengan senjata laras panjanglengkap…ternyata yang saya temui sebuah area yang bebas dan ramah, semoga perdamaian terus mewarnai perbatasan ini.

Tanpa terasa hari sudah semakin sore, maka langkah kaki harus segera menjauhi kawasan ini karena batas waktu yang diberikan adalah sampai jam 16.00 WIT. Semoga persahabatan di perbatasan tetap menjadi realitas sepanjang sejarah. Terima kasih PNG seolah membalas ucapan “thank you for visiting PNG” seperti tulisan besar yang ada di gerbang bagian dalam.

Yunan Shalimow

About the Author

Yunan Shalimow

Sahabat terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, semoga bisa memperkuat tali persahabatan online/offline kita. Blog ini Adalah Waqaf Onlineku Untuk Semua... Bagiku menjadi blogger adalah panggilan jiwa untuk membuka ruang bagi saujana..... Hidup Untuk Memberi; Berilmu Amaliyah, Beramal Ilahiyah, Memberi Merupakan Puncak Kebahagiaan...

Leave a Comment:

All fields with “*” are required

Leave a Comment:

All fields with “*” are required